Riwayat Hidup St Fransiskus Asisi Bagian I


FA

PRAKATA

(daftar isi)

Riwavat hidup atau Legenda, (= buku yang diperuntukkan pembacaan). – I dan II St. Fransiskus dari Asisi karangan Tomas dari Celano, disingkat 1 dan 2 Cel(ano), bersama dengan wejangan S. Fransiskus dan Kisah Ketiga Sababat merupakan sumber-sumber primer bagi sejarah atau riwayat hidup St. Fransiskus dari Asisi.

Adapun Riwayat hidup I St. Fransiskus (atau 1 Celano) adalah biografi yang pertama-tama tentang S. Fransiskus, yang disusun oleh Tomas dari Celano. Tomas dari Celano diterima oleh St. Fransiskus sendiri setelah kembali dari Spanyol, dalam ordo saudara dina dalam tabun 1215. Mungkin Tomas dari Celano menghadiri pemakaman St. Fransiskus pada hari Minggu tanggal 4 Oktober 1226. Jelaslah ia menghadiri kanonisasi si Miskin dari Asisi pada tanggal 16 Juli 1228 di Asisi. Beberapa pekan sebelum atau segera sesudah kanonisasi itu, Tomas dari Celano ditugaskan oleh Sri Paus Gregorius IX, – yang sebagai kardinal Hugolinus menjadi pelindung St. Fransiskus serta ordonya dan pengagum pribadi St. Fransiskus, – untuk menyusun riwavat hidup si Miskin dari Asisi.

Tomas dari Celano mendapat kepercayaan itu, karena ia berpendidikan tinggi, penyair, pengkhotbah dan cakap untuk menilai dan meneliti fakta-fakta yang disaksikannya sendiri atau yang dikemukakan saksi-saksi terpercaya. Ia mengenal St. Fransiskus dari dekat selama beberapa tahun (1215 – 1221) dan mengenal sahabat-sahabat karib St. Fransiskus yang memberikan kesaksian atau ditanyainya. Keterangan-keterangan lisan kiranya diperolehnva juga dari S. Klara serta suster-susternya di San Damiano, dari sdr. Elias, vikarius atau wakil sang Santo serta dari tokoh-tokoh kota Asisi seperti uskup Guido II.

Apakah baginya tersedia iuga sumber-sumber tertulis? Sudah pasti sebagian dari tulisan atau wejangan St. Fransiskus dikenal dan dipergunakannya juga, seperti A.D. sementara dan A.D. definitif, Wasiat, Gita Sang Surya, dan sebagainya, yang disinggung atau dikutip dalam karangannya. Bula-bula atau akta-akta kepausan mengenai ordo, tersedia pula. Mungkin sekali akta mengenai proses kanonisasi, digunakannya dalam jilid ketiga.

Mengenai wafat dan stigmata St. Fransiskus kiranya digunakannva pula surat edaran sdr. Elias perihal wafat St. Fransiskus.

Di luar itu sukar sekali dibuktikan, bahwa ada sumber-sumber tertulis lainnya yang digunakan oleh Tornas dari Celano. Karya-karva dari pengarang-pengarang lain, mesti ditanggalkan sesudah I Celano selesai. Tugas yang diberikan oleh Paus Gregorius IX itu diselesaikan Celano dalam tempo lebih kurang 6 bulan. Pada tanggal 25 Februari 1229 Riwayat hidup I telah mendapat persetujuan dan pengesahan dari pihak Paus Gregorius IX.

Adapun I Celano terdiri atas tiga bagian atau jilid. Jilid ertama mcnuat riwayat bidup St. Fransiskus, mulai masa mudanya hingga 25 Desember 1223. Urutan waktu tidak selalu dipegang teguh, khususnva antara tabun 1213 – 1219, karena penyajiannya lebih bercorak thematik mengenai keutamaan, sikap atau pandangan khusus St. Fransiskus. Disisipkannya pula beberapa mukzizat.

Jilid kedua mengikuti urutan kejadian mulai tahun 1224, dan menggambarkan secara singkat kejadian-kejadian dalam dua tahun terakhir hidup St. Fransiskus: hanya mengenai stigmatisasi, wafat dan pemakamannya diutarakannya secara agak panjang lebar. Tetapi disisipkannva pula kejadian-kejadian yang berlangsung sebelum tahun 1224. Jilid ketiga menyajikan proses kanonisasi dengan panjang lebar dan dibubuhi pula dengan mukzizat-mukzizat yang termasuk dalam akta kanonisasi.

1 Celano adalah salah satu hagiografi yang terbaik dan terindah dari Abad Pertengahan. Bahasanya rapi dan puitis. Karya Celano dibububi pula dengan kutipan atau singgungan karya-karva penyair, filsuf, theolog zaman kuno. Juga penuh dengan ayat-ayat Kitab Suci, yang kadang-kadang dikutip sebagian saja atau lepas dari konteksnya. Celano suka menggunakan gaya antithese, kontras, perumpamaan, permainan kata-kata, sentilan, asonansi ritmis dan lain-lain sebagainya. Gaya bahasanva kadang-kadang barok dan ada kalanya terlampau rhetoris.

Jangan diharapkan bahwa dalam 1 Celano kita mendapat hagiografi yang memenuhi tuntutan kritis-theoritis zaman modern. Sebaliknya, janganlah kita menuduh bahawa Celano memutar-balikkan fakta-fakta dengan sengaja. Celano menggunakan gaya dan kebebasan seorang penyair. Tetapi manakala fakta-fakta yang dikisahkan, Celano dikonfrontir dengan sumber-sumber lain yang tidak tergantung dari karyanya atau dengan arsip-arsip, maka ia tidak pernah dipergoki melakukan ketidak-tepatan. Yang jelas ialah bahwasanya dalam 1 Celano muncul gambaran St. Fransiskus yang mengenal suasana yang cocok dan selaras dengan apa yang disaksikan oleh para sababat dan murid si Miskin dari Asisi itu.

Kalau 1 Celano lebih berupa biografi atau hagiografi dalam artian biasa, maka 2 Celano lebih bercorak thematis, yakni mengenai keutamaan-keutamaan dan petuah-petuah St. Fransiskus. Dari 2 Celano hanya nomor-nomor yang sedikit banyak mengikuti urutan kronologis saja kami tambahkan sebagai bahan perbandingan dengan 1 Celano, khususnya mengenai masa muda Fransiskus: Jilid pertama no. 1 – 25, dan mengenai akhir hidupnya: Jilid kedua no. 210 – 210a.

Dengan ini kami memenuhi saran dari pelbagai pihak, untuk menerbitkan terjemahan Celano, justru karena Celano dianggap amat penting untuk mengenal St. Fransiskus dari Asisi.

Adapun terjemahan ini dikerjakan menurut terbitan kritis teks Latin, dengan melihat terjemahan Jerman oleh Engelbert Grau OFM dan terjemahan Belanda oleh Dr. Max Ster OFM. Seperti kedua penterjemah tersebut, kami pun tidak mencoba meniru bentuk, kesusasteraan atau gaya bahasa Celano, tetapi lebih mengutamakan isinya. Setiap terjemahan tentu mengandung tafsiran. Mudah-mudahan kami tidak salah tafsir. Kami bubuhi catatan-catatan yang kebanyakan kami ambil terjemahan Jerman.

Mudah-mudahan terjernahan ini membantu para pembaca yang budiman untuk mendekati pribadi St. Fransiskus dari Asisi.

Jakarta, 31 Januari 1979

Pater Wahjo OFM

KATA PENGANTAR

Dalam nama Tuhan. Amin.

Dimulailah kata pengantar Riwayat Hidup St. Fransiskus.

1. Dengan hormat dan bakti, tetapi dengan berpegang dan berpedoman pada kebenaran, hendak kukisahkan secara berturut-turut perihal perbuatan-perbuatan dan hidup bapak kita St. Fransiskus. Tetapi tiada seorangpun dapat mengingat semuanya yang telah diperrbuat dan diajarkannya. Karena itu, – atas perintah Sri Paus Gregorius[1], yang termulia, – aku berusaha menyajikan setidak-tidaknya apa yang telah kudengar dari mulutnya sendiri atau yang telah kuketahui dari saksi-saksi yang terpercaya dan teruji, seturut kemampuanku, meskipun dengan kata-kata seorang, yang kurang berpengalaman. Mudah-mudahan dalam hal ini aku ternyata sebagai murid sejati dari St Fransiskus, yang selalu menghindari kata-kata yang gelap dan tidak mengenal kata-kata vang muluk.

2. Adapun semuanya yang dapat kukumpulkan tentang orang kudus ini, kubagi dalam tiga jilid: dan tiap-tiap jilid kubagi lagi dalam beberapa pasal, agar urutan waktu jangan dikacaukan oleh keaneka-ragaman kejadian-kejadian dan oleh karenanya kebenarannya diragu-ragukan. Maka jilid pertama memegang teguh urutan historis dan terutama mengenai kemurnian[2] tingkah-laku dan hidupnya yang suci, keutamaan-keutamaan serta ajarannya yang bermanfaat. Di dalamnya diselipkan pula beberapa buah saja dari banyak mukzizat, yang Tuhan Allah kita telah sudi membuatnya dengan peraturannya, selagi ia hidup di dunia ini. Nah, jilid kedua mengisahkan apa yang terjadi dalam dua tahun terakhir hidupnya sampai dengan wafatnya yang bahagia. – Dan jilid ketiga memuat banyak mukzizat, – dengan tidak menyebutkan lebih banyak lagi, – yang dibuat Santo yang termulia ini di dunia, ketika ia telah bertakhta bersama Kristus di surga. Dan lagi mengenai hormat, pujian dan kemuliaan, yang diberikan kepadanya oleh Sri Paus Gregorius yang berbahagia bersama dengan semua kardinal Gereja Roma kudus dengan amat baktinya, yakni dengan mencantumkan namanya dalam daftar Para Kudus.

Syukur kepada Allah yang mahakuasa, yang selalu menunjukkan diriNya penuh keajaiban dan patut dicintai dalam orang-orang kudusnya.

Daftar isi:

KATA PENGANTAR.. 1

Daftar isi: 2

JILID PERTAMA. 4

Pasal I. Cara hidup dan semangat duniawinya, sebelum pertobatannya. 4

Pasal II. Bagaimana Allah mengunjungi hatinya melalui sakit badani dan penglihatan di malam hari. 5

Pasal III. Bagaimana ia berubah dalam batin tetapi tidak secara badaniah dan bagaimana ia berbicara dengan kiasan tentang harta yang diketemukan dan tentang mempelai. 7

Pasal IV. Bagaimana ia menjual segala-galanya dan menghinakan uang yang diperolehnya?. 8

Pasal V. Bagaimana ia dikejar-kejar dan dibelenggu ayahnya. 9

Pasal VI. Bagaimana ia dibebaskan ibunya dan menanggalkan pakaiannya di depan Uskup Asisi. 10

Pasal VII. Bagaimana ia disergap penyamun dan dilemparkan ke dalam salju dan bagaimana ia melayani orang kusta. 12

Pasal VIII. Bagaimana ia membangun kembafi gereja San Damiano; dan bagaimana cara hidup wanita-wanita yang tinggal di tempat itu. 13

Pasal IX. Bagaimana ia setelah berganti pakaian memperbaiki gereja St. Maria di Portiuncula; dan bagaimana ia setelah mendengar bacaan Injil lalu melepaskan sem uanya dan sampai kepada dan membuat jubah yang sekarang dipakai saudara-saudara. 15

Pasal X. Perihal penyiaran lnjil dan pewartaan damai; dan perihal pertobatan keenam saudara yang pertama. 16

Pasal XI. Perihal roh kenabian dan perihal petuah-petuah St. Fransiskus. 18

Pasal XII. Bagaimana ia mengirim saudara-saudara dua-dua ke dunia dan bagaimana mereka berkumpul kembali dalam tempo yang singkat 19

Pasal XIII. Bagaimana ia untuk pertama kalinya menulis Anggaran Dasar ketika dia mempunyai sebelas murid, dan bagaimana Sri Paus Innocentius III telah meneguhkannya; dan perihal penglihatan pohon  21

Pasal XIV. Perihal kembalinya dari Roma, singgahnya di lembah Spoleto dan lamanya dalam perjalanan  22

Pasal XV. Perihal nama harum St. Fransiskus dan perihal pertobatan banyak orang kepada Allah; dan bagaimana Ordo dinamakan Ordo Saudara Dina, dan bagaimana orang-orang yang masuk ordo dididik St. Fransiskus  23

Pasal XVI. Perihal tempat tinggalnya di Rivo Torto dan perihal pemeliharaan kemiskinan. 27

Pasal XVII. Bagaimana St. Fransiskus mengajar saudara-saudaranya berdoa; perihal ketaatan dan kemurnian saudara-saudara. 28

Pasal. XVIII. Perihal kereta berapi dan perihal pengetahuan St. Fransiskus tentang saudara-saudara yang tidak hadir 29

Pasal XIX. Bagaimana ia menjaga saudara-saudara; dan perihal penghinaan diri sendiri dan perihal kerendahan hati yang sejati 31

Pasal XX. Bagaimana ia karena keinginannya akan kemartiran mula-mula pergi ke Spanyol, kemudian ke Suriah; dan bagaimana para pelaut dilepaskan Allah dari bahaya karena dia, dengan perlipat-gandaan makanan  33

Pasal XXI. Perihal khotbah Fransiskus kepada burung-burung dan perihal ketaatan sekalian makhluk  35

Pasal XXII. Perihal khotbahnya di Askoli; dan bagaimana dengan benda-benda yang pernah dijamahnya orang-orang sakit disembuhkan, walaupun ia sendiri tidak hadir 37

Pasal XXIII. Bagaimana ia menyembuhkan orang lumpuh di Toskanelia dan orang yang kena pendarahan otak di Narni 39

Pasal XXIV. Bagaimana ia mengembalikan penglihatan seorang wanita yang buta dan menyembuhkan seorang wanita lain yang lumpuh tangannya di Gubbio. 40

Pasal XXV. Bagaimana ia membebaskan seorang saudara dari sakit ayan atau dari setan; dan bagaimana ia di San Gemini membebaskan orang yang kerasukan setan. 40

Pasal XXVI. Bagaimana ia mengusir setan juga di Citta di Castello. 41

Pasal XXVII. Perihal kecerlangan dan keteguhan hatinya dan perihal khotbahnya di hadapan Sri Paus Honorius; dan bagaimana ia mempercayakan dirinya sendiri serta saudara-saudaranya kepada paduka Hugo, uskup Ostia  42

Pasal XXVIII. Perihal jiwa cintakasihnya dan perihal perasaan belaksasihannya kepada orang-orang miskin; dan apa yang diperbuatnya terhadap domba dan anak domba. 45

Pasal XXIX. Perihal cintanya kepada segala makhluk demi Pencipta; dan perihal penggambaran manusia batiniah dan lahiriahnya. 47

Pasal XXX. Perihal palungan yang dibuatnya pada hari kelahiran Tuhan. 49

JILID KEDUA, No. 88 – 118. 52

Pasal I. Perihal jilid ini. Perihal waktu St. Fransiskus wafat dengan bahagia dan perihal kemajuan-kemajuannya dalam hal kesempurnaan. 52

Pasal II. Perihal keinginan tertinggi St. Fransiskus; dan bagaimana dengan membuka kitab Injil, ia mengenali kehendak Tuhan atas dirinya. 53

Pasal III. Perihal penglihatannya tentang orang berupa Serafin yang tersalib. 55

Pasal IV. Perihal semangat hangat St. Fransiskus dan perihal sakit matanya. 57

Pasal V. Bagaimana ia diterima di Rieti oleh paduka tuan Hugo, uskup Ostia; dan bagaimana sang Santo meramalkan, bahwa beliau kelak akan menjadi uskup seluruh dunia. 58

Pasal VI. Perihal keutamaan saudara-saudara yang melayani St. Fransiskus; dan bagaimana ia mengatur hidupnya sendiri 60

Pasal VII. Bagaimana ia pergi dari Siena ke Asisi; dan perihal gereja St. Maria dari Porciuncula dan perihal berkahnya kepada saudara-saudara. 62

Pasal VIII. Apa yang diperbuat dan dikatakan Fransiskus ketika ia wafat dengan bahagia. 64

Pasal IX. Ratapan para saudara dan sukacita mereka ketika mereka melihat tanda-tanda salib padanya; dan perihal sayap Serafin. 66

Pasal X. Ratapan para wanita di San Damiano; dan bagaimana ia dimakamkan dengan penuh kehormatan dan kemuliaan  69

JILID KETIGA.. 72

A. Kanonisasi St. Fransiskus. 72

B. Mukzizat-mukzizat St. Fransiskus. Dalam Nama Kristus Dimulaiah Mukzizat-Mukzizat Bapak Kita St. Fransiskus  78

I. Perihal penyembuhan orang-orang bercacat 78

II. Perihal orang buta yang mendapat penglihatan kembali. 80

III. Perihal orang-orang yang kerasukan setan. 81

IV. Perihal penyembuhan orang-orang yang sakit parah, orang yang sakit busung air, orang yang sakit lumpuh, orang yang sakit encok dan orang-orang sakit lainnya. 81

V. Perihal penyembuhan orang-orang kusta. 84

VI. Orang bisu berbicara, orang tuli mendengar. 84

Kata penutup. 86

JILID PERTAMA.

Akan pujian dan kemuliaan Allah yang mahakuasa, Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin .

Maka dimulailah Riwavat Hidup bapak kita St. Fransiskus.

Pasal I. Cara hidup dan semangat duniawinya, sebelum pertobatannya

1. Adalah seorang pria di kota Asisi, yang terletak di wilayah lembah Spoleto[3], bernama Fransiskus. Sejak masa kecil ia diasuh orang tuanya menurut patokan-patokan duniawi secara mewah. Dan karenanya ia lama mengikuti cara hidup dan tingkah laku malang orang tuanya, maka ia menjadi lebih hampa dan angkuh daripada mereka. Sebab kebiasaan amat buruk pada orang-orang, yang masih bernama kristen itu berjerfiit begitu kuat di mana-mana dan ajaran berbahaya itu berlaku bagaikan undang-undang umum begitu tetap di mana-mana, sehingga mereka berusaha mendidik anakanak teriampau bebas tanpa terkekang sedikit pun sejak dari dalam buaian. Dan segera setelah anak-anak mulai berkata-kata dan menggagap-gagap, maka anak-anak itu pertama-tama, meskipun masih menetek, diajari dengan gerak-gerik dan kata-kata, hal-hal yang kasar dan keji; dan bilamana waktu disapih tiba, maka anak-anak itu dipaksa bukan hanya untuk mengatakan, tetapi juga untuk melakukan hal-hal yang tidak patut dan tidak senonoh. Dan tiada.seorang pun dari antara mereka karena ketakutan akan orang tua berani berlaku sopan, sebab ia akan mendapat hukuman berat. Maka dengan tepatnya penyair kafir itu berkata: “Karena kita tumbuh di bawah 6rang tua, maka sejak kecil kita menjadi umpan kemalangan.” Ungkapan ini benar. Sebab semakin terpenuhilah keinginan orang tua terhadap anak-anaknya, semakin celakalah itu bagi anak-anak. Tetapi bilamana mereka menjadi lebih tua sedikit, maka karena dorongan .nafsunya sendiri, mereka jatuh kepada perbuatan-perbuatan yang lebih buruk lagi. Sebab dari akar yang bercacat hanya tumbuh pohon yang bercacat. Dan apa yang sudah sekali salah bentuk, tidak dapat dikembalikan tagi kepada bentuk yang layak. Nah, bilamana mereka mulai menginjak masa dewasa, pada hematmu menjadi apa gerangan mereka itu?

Tentu saja mereka diombang-ambingkan oleh setiap hawanafsu.

Justru karena mereka boleh melakukan apa yang mereka sukai, maka dengan segala daya-upaya mereka membuat dirinya menjadi budak kejahatan. Nah, bilamana mereka secara demikian dengan suka rela menjadi.budak dosa, maka segenap anggota tubuhnya mereka biarkan menjadi alat kelaliman. Dalam dirinya tiada sesuatupun yang menunjukkan corak kekristenan, baik dalam cara hidupnya maupun dalam tingkah lakunya; mereka hanya bernama kristen saja. Dan kebanyakan kali orang-orang celaka itu berlagak melakuan- hal-hal yang lebih jahat daripada yang sesungguhnya mereka lakukan. Jangan-jangan mereka akan lebih dihina, sekiranya mereka tampak kurang bersalah.

2. Di dalam lingkungan pendidikan yang celaka itu dibesarkanlah orang, yang kini kita hormati sebagai orang kudus ini, – yang memang sungguh kudus adanya; – sejak masa kecil sampai berumur lebih kurang duapuluh lima tahun ia menghabiskan dan menyia-nyiakan waktunya secara menyedihkan. Bahkan sialnya, dalam hal kesia-siaan ini lebih maju daripada orangorang yang sebaya dengannya; ia menjadi pelopor kegiatan-kegiatan yang kurang pantas dan penggerak yang terlampau rajin dari kegilaan-kegilaan itu. la dikagumi semua dan ia pun berusaha keras melebihi semua lainnya dalam hal suka pamer dan kemuliaan sia-sia, olok-olok, menarik perhatian, lelucon murah dan. omong kosong, nyanyian dan dalam hal berpakaian halus dan gemulai. :Sebab ia amat kaya, bukannya pelit tetapi pemboros bukan mengumpul harta tetapi penghambur uang, pedagang yang hati-hati tetapi suka mengeluarkan uang tanpa alasan. Namun ia adalah orang yang bertindak satria, terbuka dan ramah-tamah dalam pergaulan, sungguh pun tidak menguntungkan bagi dirinya sendiri. Justru karena itulah ia diikut banyak orang, yaitu penyorak-penyorak keganjilannya dan pendorong-pendorong kejahatan. Demikianlah ia sebagai pemimpin gerombolan orang-orang nakal, dengan congkak dan megahnya berjalan di jalan-jalan raya Babilonia, sampai Tuhan mengarahkan pandangan-Nya dari surga kepadanya dan demi Nama-Nya sendiri memalingkan murka-Nya daripadanya dan mengendalikan mulutnya, dengan membuatnya menjadi. alat untuk mewartakankemuliaan-Nya, agar ia jangan binasa sama sekali. Karena itulah yang Mahatinggi mengulurkan tangan kepadanya dan melaksanakan perubahan dalam dirinya, agar dengan perantaraannya para pendosa diberi kepercayaan lagi untuk mendambakan rahmat dan agar ia menjadi teladan bagi semua untuk bertobat kepada Allah.[4]

Pasal II. Bagaimana Allah mengunjungi hatinya melalui sakit badani dan penglihatan di malam hari.

3. Selagi pria itu dengan semangat mudanya menceburkan diri ke dalam dosa dan didorong kelincahan umurnya untuk memenuhi nafsu-nafsu kemudaannya, seakan-akan dirangsang bisa naga lama dan tidak tahu mengendalikan diri datanglah dengan sekonyong-konyong pembalasan dendam Allah atau lebih tepat rahmat Allah atasnya dan pertama-tama menyerbu inderanya, untuk memanggil dia kembali dari sesatan, dengan mendatangkan kegelisahan batin dan gangguan badan. Ini selaras dengan perkataan nabi: “Sesungguhnya Aku menyekat jalannya dengan duri-duri dan mendirikan pagar tembok mengurung dia.” Demikianiah, karena sakit lama,[5] – hal mana patut dirasakan orang, karena ketegaran hati. yang hanya dapat diperbaiki dengan hukuman, – maka remuk-redamlah hatinya. dan ia mulai berpikir lain dalam hatinya daripada biasanya. Ketika ia sudah agak sembuh dan untuk pemulihan kesehatannya berjalan kian kemari di rumah dengan bertongkat, maka pada suatu ha ri ia keluar rumah dan mulai melihat-lihat dengan penuh perhatian lingkungan di sekitarnya. Tetapi keelokan pandang, kepermainan kebun anggur dan apa saja yang indah pemandangannya, sama sekali tidak memikat hatinya. Ia heran atas perubahan mendadak mengenai dirinya itu; dan orang-orang yang menyukai kesemuannya itu dianggapnya bodoh.

4. Maka sejak hari ini ia mulai merasa dirinya tak berharga dan mulai menghinakan apa yang tadinya dikagumi dan dicintainya. Tetapi belum sepenuhnya dan sesungguhnya, karena ia belum terlepas dari belenggu kesia-siaan dan ia pun belum melemparkan beban perbudakan, itu dari atas pundaknya. Sebab amat beratlah meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama. Dan apabila sesuatu sudah berakar dalam jiwa. tidak mudah dicabut. Meskipun lama tidak diingat, namun jiwa kembali juga kepada apa yang pertama-tama dipelajari; dan kesalahan yang dilakukan terus-menerus, kebanyakan kali menjadi kodrat kedua. Maka dari itu Fransiskus masih saja mencoba menghindari tangan Tuhan. dan teguran kebapaan sebentar saja telah dilupakannya. Kemujuran tersenyum lagi kepadanya. Dan dia ingat kembali kepada apa yang disajikan dunia. Rencana Allah mengenai dirinya tidak diketahuinya. Ia masih saja berkeras hati hendak melakukan yang terbesar dari kemuliaan dan kesia-siaan duniawi. Nah, seorang bangsawan dari kota Asisi[6] tengah mengumpulkan pasukan yang bersenjata kuat. Dirasuki keinginan akan kemuliaan sia-sia dan nafsu untuk menambah harta dan kehormatan, maka orang itu bertekad bulat untuk pergi ke Apulia.[7] Mendengar hal itu, Fransiskus yang kurang pikir dan terlampau berani, bersepakat untuk pergi bersama dengannya, walaupun ia tidak setara dengannya mengenai asal-usul kebangsawanan, sedangkan dia melebihi dalam ketinggian hati. meskipun lebih miskin dalam harta, tetapi lebih boros dalam penghamburan uang.

5. Maka pada suatu malam, ketika seluruh pikirannya diarahkan untuk melaksanakan itu dan keinginannya yang hangat untuk melakukan perjalanan semakin menyala-nyala, datanglah Dia yang telah menderanya dengan cambuk kebenaran itu, mengunjunginya dalam penglihatan di malam hari dengan kepesonaan rahmat. Dan karena Fransiskus gila akan kemuliaan, maka ia dipikat dan dibangkitkan-Nya kepada puncak kemuliaan. Tampaklah oleh Fransiskus seluruh rumahnya penuh dengan perlengkapan senjata, yaitu dengan pelana, tameng, tombak dan alat-alat perang lainnya. Betul ia amat bergembira, namun penuh keheranan ia bertanya dalam hatinya dengan diam-diam, apa gerangan arti kesemuanya itu? Sebab tidak biasa dilihatnya alat-alat semacam itu di rumahnya, tetapi terlebih tumpukan kain lenan untuk dijual. Ketika ia tidak sedikit tertegun atas jalannya kejadian yang tiba-tiba itu, maka dijelaskan kepadanya, bahwa segala senjata itu diperuntukkan bagi dia serta pengikut-pengikutnya. Terjaga, ia bangun pagi-pagi dengan riang hati. Penglihatan itu dilihatnya sebagai alamat kemujuran besar, dan ia yakin bahwa perjalanannya ke Apulia akan berhasil baik. Ia kan tidak tahu apa artinya yang sesungguhnya; dan tugas yang diberikan kepadanya dari atas hingga saat itu, sama sekali tidak diketahuinya. Namun ia dapat menduga, bahwa tafsirnya mengenai penglihatan itu tidak tepat. Meskipun pengihatan itu bagaimanapun juga ada sangkut-pautnya dengan gerakan perang, namun sukacita atasnya, lain sekali rasanya. Sebab ia harus agak memaksa dirinya untuk melaksanakan rencananya dan untuk melakukan perjalanan yang sangat diinginkannya.

Dengan amat tepatnya pertama-tama disebutkan perihal senjata; dan penuh makna jugalah, bahwasanya senjata itu kemudian akan diserahkan kepada pejuang ulung, yang akan bertempur melawan yang disebut “orang kuat yang bersenjata lengkap”, untuk atas nama Tuhan Allah balatentara sebagai Daud yang kedua, membebaskan Israel dari penghinaan yang berurat-berakar oleh pihak musuh-musuhnya.

Pasal III. Bagaimana ia berubah dalam batin tetapi tidak secara badaniah dan bagaimana ia berbicara dengan kiasan tentang harta yang diketemukan dan tentang mempelai.

6. Setelah berubah dalam batin, tetapi tidak secara badaniah, maka ia, menolak ke Apulia. Ia berusaha menyelaraskan kehendaknya dengan kehendak Ilahi. Maka ia mengundurkan diri sejenak dari kesibukan duniawi dan dagang; dan ia berusaha keras untuk meresapkan Yesus Kristus dalam hatinya. Bagaikan pedagang yang arif ia menyembunyikan mutiara yang diketemukannya terhadap mata para pengolok-olok; dan dengan diam-diam ia berikhtiar memperolehnya dengan menjual segala-galanya. Adapun di kota Asisi ada seorang pria, yang lebih disayanginya daripada siapapun juga, karena ia sebaya dengannya. Hubungan mesra terus-menerus dan kasih sayang antara mereka berdua memberinya keberanian untuk membicarakan rahasia-rahasianya dengan dia. Sering kali dia dibawanya ke tempat terpencil, yang cocok untuk bertukar pikiran. Dinyatakannya, bahwa ia telah menemukan harta yang besar dan mulia. Teman itu amat bersukacita atasnya; dan penuh prihatin atas apa yang didengarnya dia dengan suka hati pergi bersama dengannya, setiap kali diminta. Di dekat kota ada sebuah goa. Seringkali mereka pergi ke sana dan membicarakan perihal hatta itu.

Lalu ham ba Allah itu, – memang ia adalah suci karena maksudnya yang suci, – masuk ke dalam goa, sementara temannya menunggu di luar. Dan dicurahi dengan roh yang baru dan istimewa Fransiskus berdoa dengan hangat kepada Bapa di tempat yang tersembunyi itu. Ia berkeras hati, jangan sampai seorang pun mengetahui apa yang dilakukannya dalam goa itu.

Dengan mengemukakan harta sebagai alasan, maka yang lebih baik disembunyikannya dengan arifnya; dan mengenai rencananya yang suci, ia mohon petunjuk kepada Allah semata-mata. Dengan penuh pasrah ia mohon, supaya Allah yang kekal dan benar menentukan arah jalan hidupnya, dan mengajarnya untuk menjalankan kehendak-Nya. Derita batin yang amat berat ditanggungnya dan ia tidak dapat menemukan ketenangan, sampai ia memenuhi dengan perbuatan apa yang direncanakannya dalam hatinya. Berbagai-bagai pikiran yang bertentangan satu sama lain timbul dalam hatinya dan karena tidak menentunya, sangat menggelisahkan hatinya. Dalam batin ia bernyala-nyala karena api liahi, dan pancaran nyala batiniah tidak dapat disembunyikannya. Ia menyesal, telah berbuat dosa begitu berat dan telah menghina mata hadirat Allah; dan dosa-dosa dimasa lampau dan dimasa sekarang sudah tidak membawa kenikmatan lagi kepadanya; tetapi ia belum sanggup menaruh kepercayaan akan dapat menahan itu dimasa yang akan datang. Karena itu jika ia keluar dan kembali lagi kepada temannya, maka ia begitu lelahnya, sehingga ia kelihatan lain bila ia masuk dan lain lagi bila ia keluar.

7. Pada.suatu hari, ketika ia dengan sepenuh hati memohon belaskasihan Tuhan, maka ditunjukkan Tuhan kepadanya apa yang harus diperbuatnya. Dan begitu besarlah sukacita yang memenuhi hatinya, sehingga karena sukacitanya ia tidak dapat menguasai dirinya dan meskipun tidak mau, ia toh membisikkan sedikit dari rahasianya ke dalam telinga orang-orang. Walaupun karena besarnya cintakasih yang dicurahkan ia tidak dapat diam, namun ia berbicara dengan hati-hati sekali dan bagaikan dalam teka-teki. Sebagaimana ia dengan teman karibnya, seperti telah dikatakan, hanya berbicara tentang harta terpendam, demikian pun ia mencoba berbicara kepada teman-teman yang lain dengan kiasan. Dinyatakannya, bahwa, ia tidak mau pergi ke Apulia, tetapi ia berjanji akan melakukan hal-hal yang mulia dan besar di kota kelahirannya sendiri. Orang-orang mengira, bahwa ia akan mengambil seorang isteri, lalu menanyakan kepadanya: “Engkau mau menikah, Fransiskus?” Jawabnya kepada mereka: “Memang, aku hendak mengambil mempelai yang lebih mulia dan lebih cantik daripada yang pernah kalian lihat dan yang melebihi semua lainnya dalam hal kecantikan dan kearifan.”

Adapun mempelai Allah tanpa cela ialah hidup keagamaan sejati yang dianutnya, dan harta terpendam itu ialah kerajaan surga, yang dicarinya dengan keinginan yang besar. Sebab sudah semestinyalah panggilan Injili terpenuhi seluruhnya dalam orang,yang akan menjadi pelayan Injil dalam iman dan kebenaran ini.

Pasal IV. Bagaimana ia menjual segala-galanya dan menghinakan uang yang diperolehnya?

8. Nah, dengan perasaan hati itu dan diperkuat oleh Roh Kudus, maka hamba Allah yang Mahatinggi yang berbahagia itu, ketika saatnya yang ditentukan telah tiba, mengikuti desakan hatinya, yang mendorong dia untuk menginjak-injak hal-hal duniawi dan mengusahakan hal-hal terbaik.

Selanjutnya ia tidak boleh menunda lebih lama lagi, sebab penyakit yang mematikan itu telah berjangkit begitu ke mana-mana dan menyerang segala persendian pada banyak orang, sehingga jika tabib datang sedikit terlambat, nafas kehidupan akan terputus dan hidup pun akan direnggut. Maka ia bangkit dan memperkuat diri dengan tanda salib suci. Setelah kuda dipelanai, ia naik ke atasnya, dengan membawa gulungan kain lenan untuk dijual, ia berkuda dengan bergegas-gegas ke kota yang bernama Foligno.[8] Di sana seperti biasanya dijualnya segala dagangannya dan juga kuda yang ditungganginya; dan sebagai pedagang yang mujur ia pandai melepaskan dagangannya dengan harga yang layak. Setelah melepaskan barang dagangannya, ia lalu kembali dan menimbang-nimbang dengan penuh tanggung jawab. Akan diapakannya uang itu. Aneh bin ajaib, karena ia cepat berubah seluruhnya berkat pengejaran Allah, maka baginya terasa sebagai beban berat, memegang uang satu jam saja; dan segala keuntungan yang diperoleh daripadanya dianggapnya sebagai pasir belaka, maka ia mau melepaskannya selekas-lekasnya. Ketika ia kembali menuju kota Asisi maka di tepi jalan didapatnya sebuah gereja, yang sudah lama sekali dibangun akan kehormatan St. Damianus dan yang karena amat tuanya terancam keruntuhan.[9]

9. Maka satria Kristus yang baru itu menuju ke situ dan masuk ke dalam dengan hormat dan malu suci, terharu karena iba akan keadaan yang menyedihkan itu. Dan ketika di situ dijumpainya seorang imam miskin, maka dengan hormat dan bakti diciumnya tangan yang terurapi itu, lalu ditawarkannya kepadanya uang yang dibawanya dan diceritakannya kepadanya secara teratur perihal rencananya. Imam itu terperanjat. Ia keheran-heranan atas perubahan begitu cepat, yang tidak dapat dipercayainya itu; maka ia pun tidak mau percaya akan apa yang didengarnya. Dan karena ia mengira, bahwa ia dibohongi, maka ia tidak mau menerima uang yang ditawarkan kepadanya. Ia akan melihat Fransiskus, boleh dikata kemarin, masih berlagak sebagai tuan besar dan main gila-gilaan di tengah-tengah kaum kerabat dan kenalan-kenalannya. Tetapi Fransiskus tetap berkeras hati. Ia berusaha keras untuk membuat kata-katanya dapat dipercaya. Dengan semakin mendesak ia mohon dan minta dengan sangat kepada imam itu, agar ia diperbolehkan tinggal bersama dengannya. Akhirnya imam itu memperkenankan dia tinggal di situ, tetapi uang tidak diterimanya, karena takut akan orang tua Fransiskus. Tetapi penghina sejati uang itu dilemparkannya ke jendela dan tidak menghiraukannya lagi seperti debu saja. Sebab ia ingin memiliki kebijaksanaan yang lebih berharga daripada emas dan ingin memperoleh pengertian yang lebih bernilai daripada perak.

Pasal V. Bagaimana ia dikejar-kejar dan dibelenggu ayahnya.

10. Sementara hamba Allah yang mahaluhur tinggal di tempat tersebut, ayahnya berkeliling di mana-mana bagaikan penyelidik yang rajin, karena ingin mengetahui apa yang terjadi dengan anaknya. Dan ketika diketahuinya, bahwa anaknya tinggal begitu di tempat tersebut, maka ia merasa amat sedih dalam hatinya; dan lagi perubahan tingkah-laku yang mendadak itu sangat merisaukan hatinya. Maka dikumpulkannya teman-teman dan kenalan-kenalannya, dan dengan bergegas-gegas ia menuju ke tempat tinggal hamba Allah. Tetapi ketika Fransiskus, yang masih baru sebagai satria Kristus itu, mendengar ancaman para pengejarnya dan mengetahui sebelumnya kedatangan mereka, maka ia mau menghindari kemarahan mereka, lalu menyembunyikan diri di lubang yang telah disiapkannya sendiri untuk itu. Adapun lubang itu ada di dalam rumah dan kebetulan, hanya diketahui satu orang saja. Ia bersembunyi terus-menerus di situ sebulan lamanya; malah begitu rupa sehingga ia tidak berani keluar untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan alamiahnya. Makanan yang kadang-kadang dihantar, dimakannya di lubang persembunyian itu, dan pelayanan kasih yang dilakukan orang terhadapnya terjadi dengan sembunyi-sembunyi. Dengan tak kunjung putus ia berdoa dan bermohon, diiringi dengan cucuran air mata. supaya Tuhan meluputkan nyawanya dari tangan para pengejarnya dan supaya ia dengan bantuan-Nya yang rela dapat memenuhi niatnya yang suci. Dengan puasa dan cucuran air mata ia memohon keridlaan sang Penyelamat. Dan karena ia tidak percaya akan daya-upaya sendiri, maka ia mengarahkan segala pikirannya kepada Tuhan. Walaupun ia tinggal di jalam lubang yang gelap, namun ia diliputi dengan sukacita tak terhingga, yang belum pernah dialaminya. Bernyalah nyalah seluruhnya karena sukacita itu ia meninggalkan lubang persembunyian dan membiarkan dirinya terang-terangan menjadi ejekan para pengejar.

Maka Fransiskus segera keluar dan dengan penuh semangat dan riang hati ia bergegas-gegas menuju ke kota untuk berjuang bagi Tuhan, hanya dengan berperisai iman dan bersenjata tawakkal kepada Tuhan. Dikobar-kobarkan nyala api Ilahi, ia mulai mengecam habis-habisan kelembaman dan ketakutannya sendiri. Ketika orang-orang yang mengenainya melihat dia, dan membandingkan bagaimana ia dahulu dan bagaimana ia sekarang, mereka lalu mulai mencerca dia dan menyoraki dia kurang waras dan edan, dan melempari dia dengan lumpur dan batu. Ketika mereka melihat, bahwa tingkah-lakunya lain daripada dahulu dan bahwa ia kurus kering karena matiraga, maka seluruh tindak-tanduknya disangkut-pautkan mereka dengan kelelahan dan kekurangan kewarasan. Tetapi karena orang yang sabar lebih baik daripada orang yang pongah, maka hamba Allah menanggung kesemuanya itu dengan diam. Dan tiada penghinaan saiupun dapat mematahkan hatinya atau mengubah haluannya. Sebaliknya ia bersvukur kepada Tuhan atas kesemuanya itu. Sia-sialah orang lalim itu, semakin besar pula kemenangannya. Jiwa yang luhur, – kata seorang pengarang – hanya dijadikan lebih mantap oleh penghinaan.

12. Lama omongan dan sorakan semacam itu tersiar luas di jalan-jalan dan kampung-kampung kota itu. Dan suara lantang para pengolok-olok menggema di sana-sini, sampai ke telinga banyak orang; akhirnya omongan itu sampai kepada ayahnya. Tetapi ketika sang avah mendengar nama anaknya dan mengetahui bahwa anaknya menjadi buah bibir penduduk kota, maka ia langsung pergi ke sana, bukannya untuk membebaskan anaknya, tetapi lebih-lebih untuk menghajar dia habis-habisan. Tanpa mengekang diri sedikit pun ia menyergap Fransiskus, bagaikan serigala menerkam anak domba, memandangnya dengan muka galak dan bengis, menangkapnya dan menyeretnya secara kasar tanpa kenal malu ke rumahnya. Tanpa kenal kasihan sedikitpun anaknya disekapnya selama beberapa hari di tempat gelap. Dikiranya jiwa anaknya dapat ditaklukkan kepada kehendaknya, dengan mengerjai dia, mula-mula dengan kata-kata, kemudian dengan cambuk dan (akhirnya) dengan belenggu. Tetapi, justru karena itulah Fransiskus malah menjadi tetap dan lebih mantap hatinya untuk melaksanakan niatnya yang suci. Cercaan dengan kata-kata dan keletihan karena belenggu tidak mengurangi kesabarannya. Sebab cambuk maupun belenggu tidak dapat memalingkan dia dari maksud dan sikap batin yang lurus atau memisahkan dia dari kawanan Kristus, justru karena dia dipanggil untuk bersuka-cita di dalam duka-derita. Air bah hebat pun tidak akan menggetarkan orang yang di dalam kesesakan mencari perlindungan pada Putera Allah. Sebab agar kesulitan-kesuiitan kita jangan tampak terlampau berat, maka Putera Allah selalu menunjukkan, bahwa derita yang ditanggung-Nya adalah jauh lebih berat.

Pasal VI. Bagaimana ia dibebaskan ibunya dan menanggalkan pakaiannya di depan Uskup Asisi.

13. Ketika ayahnya karena urusan keluarga yang mendesak keluar rumah untuk sementara waktu, dan hamba Allah masih tinggal terbelenggu di penjara rumahnya, maka ibunya tinggal seorang diri di rumah bersama dengan anaknya dan karena tidak menyetujui tindakan suaminya lalu berbicara kepada anaknya dengan kata-kata manis. Ketika ibunya melihat, bahwa ia tidak sanggup mencegah anaknya dari rencananya, maka tergerak oleh perasaan keibuannya atas anaknya ia lalu melepaskan belenggu dan membiarkan anaknya pergi dengan bebas.

Seraya menyampaikan syukur kepada Allah yang Mahakuasa, Fransiskus segera kembali ke tempat tinggalnya semula.

Setelah diuji dan dilatih dengan cobaan-cobaan, maka ia mendapat keberanian yang lebih besar dan berkat perjuangan yang banyak ia pun nampak lebih riang; dan berkat penghinaan-penghinaan itu ia mendapat jiwa yang lebih aman sentausa; dan ia pun bebas pergi ke mana-mana dan melangkah dengan lebih sadar akan dirinya. Sementara itu ayahnya pulang; dan ketika anaknya tidak didapatnya, maka cacimaki dipalingkannya kepada isterinya dan dengan itu dosa demi dosa ditimbunnya. Ia lalu berlari ke tempat tinggal anaknya dengan menggeram dan menggumam. Jika anaknya tidak dapat disadarkannya, maka setidak-tidaknya dia akan diusirnya dari daerah itu. Tetapi karena ketakutan kepada Tuhan adalah kepercayaan teguh, maka ketika anak berahmat itu mendengar, bahwa ayah duniawinya[10] sedang datang kepadanya, maka ia disambutnya dengan tenang dan riang. Dengan suara bebas diserukannya, bahwa belenggu dan cambuk dianggapnya bukan apaapa. Tambahan pula dinyatakannya, bahwa demi nama Kristus segala kemalangan akan ditanggungnya dengan suka hati.

14. Ketika ayahnya melihat, bahwa ia tidak dapat dicegahnya dari jalan yang telah dimulai, maka sang ayah berusaha dengan segenap tenaga untuk memperoleh kembali uang itu. Hamba Allah tadinya ingin menggunakan dan menyediakan jumlah uang itu untuk membeli makanan bagi orang-orang miskin dan untuk pemeliharaan gedung di tempat itu; tetapi ia tidak melekat pada uang, tidak dapat diperdayakan oleh kebaikan semua itu. Maka kehilangain uang itu pun tidak merisaukan hatinya. Ketika diketemukan kembali uang, yang telah dilemparkan si penghina terbesar barang-barang duniawi dan si pencan giat harta surgawi ke jendela yang penuh debu itu, maka keberangan ayahnya yang marah-marah itu agak mereda dan api kehausan ketamakan ayahnya agak dipuaskan dengan penemuan kembali uang itu. Kemudian anaknya diseretnya ke hadapan uskup kota itu,[11] agar anaknya melepaskan segala harta kekayaan ke dalam tangan beliau dan mengembalikan kepadanya segala miliknya. Fransiskus bukan hanya tidak menolak; sebalikdengan penuh sukacita ia memenuhi tuntutan itu dengan rela hati.

15. Ketika ia sudah dibawa ke hadapan uskup, ia tidak menunggu sedetik pun dan tidak menunda-nunda sedikit pun, bahkan ia tidak menantikan dan juga tidak mengucapkan kata-kata; tetapi segera ditanggalkannya segala pakaiannya dan dilemparkannya ke tanah, lalu dikembalikannya kepada ayahnya. Bahkan cawat pun tidak ditahannya; ia bertelanjang bulat di depan semua orang. Adapun uskup, yang memperhatikan jiwanya dan amat mengagumi semangat dan ketabahan hatinya, lalu berdiri, memeluknya dan menudunginya dengan mantel yang dipakainya. Dengan jelas beliau melihat, bahwa Allah mempunyai rencana dengan itu dan beliau pun mengerti, bahwa perbuatan hamba Allah, yang disaksikannya dengan mata kepala sendiri itu mengandung arti yang lebih dalam. Karena itulah beliau lalu menjadi pelindungnya dan memberikan dukungan kepadanya dan menetapkan hatinya dan meliputinya dengan cintakasih yang mesra. Dengan sesungguhnya ia yang telanjang berperang tanding dengan yang telanjang.[12]

Ia melepaskan segala-galanya yang dari dunia ini, dan selalu ingat akan yang benar dalam pandangan Allah. Sejak itu ia berusaha keras untuk meremehkan hidupnya sendiri dan melepaskan segala kekhawatiran atas hidupnya, agar ia sebagai orang miskin di jalan yang terkepung itu mendapat kedamaian, dan agar hanya dinding badaniah sajalah yang memisahkan dia dari pemandangan Allah.

Pasal VII. Bagaimana ia disergap penyamun dan dilemparkan ke dalam salju dan bagaimana ia melayani orang kusta.

16. Ketika ia berkeliling hanya dengan mengenakan cawat, – dahulu ia berpakaian beledu, – dan melalui sebuah hutan menyanyikan pujian kepada Tuhan dalam bahasa Perancis,[13] datanglah tiba-tiba penyamunpenyamun menyergapnya. Dengan geram mereka menanyakan siapakah dia itu. Dengan penuh kepercayaan diri ia menjawab dengan suara lantang: “Aku ini bentara Raja Agung. Kena-mengena apa kalian?” Tetapi ia dipukuli mereka, lalu dilemparkannya ke dalam lubang yang dalam penuh salju. Kata mereka: “Berbaring saja di situ, hai bangsat bentara Allah!” Ia berguling-guling di situ, dan ketika mereka pergi, salju dikebaskan dari badannya dan ia keluar dari lubang itu. Dengan gembira dan sukacita besar ia mulai menggemakan di sepanjang hutan dengan suara nyaring, lagu pujian kepada Pencipta semesta alam. Akhirnya ia sampai ke biara para rahib. Beberapa hari lamanya ia tinggal di situ, hanya dengan berpakaian kemeja yang lusuh, sebagai pembantu di dapur; ia ingin memuaskan rasa laparnya hanya dengan sop saja. Tetapi ketika ia tidak dapat memperoleh pakaian tua satu pun, karena segala kasihan diabaikan, maka bukan karena terbawa kemarahan, tetapi terpaksa karena keadaan, ia pergi dari situ dan tiba di kota Gubbio, di mana ia mendapat pakaian dari seorang teman lama. Selang beberapa lama kemudian, ketika kemasyhuran hamba Allah tersebar ke mana-mana dan namanya terkenal di kalangan rakyat, maka prior biara tersebut di atas ingat akan hamba Allah dan menginsyafi apa yang telah diperbuat niereka kepadanya, lalu pergi kepadanya dan demi Penyelamat yang mulia mobon dengan rendah hati, agar ia sendiri serta anak buahnya dipermaafkan.

17. Kemudian, pencinta suci kerendahan hati mutlak itu pergi kepada orang-orang kusta dan hidup bersama (dengan) mereka. Ia melayani mereka semua dengan amat sungguh-sungguh demi Tuhan dan ia membasuh segala yang membusuk, bahkan membersihkan nanah dari luka-luka, sebagaimana dikatakannya sendiri dalam Wasiat(nya): “Sebab ketika aku berada dalam dosa, teramat pahitlah kelihatannya bagiku, melihat orang-orang kusta. Dan Tuhan sendiri menghantar aku ke tengah-tengah mereka dan aku pun menaruh belaskasihan kepada mereka.”[14] Sebab begitu jijiklah rasanya baginya, demikianlah katanya, melihat orang kusta, sehingga ia, dimasa kesia-siaannya, sudah memencet hidungnya, jika (ia) dari jarak dua mil ia melihat pondok-pondok mereka. Tetapi ketika ia dengan bantuan dan kekuatan Allah yang Mahatinggi sudah mulai memikirkan hal-hal yang suci dan bermanfaat, maka ia yang masih berpakaian duniawi itu pada suatu hari berpapasan dengan seorang kusta. Setelah ia dapat mengalahkan diri sendiri, ia lalu menghampiri orang kusta itu dan memeluknya. Semenjak saat itu ia mulai kian hari kian meremehkan dunia, sampai ia, karena kerahiman Penebus, mencapai kemenangan mutlak atas dirinya sendiri. Juga orang-orang miskin lainnya disokongnya, selagi ia hidup di dunia dan mengikuti cara hidup duniawi.

Kepada orang-orang yang tidak empunya diulurkannya tangan belas kasihan dan kepada orang-orang yang dirundung malang dinyatakannya perasaan ikut berdukacita. – Dan ketika ia pada suatu hari, diluar kebiasaannya, – sebab ia amat sopan-santun, – menolak secara kasar seorang miskin, yang meminta sedekah kepadanya, maka segera ia menyesal dan mulai berkata dalam hatinya, betapa tercela dan aibnya menolak permintaan, yang disampaikan demi nama Raja seagung itu. Kemudian ia bertekad bulat, untuk selanjutnya sedapat mungkin tidak menolak seorang pun, yang meminta sesuatu kepadahya demi Allah. Keputusan ini dipegang teguh dan dipenuhinya dengan saksama, sampai ia memberikan dirinya sepenuhnya. Demikianiah ia melaksanakan lebih dahulu, sebelum ia mengajarkan nasehat Injil yang berbunyi: “Berilah kepada orang yang meminta kepadamu, dan janganlah-menolak orang yang mau meminjam daripadamu.” (Mt. 5,42).

Pasal VIII. Bagaimana ia membangun kembafi gereja San Damiano; dan bagaimana cara hidup wanita-wanita yang tinggal di tempat itu.

18. Pekerjaan pertama yang ditakukan St. Fransiskus, setelah diperolehnya . kebebasan dari tangan ayah badaniahnya, ialah membangun rumah bagi Allah. Ia tidak mencoba membangun yang baru, tetapi memperbaiki yang lama, mernbetulkan yang kuno. Pondamen tidak dicabutnya, tetapi ia membangun di atasnya. Tanpa disadarinya, selalu dipertahankannya hak istimewa bagi Kristus: “Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu: Kristus Yesus” (1Kor. 3:11). Nah, ketika ia kembali ke tempat, di mana seperti dikatakan telah lama didirikan gereja San Damiano, maka dengan bantuan rahmat Allah yang mahatinggi diperbaikinya dengan giatnya gereja itu dalam tempo yang singkat. Itulah tempat yang terberkati dan suci, di mana serikat mulia dan ordo luhur para wanita miskin dan perawan suci[15] MENDAPAT PERMULAANNYA YANG MUJUR BERKAT St. Fransiskus, lebih kurang enam tahun sesudah pertobatan orang kudus itu. Di situ hiduplah wanita Klara yang dilahirkan di kota Asisi, dan yang sebagai batu termulia dan terkuat menjadi dasar batu-batu lainnya yang dipasang di atasnya. Sebab sesudah permulaan ordo saudara-saudara (dina),[16] wanita tersebut berkat nasihat-nasihat orang kudus itu bertobat kepada Allah, maka ia pun berpengaruh atas banyak orang dan menjadi suri-teladan bagi orang yang tak terbilang jumlahnya. Luhurlah, asal-usulnya, tetapi lebih luhur lagi ia karena rahmat Tuhan; murnilah ia dalam tubuhnya, tetapi lebih murni lagi jiwanya; menurut umurnya masih anak dara, tetapi jiwanya sudah penuh kematangan. Ia teguh dalam niatnya dan bernyala-nyala hasratnya dalam cintakasih Ilahi. Ia dikaruniai dengan kebijaksanaan dan unggul dalam kerendahan hati: Klara (= terang, cemerlang) namanya, lebih cemerlang lagi hidupnya dan amat cemerlanglah ia karena keutamaan-keutamaannya.

19. Atas dia juga berdirilah bangunan (yang tersusun) atas mutiara-mutiara indah yang kemuliaannya bukan dari manusia melainkan dari Allah datangnya, karena pikiran yang terbatas ini tidak memadai untuk membayangkannya dan uraian singkat pun tidak memadai untuk menerangkannya.

Pertama, di kalangan mereka berkembanglah dengan suburnya, melebihi segala-galanya, keutamaan cintakasih timbal-balik yang tetap, yang menjalin kemauan-kemauan mereka begitu eratnya, sehingga kalau pun empatpuluh atau limapuluh orang tinggal bersama-sama di suatu tempat, mereka toh walaupun berbeda-beda, berbuat sehati dan sejiwa, dengan menghendaki yang sama atau tidak menghendaki yang sama pula. – Kedua, dalam mereka masing-masing bersinarlah permata kerendahan hati yang memelihara anugerah-anugerah yang terkumpul dan karunia-karunia yang diterima dari surga begitu rupa, sehingga mereka patut memperoleh keutamaan-keutamaan lainnya. – Ketiga, bunga bakung keperawanan dan kemurnian menghamburi mereka sekalian dengan keharuman ajaib, sehingga mereka melupakan pikiran-pikiran duniawi dan hanya ingin memikirkan hal-hal surgawi saja; dan dari keharuman itu tumbuhlah dalam hati mereka yang amat besar kepada Mempelai abadi, sehingga keutuhan cinta yang suci itu menjauhkan segala kebiasaan hidup lama dari mereka. – Keempat, mereka begitu bercirikan kemiskinan tertinggi, sehingga mereka tidak begitu atau sama sekali tidak berhasrat memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang paling mendesak akan makanan dan pakaian.

Kelima, mereka memperoleh rahmat keanugerahan dan keheningan yang begitu istimewa, hingga untuk mengendalikan nafsu daging dan mengekang lidah, mereka tidak usah menggunakan kekerasan. Ada beberapa suster yang sudah tidak biasa berbicara, sehingga apabila keadaan memaksa mereka berbicara, mereka tidak ingat lagi, bagaimana mereka harus mengeluarkan kata-kata yang tepat. – Keenam, mereka dilengkapi dengan kesabaran dalam segala-galanya dengan amat ajaibnya, sehingga tiada kejadian, kesulitan atau kemalangan, penghinaan atau kesesakan satu pun dapat mematahkan atau merisaukan hati mereka. – Ketujuh dan terakhir, mereka telah mencapai tingkat tertinggi dalam kontemplasi, sehingga mereka dengan itu belajar segala apa yang harus mereka perbuat atau mereka hindarkan, dan tahu dengan mujurnya untuk mengangkat budi mereka kepada Allah, dengan berkanjang dalam pujian dan doa kepada Allah. – Semoga Allah yang kekal berkenan dengan rahmat-Nya yang kudus mengunci permulaan yang amat suci itu dengan kesudahan yang lebih suci lagi. Dan apa yang sekarang dikatakan tentang perawan-perawan yang dikuduskan kepada Allah dan abdi-abdi Kristus yang bakti ini kiranya cukuplah sementara ini. Sebab hidup mereka yang menakjubkan dan pendirian ordo mulia, yang mereka terima dari Sri Paus Gregorius[17] yang waktu itu masih menjadi uskup Ostia, kiranya memerlukan buku tersendiri dan banyak waktu senggang.

Pasal IX. Bagaimana ia setelah berganti pakaian memperbaiki gereja St. Maria di Portiuncula; dan bagaimana ia setelah mendengar bacaan Injil lalu melepaskan sem uanya dan sampai kepada dan membuat jubah yang sekarang dipakai saudara-saudara.

21. Dalam pada itu hamba Allah yang suci itu telah berganti jubah dan memperbaiki gereja tersebut. Ia lalu pergi ke tempat lain di dekat kota Asisi.[18] Di sana ia mulai membangun kembali gereja yang bobrok dan nyaris roboh.

Permulaan yang baik itu tidak dihentikannya, sampai ia menyelesaikan semuanya. Dari sana ia lalu pergi ke tempat yang dinamakan Portiuncula.[19] Di sana ada gereja Santa Perawan Bunda Allah, yang sudah lama didirikan, tetapi sekarang telah ditinggalkan dan tidak dihiraukan seorang pun. Ketika hamba Allah yang suci melihat, betapa rusaknya gereja itu, maka ibalah hatinya, sebab bernyala-nyalalah baktinya kepada Bunda segala kebaikan; dan ia mulai menetap di situ. Ketika ia telah memperbaiki gereja tersebut, maka ia sudah ada dalam tahun ketiga pertobatannya. Pada waktu itu ia mengenakan semacam jubah pertapa, dengan ikat pinggang dari kulit dan berjalan dengan bertongkat dan bersepatu.

22. Tetapi pada suatu hari,[20] ketika di gereja dibacakan Injil perihal bagaimana Tuhan mengutus murid-murid-Nya untuk mewartakan (kabar sukacita),[21] hamba Allah yang suci hadir di situ. Ayat-ayat Injil itu hanya ditangkapnya sekedarnya saja; maka sehabis perayaan Misa ia mohon dengan rendah hati kepada imam untuk menerangkan Injil itu. Maka imam menerangkan semuanya secara teratur kepadanya. Ketika St. Fransiskus mendengar, bahwa murid-murid Kristus tidak boleh memiliki emas atau perak dan dalam perjalanan tidak boleh mernbawa pundi-pundi, bekal atau roti atau tongkat, dan tidak boleh memakai kasut dan dua baju, tetapi harus mewartakan kerajaan Allah dan pertobatan,[22] maka ia langsung berseru dengan gembira dalam roh Allah: “Inilah yang kukehendaki.” Katanya: “inilah yang kucari, inilah yang ingin kulakukan dengan segenap hatiku.” Dengan dilimpahi sukacita bapak suci lalu bergegas-gegas melaksanakan nasihat yang bermanfaat itu. Dengan tidak menangguhkan sedetik pun ia mulai mengerjakan dengan bakti apa yang telah didengarnya.

Serta-merta sepatu dilepaskan dari kakinya, tongkat dilepaskannya, dan ia puas dengan satu jubah, ikat pinggang dari kulit ditukarnya dengan seutas tali selanjutnya ia mengadakan jubah yang mempunyai bentuk salib,[23] Supaya segala bujukan setan dicegah. Jubah itu dibuatnya dari kain kasar, agar dengan itu daging dengan cacat-cacat dan nafsu-nafsunya disalibkan; dibuatnya pula amat miskin dan tanpa hiasan, sehingga sama sekali tidak diinginkan dunia.

Adapun lain-lainnya, yang telah didengarnya, hendak dilakukannya dengan sesaksama-saksamanya dan sepatut-patutnya. Sebab ia bukan pendengar Injil yang tuli, melainkan segala apa yang didengarnya, disimpan dalam ingatannya yang mulia; dan ia pun berusaha menepatinya dengan cermat secara harafiah.

Pasal X. Perihal penyiaran lnjil dan pewartaan damai; dan perihal pertobatan keenam saudara yang pertama.

23. Selanjutnya, dengan kehangatan jiwa yang besar dan dengan perasaan sukacita ia mulai mewartakan pertobatan kepada semua orang; dengan perkataan yang sederhana tetapi dengan hati yang luhur ia membina para pendengamya. Perkataannya bagaikan api yang membakar, menembus sampai ke lubuk hati dan memenuhi segala budi dengan ketakjuban. Ia kelihatan lain sama sekali daripada dahulu; ia menatap langit, tidak sudi memandang ke bumi. Dan sungguh ajaib, bahwa ia mulai berkhotbah di gereja, tempat selagi kanak-kanak ia pernah belajar membaca, tempat ia pertama-tama dimakamkan secara terhormat, sehingga awal yang mujur itu dikunci dengan kesudahan yang lebih berbahagia. Di sana ia pernah belajar, di situ pun ia mengajar; dan di mana ia memulai tugasnya, di situ pun ia menyudahinya dengan bahagia.[24]

Dalam setiap khotbahnya, sebelum ia mengetengahkan sabda Allah kepada orang-orang yang berkumpul, ia menyampaikan salam damai, katanya: “Semoga Tuhan memberikan damai kepada kalian.” Damai ini disampaikannya dengan amat khidmat kepada pria dan wanita, kepada yang dijumpainya dan kepada yang berpapasan dengannya. Karena itulah banyak orang, yang tadinya membenci damai dan keselamatan, lalu dengan bantuan Tuhan memeluk damai dengan segenap hati dan malah menjadi anak-anak amai dan pengejar keselamatan.

24. Di antara rang-orang itu ada seorang pria dari Asisi yang saleh,[25] dan sederhana hatinya; dialah yang pertama-tama mengikuti hamba Allah[26] dengan bakti. Sesudah dia datanglah saudara Bernardus, yang ingin menjadi duta damai dan mengikuti hamba Allah yang suci dengan penuh semangat, untuk memperoleh Kerajaan Surga. Orang ini sering menjamu dengan ramah bapak suci, yang cara hidup dan tingkahlakunya disaksikan dan dialaminya. Disegarkan dengan keharuman kesuciannya, ia menerima takwa yang bermanfaat dan menunjukkan jiwa keselamatan. Dilihatnya hamba Allah itu berdoa semalam suntuk, jarang sekali tidur, memuji Allah dan Perawan mulia, Bunda-Nya. Dengan penuh kekaguman ia berkata: “Sungguh orang ini dari Allah adanya”.

Karena itu ia bergegas-gegas menjual segala millknya dan membagi-bagikannya kepada orang-orang miskin, bukan kepada orang tuanya. Dengan beralasan hidup yang lebih sempurna, ia memenuhi nasihat Injil suci: “Jikalau engkau hendak menjadi sempurna, pergilah dan juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga; kemudian datanglah ke mari dan ikutilah Aku” (Mt. 19:21). Setelah itu ia menggabungkan diri dengan St. Fransiskus dalam cara hidup dan herpakaian, dan ia tinggal bersama dengannya, sampai jumlah saudara-saudara bertambab dan ia demi ketaatan kepada bapa tersayang dipindahkan ke daerah. lain. Adapun pertobatannya kepada Allah menjadi contoh untuk orang-orang yang hendak bertobat dalam menjual miliknya dan membagibagikannya kepada orang-orang miskin. St. Fransiskus bergembira sekali dengan sizkacita besar atas kedatangan dan pertobatan orang sedemikian itu; karena deagan itu nampaklah, bahwa Tuhan menaruh perhatian kepadanya, dengan memberikan teman yang penting dan sahabat yang setiawan.

25. Tak lama kemudian datang pria lain[27] dari kota Asisi, mengikutinya; ia telah menjalankan hidup yang terpuji, dan apa yang dimulainya dengan suci, diselesaikannya dengan lebih suci dalam tempo yang singkat. Adapun orang ini, tidak lama kemudian, diikuti saudara Egidius,[28] orang yang sederhana dan jujur dan takut kepada Tuhan. Ia telah lama berada di tengah-tengah kita dan hidup suci, jujur dan saleh, dan memberi kita teladan ketaatan sempurna, pekerjaan tangan, hidup bertapa dan kontemplasi suci. Maka seorang lain lagi bergabung dengan mereka itu[29], saudara Filipus[30] melengkapkan jumlah tujuh. Bibirnya disentuh Tuhan dengan bara pemurnian, untuk berbicara manis dan mengeluarkan kata-kata manis madu tentang Dia. Ia pun memahami Kitab Suci dan pandai menafsirkannya, walaupun ia tidak pernah belajar untuk itu. Dalam hal ini ia menjadi pengikut orang-orang (para Rasul), yang oleh pemuka-pemuka Yahudi dikecam sebagai orang yang tidak berpengetahuan dan tidak terpelajar.

Pasal XI. Perihal roh kenabian dan perihal petuah-petuah St. Fransiskus

26. Adapun bapak kita St. Fransiskus setiap hari dipenuhi dengan hiburan dan rahmat Roh Kudus. Dengan segala kewaspadaan dan keprihatinan ia mengajarkan ajaran baru kepada putera-puteranya yang baru, dengan mengajar mereka berjalan dengan langkah yang tetap di dalam kemiskinan suci dan kesederhanaan[31] yang bermanfaat. Pada suatu hari ketika ia mengagumi kerahiman Tuhan atas anugerah-anugerah yang diberikan kepadanya dan mengharapkan supaya Tuhan memaklumkan kepadanya bagaimana selanjutnya dengan hidupnya sendiri serta hidup orang-orangnya, maka sebagaimana sering sekali diperbuatnya, dicarinya tempat untuk berdoa. Di sana ia lama tinggal dengan cemas dan gemetar di hadapan hadirat Tuhan semesta alam; dan dalam kepahitan jiwa diingatnya kembali tahun-tahun yang telah disia-siakannya sambil sering mengulang perkataan ini: “Ya Allah, kasihanilah aku orang yang berdosa”. Maka sukacita yang tak terhingga dan kemanisan amat besar, sedikit demi sedikit mulai meliputi lubuk hatinya. Ia pun mulai kehilangan kesadaran akan lingkungannya, perasaan salah menghilang, dan kegelapan yang terpaut dalam hatinya karena ketakutan kepada dosa, mundur. Maka dicurahkan ke dalam hatinya kepastian akan pengampunan segala dosanya dan dibangkitkan kepercayaan akan diterima kembali dalam rahmat. Lalu ia kena pesona dan terserap seluruhnya di dalam cahaya. Kekuatan budi meluas, dan ia melihat dengan terang benderang apa yang akan terjadi dimasa depan. Ketika akhimya kemanisan serta cahaya itu menghilang, ia merasa diperbaharui dalam roh dan berubah menjadi manusia lain.[32]

27. Demikianlah ia kembali dengan sukacita kepada saudara-saudara dan “Hendaklah kamu kuat, saudara-saudara terkasih, bersukacitalah dalam Tuhan; janganlah berdukacita karena kamu sedikit jumlahmu; dan janganlah kesederhanaanku dan kesederhanaanmu mengejutkan kamu, sebab sebagaimana telah ditunjukkan Tuhan kepadaku, dengan sesungguhnya Allah akan membuat kita berkembang menjadi jumlah yang amat besar dan menyebarkan kita dalam jumlah yang besar sampai ke ujung bumi.

Untuk kepentinganmu aku merasa terpaksa menerangkan apa yang telah kulihat. Kiranya aku lebih suka diam, sekiranya cinta kasih tidak memaksa aku untuk menceriterakan kepadamu. – Aku melihat orang-orang dalam jumlah yang besar datang kepada kita, mau hidup bersama dengan kita dalam jubah kita dan seturut anggaran dasar ordo suci kita. Dengan sesungguhnya derap kaki mereka yang pulang-pergi atas perintah ketaatan suci, sampai ke telingaku. Aku melihat jalan-jalan penuh dibanjiri jumlah besar orang dari hampir setiap bangsa, yang berkumpul di sini. Berbondong-bondong datanglah orang-orang Perancis, bergegas-gegaslah orang-orang Spanyol; orang-orang Jerman dan Inggris pun datang; dan jumlah amat besar orang dari pelbagai bahasa lainnya membanjir ke mari”. Ketika saudara-saudara mendengar hal itu, mereka diliputi dengan sukacita yang bermanfaat, entah karena rahmat yang dianugerahkan Tuhan kepada orang suci mereka, entah karena mereka rindu dengan hangat akan memperoleh sesama orang yang amat mereka inginkan kian hari-kian ditambah jumlahnya, untuk bersama-sama diselamatkan.

28. Kata sang Santo kepada mereka: “Saudara-saudara, agar kita dengan setia dan bakti menyampaikan syukur kepada Allah Tuhan kita atas segala anugerahnya dan agar kamu tahu bagaimana kamu harus hidup bersama dengan saudara-saudara yang ada sekarang dan di masa depan, maka ketahuilah jalannya perkembangan di masa depan. Kini pada masa permulaan kita ketemukan buah-buah yang manis dan sedap untuk dimakan, tetapi tidak lama lagi akan dihasilkan buah-buah yang kurang manis dan kurang sedap, dan akhirnya akan dihasilkan buah-buah yang pahit samasekali yang tidak dapat kita makan; sebab karena kepahitannya tidak dapat dimakan siapa pun jua, walaupun dari luar berbau harum dan elok dipandang. Dan sungguh-sungguh seperti telah kukatakan, Tuhan akan menambah kita menjadi persekutuan yang besar. Tetapi akhimya akan terjadilah, seperti apabila seseorang membuang pukatnya ke dalam laut atau danau dan menangkap ikan yang besar sekali jumlahnya, lalu mengangkat semuanya ke dalam perahu. Tetapi karena banyaknya ia enggan membawa semuanya, maka dipilihnya yang besar-besar dan yang disukainya dan dimasukka nya ke dalam keranjang, sedangkan lain-lainnya dilemparkan kembali ke dalam air”. Adapun kesemuanya yang telah dinubuatkan hamba Allah yang suci itu, cukup teranglah bagi orang-orang yang memandang itu dengan roh kebenaran, betapa nampak kebenarannya dan betapa terbeber kenyataannya. Dengan sesungguhnya roh kenabian bersemayam dalam diri Santo Fransiskus.

Pasal XII. Bagaimana ia mengirim saudara-saudara dua-dua ke dunia dan bagaimana mereka berkumpul kembali dalam tempo yang singkat

29. Pada waktu itu juga ada pria saleh lain masuk dalam ordo, maka jumlah mereka bertambah menjadi delapan orang. Lalu St. Fransiskus memangil semua kepadanya dan menguraikan kepada mereka perihal penghinaan dunia, penyangkalan kehendak sendiri dan penundukan tubuh sendiri, kemudian membagi mereka menjadi empat kelompok dari dua orang dan berkata kepada mereka: “Pergilah dua-dua, saudara-saudara terkasih, ke pelbagai penjuru dunia wartakan kepada orang-orang perdamaian dan pertobatan demi pengampunan dosa-dosa (Mk. 1:4 // Yoh. Pemandi) dan hendaklah sabar dalam kesukaran-kesukaran dan penuh kepercayaan, bahwa Tuhan akan menepati rencana dan janji-Nya. Jawablah dengan rendah hati orang-orang yang bertanya kepadamu, berkatilah orang-orang yang mengejar-ngejar kamu; berterimakasihlah kepada orang-orang yang berbuat lalim kepadamu dan memfitnah kamu, sebab untuk kesemuanya itu tersedialah kerajaan kekal.” Maka dengan gembira dan sukacita besar mereka menerima tugas ketaatan suci dan sambil berdoa mereka bersujud sampai ke tanah di depan St. Fransiskus. Ia memeluk mereka dan berkata kepada “Serahkanlah masing-masing dengan penuh kasih sayang dan ramah tamah: kekuatiranmu kepada Tuhan, maka Ia akan memelihara engkau.” Perkataan ini dikatakannya tiap-tiap kali ia mengirim saudara-saudara demi ketaatan.

30. Maka saudara Bernardus bersama dengan saudara Egidius cepat-cepat mengambil jalan ke St. Yakobus di Compostella,[33] sementara St. Fransiskus dan seorang teman memilih jurusan lain,[34] dan keempat saudara lainnya melangkah dua-dua ke jurusan-jurusan lain lagi. Tetapi tidak begitu lama kemudian St. Fransiskus ingin melihat mereka lagi, maka ia berdoa kepada Tuhan, yang telah mengumpulkan orang-orang Israel yang terserak-serak, agar ia dalam belaskasihan-Nya sudi mengumpulkan mereka kembali dalam tempo yang singkat.

Maka terjadilah, bahwa dalam tempo yang singkat, tanpa ada panggilan dari seorang juapun, mereka itu seturut keinginannya scrta merta datang, lalu mereka bersama-sama bersyukur kepada Tuhan. Waktu mereka saling bertemu kembali, mereka diliputi sukacita besar, karena mereka melihat lagi gembala mereka yang penuh kasih sayang itu, dan mereka keheran-heranan, bahwa mereka berkumpul karena keinginan yang sama jua. Mereka lalu menceriterakan tentang kebaikan-kebaikan yang telah diberikan Tuhan kepada mereka, dan bilamana mereka dalam hal tertentu lalai atau kurang berterima kasih, maka dengan rendah hati merka mohon kepada bapa suci teguran dan hukuman dan mereka menerima itu dengan rela hati.

Demikianlah mereka biasanya selalu berbuat, apabila mereka datang kepadanya dan mereka tidak menyembunyikan pikiran dan getaran jiwa yang terkecil pun terhadapnya; dan apabila mercka telah menyelesaikan segala tugas mereka, mereka menganggap diri mereka hanya hamba-hamba yang tak berguna saja. Sebab roh kemurnian telah menguasai segenap murid pertama St. Fransiskus, sehingga kalaupun mereka tahu melakukan pekerjaan yang berguna, suci dan jujur, mereka toh tidak mau bermegah-megah dengan sia-sia atas kesemuanya itu. Adapun bapa suci memeluk putera-puteranya dengan cinta kasih yang bertumpah-ruah dan mulai menguraikan rencananya dan menyampaikan apa yang diwahyukan Tuhan kepadanya.

31. Segera empat pria lain yang baik dan pantas menggabungkan diri dengan inereka dan mengikuti hamba Allah yang suci.[35] Karena itu pun orang kudus itu menjadi bahan pokok percakapan banyak orang dan nama harum hamba Allah itu mulai tersebar lebih luas. Pada waktu itu sudah barang tentu ada kegembiraan teramat besar dan sukacita istimewa pada St. Fransiskus dan saudara-saudaranya, apabila seorang beriman, – apa atau siapa tidak menjadi soal, – kaya atau miskin, bangsawan atau orang kebanyakan, orang biasa atau terkemuka, arif atau sederhana, terpelajar atau tak terpelajar, atau awam dari antara umat Allah, karena ilham Roh Kudus, datang untuk menerima jubah ordo suci. Bahkan orang-orang duniawi pun menaruh kekaguman besar atas kesemuanya itu dan atas teladan kerendahan hati, yang menyerukan jalan perbaikan hidup dan penyesalan dosa-dosa. Asal-usul biasa dan kemiskinan yang menyesakkan pun tidak merupakan rintangan untuk sungguh menjadi alat Allah, jika Ia mau menggunakannya, untuk pembangunan karya-Nya, justru karena Ia suka beserta orang-orang yang diabaikan dunia dan yang sederhana.

Pasal XIII. Bagaimana ia untuk pertama kalinya menulis Anggaran Dasar ketika dia mempunyai sebelas murid, dan bagaimana Sri Paus Innocentius III telah meneguhkannya; dan perihal penglihatan pohon

32. Ketika St. Fransiskus melihat, bahwa Tuhan Allah setiap hari menambah jumlah saudara-saudara, maka ditulisnya bagi dirinya sendiri dan bagi saudara-saudaranya, yang sudah ada dan akan datang, secara sederhana dan dengan perkataan singkat,[36] cara hidup dan anggran dasar, khususnya dengan menggunakan ayat-ayat Injil suci, justru karena kesempurnaan Injil adalah satu-satunya yang sangat diinginkannya. Namun ia menambahkan beberapa hal lain, yang pada umumnya perlu untuk praktek hidup religius bersama. Kemudian ia pergi ke Roma bersama dengan semua saudara tersebut, karena ia ingin sekali, supaya apa yang telah ditulisnya itu diteguhkan oleh Sri Paus Innocentius III.[37] Pada waktu itu berada di Roma juga uskup Asisi, Guido namanya, yang dalam segala-galanya menyegani dan amat menyayangi St. Fransiskus dan semua saudaranya. Maka beliau gusar hatinya atas kedatangan mereka, karena beliau tidak mengetahui alasannya. Beliau takut, kalau-kalau mereka hendak meninggalkan daerah kelahiran mereka, di mana Tuhan telah mulai mengerjakan hal-hal yang besar dengan perantaraan hamba-Nya. Beliau sangat senang mempunyai orang-orang sederhana itu di dalam keuskupannya dan menaruh harapan besar atas cara hidup dan tingkah laku mereka. Tetapi setelah mendengar alasan kedatangan mereka dan memahami rencana mereka, beliau amat bersukacita dalam Tuhan dan menjanjikan untuk memberikan nasihat dan bantuan kepada mereka. Di samping itu St. Fransiskus menghadap yang mulia uskup Sabina, yang bernama Yohanes dari Santo Paulus,[38] yang termasuk dalam kalangan para pangeran dan pembesar Kuria Romawi orang yang rupanya meremehkan keduniawian dan mencintai barang-barang surgawi. Beliau menyambut dia dengan amat ramah dan penuh Cinta dan amat condong kepada permohonan dan rencananya.

33. Karena beliau orang yang arif dan hati-hati, maka beliau mulai bertanya tentang banyak hal dan menasehati dia untuk memilih cara hidup para rahib atau para pertapa. Tetapi anjurannya ditolak sedapat-dapatnya oleh St. Fransiskus dengan rendah hati, bukan karena ia meremehkan anjuran itu, tetapi karena ia menghasratkan yang lain dan karena ia terdorong oleh keinginan yang lebih luhur. Uskup itu mengagumi semangatnya, tetapi karena beliau takut, kalau-kalau mengurungkan rencananya yang besar itu, maka ditunjukkannya kepadanya jalan yang lebih rata. Tetapi akhimya beliau menyerah, dikalahkan permohonan yang tetap itu; dan beliau berusaha sebaik-baiknya untuk memajukan perkaranya ke hadapan Sri Paus. Pada waktu itu Gereja Allah dipimpin Sri Paus Innocentius III, orang yang masyhur, ahli yang terkemuka dan pengkhotbah yang ulung, dan bernyala-nyala semangatnya untuk kebenaran dalam segala apa yang dituntut kepentingan penghayatan Iman Kristen. Ketika beliau memahami keinginan hamba-hamba Allah itu, maka setelah diperiksa dengan seksama sebelumnya, maka beliau memberikan persetujuan kepada permohonan mereka dan membubuhinya dengan kekuatan seperlunya. Beliau menambahkan sejumlah anjuran dan petuah atas banyak hal. Lalu beliau memberkati St. Fransiskus dan saudara-saudaranya dan berkata kepada mereka: “Pergilah beserta dengan Tuhan, saudara-saudara; dan sejauh Tuhan mengilhami kamu, wartakanlah pertobatan kepada semua orang. Tetapi bilamana Tuhan yang Mahakuasa memperlipat-gandakan kamu dalam jumlah dan rahmat, beritahukanlah kepadaku dengan sukacita, dan aku akan mengijinkan lebih banyak lagi dan akan mempercayakan dengan tiada takut-takut hal-hal yang lebih besar kepadamu.”

Sungguh Tuhan menyertai St. Fransiskus ke mana pun ia pergi, seraya . menyukakan hatinya dengan wahyu-wahyu dan menetapkan hatinya dengan anugerah-anugerah. Sebab ketika ia pada suatu malam tidur nyenyak, maka tampaklah olehnya ia berjalan di jalan; di tepi jalan itu berdiri pohon yang menjulang tinggi. Pohon- itu bagus dan kokoh, besar dan amat tinggi. Maka terjadilah, bahwa sementara ia menghampirinya dan berdiri di bawahnya, tiba-tiba sang santo menjadi setinggi pohon itu, dan mudah sekali mengelukkan itu dengan tangannya sampai ke tanah. Dan memang itu menjadi kenyataan, ketika Sri Paus Innocentius, pohon yang amat tinggi dan amat luhur di dunia itu, menundukkan dirinya dengan amat rela kepada permohonan dan harapannya.

Pasal XIV. Perihal kembalinya dari Roma, singgahnya di lembah Spoleto dan lamanya dalam perjalanan

34. St. Fransiskus dan saudara-saudaranya amat bergembira atas anugerah dan kumia yang diberikan oleh Bapa Suci yang agung itu dan bersyukur kepada Allah yang Mahakuasa, yang tahu menaruh orang yang hina-dina amat tinggi dan mengangkat orang-orang yang berdukacita kepada keselamatan.

Segera ia pergi mengunjungi makam St. Petrus dan berdoa di situ, lalu meninggalkan kota itu dan bergegas-gegas bersama dengan sahabat-sahabatnya menuju lembah Spoleto. Sementara mereka berjalan demikian, mereka mempercakapkan bersama-sama, betapa besarnya dan mulianya anugerah-anugerah yang diberikan Allah yang Mahamurah kepada mereka: bagaimana mereka diterima dengan amat baik hati oleh wakil Kristus, kepala dan bapak seluruh umat Kristen; bagaimana mereka dapat memenuhi anjuran dan petuah beliau; bagaimana mereka dapat memelihara dengan setulus-tulusnya dan menepati dengan tetap anggaran dasar, yang telah mereka anut; bagaimana mereka dapat hidup di hadapan hadirat Tuhan dengan segala kesucian dan kesalehan, dan akhimya bagaimana mereka dengan cara hicup dan tingkah laku mereka seraya dengan berkembang dalam keutamaan-keutamaan suci dapat menjadi teladan bagi sesama. Ketika murid-murid Kristus yang baru itu cukup membicarakan perihal perkara-perkara tersebut di dalam suasana kerendahan hati, waktu berjalan terus dan hari pun sudah hampir lewat. Mereka sampai ke tempat yang sunyi dan lelah karena perjalanan yang memenatkan itu serta lapar. Mereka tidak menemukan makanan, karena tempat itu amat jauh dari kediaman orang. Tetapi berkat pemeliharaan Ilahi yang baik, datanglah tiba-tiba orang yang membawa roti dan memberikan itu kepada mereka dan pergi lagi. Karena mereka tidak mengenal orang itu, maka tercengang-cenganglah hati mereka, dan mereka saling menasehati dengan sopan, untuk semakin percaya kepada belaskasihan Ilahi. Setelah bersantap dan dikuatkan tidak sedikit oleh makanan itu, mereka tiba di suatu tempat di dekat Orte. Di situ mereka tinggal lebih kurang dua pekan lamanya. Beberapa orang dari antara mereka pergi ke kota dan mendapat kebutuhan-kebutuhan hidup, dan barang apa yang sekadamya dapat diperoleh mereka dari pintu ke pintu, dibawa mereka kepada saudara-saudara yang lain; dan mereka memakan itu bersama-sama dengan suka hati sambil bersyukur kepada Tuhan. Jika ada sisanya, maka karena tidak dapat diberikan kepada seorang pun, lalu disimpan dalam sebuah pekuburan, yang dahulu dipakai untuk menguburkan jenazah, untuk lain kali dimakan lagi. Tempat itu memang sunyi dan tidak berpenghuni dan jarang atau tidak dikunjungi orang.

35. Bagi mereka adalah suatu sukacita besar, bahwasanya mereka tidak melihat apa-apa dan tidak mempunyai apa-apa, yang dapat memberikan kenikmatan dan kelezatan apapun. Karena itu mereka mulai menggauli kemiskinan suci di situ. Dan kendati kekurangan akan segala barang duniawi, mereka toh merasa terhibur; maka mereka memutuskan untuk di mana pun juga tetap melekat kepada kemiskinan, seperti mereka sekarang di situ adanya. Dan karena mereka telah melepaskan segala kekuatiran akan keduniawian dan hanya disukakan hatinya oleh hiburan Ilahi saja, maka mereka berketetapan hati untuk tidak digoncangkan oleh kesukaran-kesukaran, untuk tidak digentarkan oleh godaan-godaan dan untuk tidak membiarkan diri mereka direnggut oleh apapun dari pelukan kemiskihan itu. Walaupun letak permai tempat itu, yang dapat memerosotkan kekuatan jiwa tidak tanggung-tanggung, tidak mengurangkan semangat mereka, namun mereka meninggalkan tempat itu, agar sekurang-kurangnya terus tinggal di situ jangan sampai memberi kesan meski secara lahiriah sekalipun, bahwa tempat itu menjadi semacam milik; dan bersama dengan bapak suci mereka, lalu sampai ke lembah Spoleto. Sebagai pencinta sejati kejujuran, mereka merundingkan bersama-sama, apa mereka mesti tinggal di tengah-tengah orangorang atau mesti pergi ke, kesunyian. Adapun St. Fransiskus, yang tidak percaya kepada daya upaya sendiri, tetapi mendahului segala pekerjaan dengan doa suci, telah memilih untuk tidak hidup bagi dirinya sendiri, tetapi bagi Dia yang telah wafat untuk semua orang, sebab ia tahu, bahwa ia diutus untuk merebut jiwa-jiwa yang hendak dirampas setan.

Pasal XV. Perihal nama harum St. Fransiskus dan perihal pertobatan banyak orang kepada Allah; dan bagaimana Ordo dinamakan Ordo Saudara Dina, dan bagaimana orang-orang yang masuk ordo dididik St. Fransiskus

36. Kemudian Fransiskus, satria Kristus yang gagah berani itu, menjelajahi kota-kota dan kampung-kampung, – bukan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan ajaran dan kekuatan Roh, – seraya merambatkan kerajaan Allah dan mewartakan damai, mengajarkan keselamatan dan pertobatan akan pengampunan dosa. – Dalam segala-galanya ia bertindak dengan penuh kepercayaan, berkat kewibawaan apostolik yang diserahkan kepadanya, dengan tidak menggunakan rayuan dan bujukan yang menggiurkan. Ia tidak tahu membelai-belai kesalahan orang-orang tetapi malahan menusuknya; ia tidak tahu menunjang orang-orang berdosa tetapi malahan menyambuknya dengan teguran tajam, karena ia mempraktekkan sendiri lebih dahulu apa yang dianjurkannya dengan kata-kata kepada orang-orang; dan karena ia tidak takut akan pengecam, maka kebenaran dikatakannya dengan penuh keyakinan, sehingga orang yang amat terpelajar, yang amat terhormat dan amat terpandang pun mengagumi khotbahnya dan dikejutkan oleh kehadirannya dengan ketakutan yang bermanfaat. Pria dan wanita datang membanjir, rohaniwan-rohaniwan bergegas-gegas dan biarawan-biarawan pun datang berbondong-bondong, untuk menyaksikan dan mendengarkan hamba Allah yang suci, yang bagi semua orang kelihatannya seperti orang dari dunia lain Orang dari setiap umur dan setiap jenis kelamin datang berduyun-duyun untuk menyaksikan hal-hal ajaib, yang belakangan ini dikerjakan Tuhan di dunia dengan perantaraan hamba-Nya. Pada waktu itu kelihatan dengan jelas, entah karena kehadiran St. Fransiskus, entah karena nama harumnya, ada cahaya baru dari surga dikirimkan ke bumi, yang mengusir segala kegelapan dan kekelaman yang meliputi hampir seluruh bumi, sehingga tiada seorang pun tahu menemukan jalan keluar. Orang-orang terbenam dalam tabir yang begitu dalam karena melupakan Allah dan dalam tidur yang begitu lelap karena melalaikan perintah-perintah Allah, sehingga mereka hampir tidak dapat dibangunkan dari dosa-dosa yang lama dan yang telah berakar dalam.

37. Di dalam kekelaman malam itu Fransiskus bersinar bagaikan bintang fajar yang menembusi kegelapan. Demikian teriadilah, bahwa dalam tempo yang singkat wajah seluruh negeri telah berubah dan nampak lebih berseri-seri di mana-mana, setelah segala kebusukan dibuang. – Kegersangan yang lama menghilang, dan cepatlah benih tumbuh di ladang yang tak terolah. Kebun anggur yang tidak terpelihara pun menumbuhkan tunas keharuman Tuhan dan memekarkan bunga-bunga yang permai dan menghasilkan buah-buah yang lezat dan mulia. Di mana-mana menggemalah syukur dan lagu pujian, sehingga banyak orang, setelah melepaskan kekuatiran-kekuatiraa duniawi, dengan berpedoman cara hidup dan ajaran bapak St. Fransiskus memperoleh pengenalan diri sendiri yang wajar dan berhasrat mencintai dan menghormat Sang Pencipta. Banyak dari antara rakyat, bangsawan dan orang biasa, rohaniwan dan awam, berkat ilham Ilahi mulai menggabungkan diri dengan St. Fransiskus, karena ingin menjadi satria Kristus untuk selama-lamanya di bawah pimpinan dan bimbingannya. Bagaikan sungai yang meluapkan rahmat surgawi. hamba Allah yang suci itu menyirami mereka sekalian dengan hujan kurnia dan menghiasi ladang-ladang hati mereka dengan bunga-bunga keutamaan-keutamaan. Memang ia adalah seniman ulung; karena nama harumnya tersiar luas, maka sekedar teladan, cara hidup dan ajarannya, Gereja Kristus diperbaharui dalam kedua jenis kelamin dan ketiga barisan otang-orang pilihan itu[39] maju dengan jayanya. Mereka sekalian diberinya pedoman hidup, dan kepada setiap tingkatan ditunjukkannya dengan sungguh-sungguh jalan menuju keselamatan.

38. Tetapi terutama hendak kita bicarakan perihal Ordo, yang diasalkannya dan dipeliharanya dengan cinta-kasih maupun prasetia. Bagaimana sebenarnya duduknya soal ini? Ordo Saudara Dina kan dia sendiri yang mula-mula menamakannya dan yang kemudian memberikannya nama pada kesempatan yang berikut ini. Nah, ketika ia menyuruh tulis dalam anggaran dasar: “Dan mereka hendaknya menjadi rendahan (= dina),” maka waktu kalimat itu dibacakan, ia berkata pada saat itu juga: “Aku mau supaya persaudaraan ini dinamakan Ordo Saudara Dina.”[40] Dan sungguh-sungguh mereka adalah dina, yang tunduk kepada sekalian orang dan selalu mencari tempat kerja yang dipandang hina dan melakukan tugas yang hina, dalam mana mereka menurut gelagatnya mudah diperlakukan secara tidak layak, agar mereka patut didasarkan atas kerendahan hati, sehingga berkat bantuan ilahi dalam diri mereka dapat berdiri bangunan rohani segala keutamaan. Memang di atas dasar yang kokoh itulah berdiri bangunan cintakasih dari batu-batu hidup, yang terkumpul dari segala penjuru dunia dan yang disusun menjadi kediaman Roh Kudus. Betapa hebatnya murid-murid Kristus yang baru itu berkobar kobar karena cintakasih. Betapa besarnya cinta kepada persekutuan suci itu hidup dalam hati mereka! Sebab bila mereka berpapasan di mana saja atau seperti lazimnya saling berjumpa di jalan, maka terlepaslah anak panah cintakasih ke atas, yang di atas segala kecenderungan hati kodrati menaburkan benih cintakasih yang sejati.

Apa gerangan itu artinya? Pelukan murni, perasaan hati yang mesra, cium suci, percakapan lemah-lembut, ketawa sopan, pandangan riang, mata lurus, perhatian ikhlas, tutur kata yang lembut, jawaban ramah, kesamaan maksud, kesediaan menurut dan kerelaan tolong-menolong tanpa kenal lelah.

39. Dan justru karena mereka meremehkan segala keduniawian dan tidak pernah mencintai diri sendiri dengan cinta yang egoistis, maka mereka mencurahkan seluruh perasaan cintanya kepada persekutuan dan ingin memberikan dirinya sebagai tebusan, untuk memenuhi keperluan saudara tanpa pandang bulu. Mereka suka berkumpul, lebih suka lagi berada bersama-sama; tetapi beratlah bagi kedua belah pihak untuk saling berpisah; pahitlah perceraian dan getirlah keterasingan. Tetapi satria-satria yang amat taat itu tidak berani mengutamakan sesuatupun di atas perintah-perintah ketaatan, malah sebelum kata perintah selesai diucapkan, mereka telah siap untuk melaksanakan perintah itu. Dan karena mereka tidak tahu mempersoalkan perintah, maka mereka seakan-akan berlari tunggang-langgang kepada apa saja yang diperintahkan, tanpa perbantahan sedikit pun. Selaku penganut kemiskinan tersuci mereka tidak menyukai sesuatupun, karena mereka tidak memiliki apa, selanjutnya mereka tidak takut akan kehilangan apa-apa. Mereka senang dengan satu jubah saja, yang kadang-kadang ditambal dari luar dan dari dalam; tiada gaya potongan pada jubah itu, tetapi tampak sahaja dan murah, sehingga mereka oleh karenanya kelihatan disalibkan sepenuhnya bagi dunia. Seutas tali dipakai sebagai ikat pinggang; mereka memakai cawat murah. Mereka bermaksud tetap begitu dan tidak mau memiliki lebih dari itu. Karena itu pun mereka merasa aman sentosa di mana-mana, tidak berada dalam ketakutan, tidak dirisaukan oleh kekuatiran, menantikan hari esok tanpa kesyugulan. Dan mereka tidak kuatir akan penginapan jauh di malam hari, meskipun mereka di dalam perjalanan sering mengalami kesulitan-kesulitan besar. Apabila mereka di dalam cuaca yang amat dingin tidak mendapat penginapan yang layak, mereka mencari lindungan pada perapian atau mereka berlindung dengan sahaja semalam-malaman dalam, liang atau gua. Di siang hari mereka yang dapat, melakukan pekerjaan tangan di rumah-rumah orang kusta atau di tempat-tempat lain yang sopan, dan melayani semua orang dengan rendah hati dan bakti. Mereka tidak mau melakukan pekerjaan, yang dapat menimbulkan batu sandungan. Tetapi dengan selalu melakukan pekerjaan yang sopan dan benar, patut dan berguna, mereka menyemangati semua orang, yang berada bersama dengan mereka, untuk mengikuti teladan kerendahan hati dan kesabaran.

40. Keutamaan kesabaran menjiwai mereka begitu rupa, sehingga mereka lebih suka ada di tempat mereka mesti menanggung penganiayaan badaniah daripada di tempat kesucian mereka diakui dan dipuji dan dapat dimanjakan dengan pemberian-pemberian duniawi. Adapun mereka sering kali mesti menanggung penghinaan, dilontari cercaan, ditelanjangi, dicambuki, diikat, dijebloskan ke dalam penjara, tanpa mencari lindungan pada siapun jua. Mereka menanggung kesemuanya itu dengan tabah sebagaimana layak bagi pria, sehingga dari mulut mereka hanya terdengar suara pujian dan syukur saja. Mereka jarang atau sama sekali tidak pernah berhenti memuji Tuhan dan berdoa. Tetapi dengan renungan tetap mereka meninjau kembali apa yang telah mereka perbuat: atas perbuatan yang dilakukan dengan baik mereka bersyukur kepada Allah, dan atas kelalaian dan kekhilafan mereka menyesal dengan mencucurkan air mata. Mereka mengira ditinggalkan Tuhan, apabila mereka dalam semangat bakti itu tidak dikunjungi terus-menerus dengan perasaan suci sebagaimana biasa. Bilamana mereka mau berkanjang dalam doa, maka mereka memakai sandaran, agar jangan jatuh tertidur. Beberapa orang disokong sikap lurusnya dengan tali-tali yang bergantungan, agar jangan disergap tidur dan doa mereka terganggu karenanya. Dan lain orang mengikat pinggangnya dengan rantai besi atau dengan sabuk kayu. Jika karena kelebihan makanan atau minuman, – hal mana dapat terjadi, – keugaharian dikacaukan atau jika karena lelahnya perjalanan batas dari yang sungguh-sungguh perlu dilanggar, meski sedikit sekalipun, mereka lalu menyiksa dirinya dengan bengisnya, dengan berpuasa berhari-hari lamanya. Akhirnya mereka berusaha menindas keinginan-keinginan daging dengan matiraga yang begitu hebat, sampai mereka tidak enggan berguling-guling dengan telanjang bulat di dalam es yang dingin sekali dan mendera seluruh tubuh dengan duri -duri yang tajam hingga bercucuran darah.

41. Mereka meremehkan segala keduniawian dengan begitu tegasnya, sehingga mereka tidak mau menerima apa yang perlu bagi hidup dan karena latihan yang lama mereka tidak membutuhkan. hiburan badaniah dan tidak takut akan kepahitan manapun. Dalam pada itu mereka mengusahakan damai dan keramahan dengan semua orang, dan bertindak sopan dan penuh damai; dan lagi mereka berusaha sekeras-kerasnya untuk menghindarkan segala batu sandungan. Mereka hampir tidak berbicara, pun kalau itu perlu; dari mulut mereka tidak keluar kata-kata yang janggal dan kosong, sehingga dalam seluruh hidup dan tingkah-laku mereka tidak terdapat hal-hal yang tidak senonoh atau memalukan. Seluruh kelakuan mereka adalah bijaksana, segala langkah mereka ugahari, segala indera mereka dimatiragakan begitu rupa, sehingga mereka tak sudi mendengar atau melihat apa-apa, kecuali hal yang meminta perhatian khusus mereka. Mata mereka menatap ke tanah, sedang budi mereka terarah ke surga. Tiada kedengkian, kebengisan, dendam kesumat, perbantahan, syak wasangka, ketajaman kata-kata mendapat tempat dalam hati mereka. Sebaliknya banyak kerukunan, ketenangan terus-menerus, syukur dan suara pujian ada pada mereka. Inilah ajaran bapak yang saleh itu, yang digunakannya dalam mendidik putera-puteranya yang baru, bukan hanya dengan kata-kata dan lidah, tetapi lebih-lebih dalam perbuatan dan kebenaran.

Pasal XVI. Perihal tempat tinggalnya di Rivo Torto dan perihal pemeliharaan kemiskinan

42. St. Fransiskus berkumpul dengan saudara-saudara lainnya di suatu tempat yang bemama Rivo Torto[41] di dekat kota Asisi. Di tempat itu ada sebuah gubuk yang telah ditinggalkan. Nah, di bawah atapnya hiduplah mereka yang sangat meremehkan rumah-rumah bagus lagi besar, dan berlindunglah mereka terhadap curahan hujan. Sebab seturut kata sang Santo, orang lebih cepat dari gubuk naik ke surga daripada dari istana. Di tempat itu bapak tersuci serta semua putera dan saudaranya hidup bersama-sama, dengan banyak pekerjaan dan kekurangan akan segala-galanya; sering sekali tiada roti untuk dimakan, maka mereka harus puas dengan umbi-umbian, yang mereka minta-minta di sana-sini di dataran Asisi dalam kesukaran mereka.

Tempat itu sangat sesak, sehingga mereka hampir tidak dapat duduk atau beristirahat. Namun tiada gerutu dan tiada keluh-kesah terdengar atas kesemuanya itu; tetapi dengan hati tenang jiwa mereka penuh suka-cita memelihara kesabaran. Setiap hari, malah senantiasa, St. Fransiskus dan orangorangnya mengadakan pemeriksaan batin secara seksama; dan ia tidak membiarkan sesuatu pun yang berbahaya bercokol di dalam hati mereka. Dengan ketertiban yang keras ia menjaga dirinya setiap saat. Nah, – seperti kadang-kadang terjadi, ketika pada suatu waktu keinginan daging menggodanya, maka ia menerjunkan dirinya ke dalam lubang penuh salju beku, – waktu itu sedang musim dingin – dan ia tinggal di dalam lubang itu, sampai segala godaan daging menghilang. Dan teladan matiraga sedemikian itu diikuti yang lain-lain yang dengan rajin sekali.

43. Ia mengajar mereka bukan hanya untuk-mencabuti cacat-cacat dan meinindas keinginan-keinginan daging, tetapi juga untuk mematiragakan indera lahiriah, yang membuat maut masuk ke dalam jiwa. Sebab pada waktu [42] itu kaisar Otto sedang melintasi daerah itu dengan semarak dan kemeriahan besar, untuk menerima mahkota kekaisaran duniawi. Tetapi bapak tersuci sendiri serta yang lain-lain tetap tinggal di dalam gubuk tersebut, yang letaknya tidak jauh dari jalan raya, dan tidak keluar untuk melihat dan juga tidak mengijinkan saudara-saudaranya untuk melihat. Hanya seorang saudara harus mewartakan terus-menerus kepada kaisar, bahwa kemuliaannya hanya berlangsung pendek saja. Santo yang mulia itu tengah terbenam dalam dirinya sendiri dan hidup dalam keleluasaan hatinya dan sedang menyiapkan kediaman yang layak bagi Allah dalam hatinya. Karena itu teriakan dari luar tidak menembus sampai ke telinganya dan tiada suara manapun dapat menggoncangkan dan menyelang tugas terbesar yang ditangahinya. Ia sangat sadar, bahwa ia mempunyai tugas apostolik. Karena itupun ia menolak mentah-mentah untuk merayu raja maupun pembesar.

44. Ia selalu berjerih-payah untuk memelihara kesederhanaan suci dan tidak membicarakan tempat yang sesak itu merintangi keleluasaan hati. Karena itu nama saudara-saudaranya ditulisnya pada balok gubuk itu, sehingga masing-masing yang mau berdoa atau beristirahat mengenali tempatnya dan ruang terbatas yang sempit itu tidak mengganggu keheningan jiwa. Selagi mereka tinggal di situ, maka datanglah pada suatu hari seorang petani menggiring keledai ke gubuk, tempat tinggal hamba Allah serta sahabat-sahabatpya. Agar jangan sampai dihalang-halangi, maka keledainya digiringnya masuk ke dalam dan berteriak: “Ayo masuk, kedatangan kita akan menguntungkan tempat ini.” Mendengar perkataan itu, St. Fransiskus bersedih hati. Ia mengetahui pikiran orang itu. Orang itu mengira, mereka mau tinggal di situ untuk memperluas tempat itu dan membangun rumah berderetderet. Segera St. Fransiskus keluar dan meninggalkan gubuk itu karena perkataan petani[43] itu dan berpindah ke tempat lain, tidak jauh dari situ, yang bemama Portiuncula, di mana seperti telah dikatakan di atas, gereja St. Maria sudah lama sebelumnya diperbaikinya. Ia tidak mau memiliki sesuatu sebagai milik, untuk dapat memiliki sepenuhnya segala-galanya dalam Tuhan.

Pasal XVII. Bagaimana St. Fransiskus mengajar saudara-saudaranya berdoa; perihal ketaatan dan kemurnian saudara-saudara

45. Pada waktu itu saudara-saudaranya meminta kepadanya, untuk mengajar mereka berdoa; sebab betul mereka hidup dalam kesederhanaan hati, namun mereka belum juga mengenal sembahyang berkala gerejani. Maka sahutnya kepada mereka: “Apabila kamu berdoa, katakanlah: “Bapa kami,” dan: “Kami menyembah Engkau, Kristus, (di sini) dan di semua gereja-Mu, yang ada di seluruh dunia, dan kami memuji Engkau, sebab Engkau menebus dunia dengan salibmu yang suci.”

Na, ini diusahakan saudara-saudara, murid-murid bapak yang saleh, untuk ditepati dengan sesaksama-sesaksamanya, sebab mereka bcrusaha memenuhi secermat-cermatnya bukan hanya apa yang dikatakan bapak St. Fransiskus kepada mereka sebagai nasihat persaudaraan atau perintah kebapaan, tetapi juga apa yang dipikirkan; bukan hanya apa yang diperintahkan, tetapi juga apa yang diharapkan, yaitu: “Seorang saudara yang menjadi bawahan harus segera taat sepenuhnya kepada saudara yang menjadi atasan.” – Maka di mana saja gereja berdiri, mereka membungkuk sampai ke tanah, pun kalau mereka tidak berada di sana tetapi bagaimanapun juga melihatnya dari jauh, dan dengan menundukkan badan dan jiwa ke arahnya, mereka menyembah Allah yang Mahakuasa sambil berkata: “Kami menyembah Engkau, Kristus, (di sini) dan di semua gereja di seluruh dunia,” sebagaimana telah diajarkan bapak suci kepada mereka. Dan yang tidak kurang menakjubkan ialah bahwasanya mereka melakukan itu pula di mana saja mereka melihat salib atau tanda salib, entah di tanah entah di dinding, entah di pohon entah di pagarpagar jalan.

46. Sebab mereka begitu dipenuhi dengan kesederhanaan suci, begitu terlatih dalam kejujuran hidup, begitu disemangati kemurnian hati, sehingga mereka sama sekali tidak tahu bermuka dua. Sebab seperti ada satu iman, demikian pun hidup satu roh dalam mereka, satu kemauan, satu cintakasih, kesepakatan hati, kerukunan tingkah laku, ulah keutamaan, kesamaan hati dan cinta dalam perbuatan. – Adapun mereka mengaku dosa kepada seorang imam praja, yang sungguh mempunyai nama yang amat buruk dan dicemoohkan semua orang akan kesalahannya. Walaupun keburukannya sudah diberitahukan banyak orang kepada mereka, namun mereka sekali-kali tidak mau percaya, dan oleh karenanya tidak berhenti mengaku dosa kepadanya seperti biasanya, dan tetap memberikan hormat sepatutnya kepadanya. Nah, ketika pada suatu hari imam itu sendiri atau imam lain berkata kepada salah seorang saudara: “Awas, saudara, janganlah engkau munafik,” maka langsung saja saudara itu karena perkataan imam itu percaya, bahwa ia munafik. Karena itu siang dan malam ia berkeluh-kesah dengan amat sedihnya. Dan atas pertanyaan saudara-saudaranya apa alasan dukacita yang besar dan kesedihan yang tidak biasa itu, ia menjawab, katanya: “Seorang imam telah mengatakan kepadaku perkataan itu, sehingga aku dihinggapi kesedihan sebesar ini, sampai aku tidak dapat memikirkan sesuatu lainnya.” Maka saudara-saudaranya menghiburnya dan menganjurkan kepadanya, supaya jangan percaya. Sahutnya kepada mereka: “Apa kata saudara-saudara? Adalah seorang imam yang mengatakan perkataan itu, mana bisa seorang imam mendustai aku? Jadi, karena seorang imam tidak berdusta, maka haruslah kita percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu benar.” Dalam kesederhanaannya lama ia berpikir begitu. Akhirnya karena perkataan bapak tersuci ia menjadi tenang. Adapun bapak tersuci menerangkan arti sebenarnya perkataan imam itu dan dengan amat halusnya mempermaafkan maksud imam itu. Tidak pernah seorang saudara dihinggapi kegelisahan batin yang terlampau besar, sehingga perkataan yang memberi semangat dari bapak tersuci tidak dapat menghalau awan gelap dan memulihkan cuaca terang.

Pasal. XVIII. Perihal kereta berapi dan perihal pengetahuan St. Fransiskus tentang saudara-saudara yang tidak hadir

47. Karena saudara-saudara di masa itu hidup sederhana di hadapan Allah dan hidup dengan penuh kepercayaan di depan orang-orang, maka patutlah mereka disukakan dengan wahyu Ilahi, dinyalakan oleh api Roh Kudus dan sedikit sekali dirisaukan oleh kesyugulan duniawi atau ketakutan yang menyesakkan dan kekuatiran, maka mereka menyanyikan, bukan hanya pada waktu-waktu yang telah ditentukan, tetapi juga pada saat-saat yang disukai, dalam lagu roh mereka, Bapa Kami dengan suara bermohon. Pada suatu malam bapak St. Fransiskus secara badaniah berada jauh dari mereka. Kira-kira di tengah malam, sementara beberapa saudara beristirahat dan yang lain-lain berdoa dengan penuh cinta dalam keheningan, tiba-tiba masuklah kereta berapi yang berkilau-kilau ke dalam, lewat pintu kediaman mereka dan berjalan kian-kemari dua sampai tiga kali disepanjang ruangan. Di atas kereta itu bertengger bola yang besar sekali, yang mirip matahari kelihatannya, dan membuat malam itu terang benderang. Saudara-saudara yang berjaga, tertegun dan yang beristirahat terkejut bangun dari tidumya; dan mereka sekalian merasakan kecerlangan sinarnya tidak kurang di dalam hati daripada di dalam tubuh. Setelah mereka berkumpul bersama-sama, mereka mulai bertanya-tanya, apa gerangan itu maknanya. Tetapi berkat kekuatan dan anugerah cahaya sedemikian itu suara hati mereka kentara sekali bagi satu sama lain. Akhirnya mereka memahami dan mengetahui, bahwa itu adalah jiwa bapak suci yang bersinar dalam cahaya yang terang-benderang dan yang karena karunia kemurniannya yang ulung dan karena perhatiannya yang penuh kasih sayang kepada putera-puteranya patut memperoleh anugerah istimewa sekali dari Tuhan.

48. Nah, dari petunjuk-petunjuk yang jelas mereka menyaksikan dan mengalami, bahwa rahasia-rahasia hati mereka bukan tidak diketahui bapak tersuci. Berapa kali saja, tanpa diberitahu seorang jua pun, tetapi berkat wahyu Roh Kudus, ia mengetahui perbuatan-perbuatan saudara-saudara yang berada jauh dan ia menyingkapkan rahasia-rahasia hati dan mendugai suara hati mereka. Beberapa kali saja saudara dinasihatinya dalam tidur dan diperintahkannya apa yang harus dilakukan, dan dilarangnya apa yang tidak boleh dilakukan. Berapa orang saja diberitahu sebelumnya tentang kemalangan yang akan menimpa diri mereka, yang kebahagiaannya sekarang masih tampak di muka mereka. Demikian pun akhir kezaliman banyak orang diketahuinya sebelumnya dan diberitahukannya kepada mereka, bahwa rahmat keselamatan sudah dekat. Bahkan jika seseorang, karena kemurnian dan kesederhanaan jiwanya patut mendapat hiburan terang, maka hiburan khusus diberikan kepadanya, dengan menampakkan diri kepadanya, dengan cara yang tidak diketahui orang lain. – Antara lain aku hendak menceriterakan sebuah contoh, yang telah kudengar dari saksi-saksi yang terpercaya. Saudara Yohanes dari Florence[44] telah diangkat St. Fransiskus menjadi minister (provinsial) saudara-saudara di Provence. Dan karena ia mengadakan kapitel di provinsi itu juga, maka Allah dalam kasih sayang-Nya yang lazim itu membuka pintu pewartaannya dan membuat semua saudara menjadi pendengar yang rela dan penuh perhatian. Di antara mereka ada seorang saudara imam, yang cemerlang namanya dan lebih cemerlang lagi hidupnya, Monaldus[45] namanya, yang kebajikannya didasarkan atas kerendahan hati dan mendapat dukungan doa yang terus-menerus dan lindungan perisai kesabaran. Kapitel itu dihadiri juga oleh saudara Antonius,[46] yang pikirannya dibuka oleh Tuhan, untuk mengerti Kitab Suci dan untuk mewartakan kata-kata yang lebih manis dari madu tentang Yesus di depan rakyat. – Sementara ia berkhotbah dengan amat hangat dan amat bakti di depan saudara-saudara tentang pokok “Yesus dari Nasaret, Raja orang Yahudi,” maka saudara Monaidus tersebut memandang ke pintu rumah, tempat saudara-saudara berkumpul bersama-sama. Di sana dilihatnya dengan mata badaniahnya St. Fransiskus melayang di udara, dengan tangan terentang dalam bentuk salib, memberkati saudara-saudara. Dan semua tampak dipenuhi dengan hiburan Roh Kudus, dan sukacita yang dirasakan mereka sebagai sesuatu yang menyelamatkan, membuat bagi mereka cukup dapat dipercaya apa yang kemudian didengar tentang penglihatan dan kehadiran bapak yang termulia itu.

49. Bahwasanya ia mengetahui rahasia hati orang, maka dari antara banyak kesaksian, yang berulangkali dialami banyak orang, akan diketengahkan satu kesaksian, yang sama sekali tidak diragukan. Seorang saudara, Rizzerius[47] namanya, yang luhur asal-usulnya tetapi lebih luhur lagi kesusilaannya, pencinta Allah dan penghina diri sendiri, menaruh harapan suci dan keinginan hangat untuk dapat memperoleh dan memiliki perkenan bapak St. Fransiskus. Tetapi ia takut sekali, kalau-kalau St. Fransiskus, karena salah satu alasan tersembunyi, enggan terhadapnya dan mengecualikan dia dari perkenanan kasih sayangnya. Saudara yang amat takwa itu mengira, justru karena ia amat takwa, bahwa siapa saja yang dikasihi St. Fransiskus dengan cinta mesra, akan patut juga memperoleh perkenanan Ilahi. Sebaliknya ia pun beranggapan, bahwa orang yang tidak direlai dan diperkenan St. Fransiskus akan kena murka Hakim tertinggi. Nah, hal itu dipusingkan saudara tersebut dalam hatinya; dan dengan diam-diam ia sering memperbincangkan dengan dirinya sendiri, tanpa menyingkapkan rahasia pikirannya kepada seorang juapun.

50. Ketika pada suatu hari bapak suci berdoa di dalam biliknya, dan saudara tersebut dirisaukan lagi oleh pikiran yang biasa itu dan pergi ke tempat[48] itu, maka hamba Allah yang suci tahu akan kedatangannya dan mengerti apa yang dipusingkan dalam hatinya. Segera ia menyuruh panggil saudara itu dan berbicara kepadanya: “Nak, janganlah godaan satu pun menggelisahkan dikau, dan janganlah pikiran satu pun memahitkan hatimu. Sebab engkau amat tersayang bagiku, dan ketahuilah, bahwa engkau ada di antaira orang-orang yang terkarib bagiku dan patut untuk kasih sayang dan persahabatanku. Masuklah dengan tenang ke dalam, kepadaku, bilamana engkau mau, dan berbicaralah dengan ramah dengan aku.” Saudara tersebut tertegun dan amat keheran-heranan; dan semenjak itu bertambah besarlah hormatnya, dan semakin ia berkembang dalam perkenan bapak suci, semakin besar pula kepercayaannya kepada kerahiman Allah.

Bapak yang kudus, alangkah berat mesti menanggung kepergianmu dan melepaskan harapan akan dapat menemukan bapak yang setara dengan dikau di bumi ini. Kami mohon, bantulah kami dengan doa restumu, yah kami, yang kaulihat terjerat sama sekali dalam noda kesalahan dosa. Ketika engkau telah dipenuhi dengan Roh para orang benar, engkau melihat sebelumnya masa depan dan mengetahui masa sekarang, dan engkau pun selalu mengutamakan citra kerendahan hati suci, untuk menghindarkan segala kepongahan.

Akan tetapi baiklah kita kembali lagi kepada bahan pokok di atas dan mengikuti urutan sejarah.

Pasal XIX. Bagaimana ia menjaga saudara-saudara; dan perihal penghinaan diri sendiri dan perihal kerendahan hati yang sejati

51. Maka St. Fransiskus kembali secara badaniah kepada saudara-saudaranya; karena secara rohaniah, seperti telah dikatakan, ia tidak pernah menjauhkan diri daripada mereka. Dengan pengawasan yang hati-hati dan penuh perhatian, diselidikinya tingkah laku semua saudara; dan demi keuntungan mereka ia selalu ingin mengetahui perihal anak buahnya. Tiada sesuatu pun dibiarkannya luput dari hukuman, jika ia melihat orang melakukan sesuatu yang kurang lurus. Pertama dihakiminya kesalahan-kesalahan rohaniah, kemudian diadilinya kesalahan-kesalahan badaniah, dan akhimya dihapusnya segala kesempatan, yang biasanya membuka pintu lebar bagi dosa-dosa. Dengan segala semangat dan keprihatinan dijaganya tuan puteri kemiskinan suci. Agar jangan ada kelebihan sedikit pun, maka ia tidak membiarkan adanya periuk kecil pun di rumah, karena tanpa itu kebutuhan yang perlu sekali bagaimanapun juga dapat terpenuhi. Sebab katanya: mustahillah kiranya memenuhi keperluan, tanpa menuruti hawa nafsu. – Makanan yang dimasak hampir tidak atau jarang sekali dimakannya. Jika itu dilakukannya, maka itu dimakannya dengan ditaburi abu atau rasa rempah-rempah dihilangkannya dengan air dingin. Betapa seringnya waktu ia menjelajahi dunia untuk mewartakan Injil Suci ia diundang makan oleh pembesar-pembesar tinggi yang kagum dan menaruh rasa hormat kepadanya. Ia memakan sedikit dari daging, hanya untuk menepati Injil Suci; adapun sisanya, yang seakan-akan dimakannya, dimasukkan ke dalam jubahnya, sementara tangannya tetap diangkatnya ke arah mulutnya. agar jangan sampai diketahui orang apa yang diperbuatnya. Apa gerangan akan kukatakan tentang minum anggur, sebab air saja ia tidak mau meminum secukupnya, meski ia ingin sekali minum karena amat kehausan sekalipun?

52. Di manapun ia diterima sebagai tamu, ia tidak membolehkan kasur atau selimut dibentangkan di atas tempat tidur, tetapi ia merebahkan anggota tubuhnnya telanjang ke atas lantai, yang diberinya tunik-dalam. Bilamana ia hendak menyegarkan tubuhnya yang keletihan dengan tidur nyenyak, maka sering kali ia duduk tanpa membaringkan tubuhnya, dengan menggunakan kayu atau batu sebagai bantal. – Apabila keinginan timbul untuk makan sesuatu, – hal mana memang wajar – maka ia toh kemudian tidak sampai memakan itu. Pernah terjadi, bahwa ketika ia sakit berat, ia memakan sepotong daging ayam. Ketika kekuatannya agak pulih kembali, ia masuk kota Asisi. Setibanya di pintu gerbang kota, maka seorang saudara, yang menemaninya, disuruhnya mengikatkan tali pada lehernya dan menuntun dia seperti penyamun di sepanjang kota, sambil meneriakkan dengan suara lantang seperti seorang bentara: “Pandanglah sungguh-sungguh pelahap ini, yang menggemukkan dirinya dengan daging ayam, yang telah dimakannya diluar pengetahuan kalian!” Maka banyak orang datang berduyun-duyun untuk melihat tontonan yang aneh itu, dan dengan mencucurkan air mata dan berkeluh-kesah mereka berseru: “Wahai atas kami orang celaka ini! Sepanjang hidup, kami hanya menyembelih dan makan minum dengan berlebih-lebihan.” Maka remuk redamlah hati mereka dan dengan teladan demikian itu, mereka digerakkan hatinya, untuk menempuh hidup yang lebih baik.

53. Banyak hal semacam itu sering diperbuatnya, untuk menghinakan dirinya sendiri secara sempurna dan untuk menganjurkan kepada yang lain-lain, untuk mengusahakan kehormatan abadi. Bagi dirinya sendiri ia telah menjadi bejana yang berharga. Dengan tidak dibebani ketakutan dan kekuatiran sedikit pun untuk tubuhnya, ia dengan gagah berani mengumpankan tubuhnya kepada siksaan, agar ia, karena cinta kepada tubuhnya jangan sampai terpaksa menginginkan sesuatu yang fana. – Sebagai penghina sejati dirinya sendiri, ia mengajar semua secara berhasil dengan perkataan dan teladan, untuk menghinakan diri sendiri. Apa gerangan yang terjadi? Walaupun ia sangat dihargai dan patut dipuji oleh sekalian orang, namun ia sendiri memandang dirinya paling hina dina, dan ia sendirian menghinakan dirinya sendiri dengan bersemangat. – Sering kali, bilamana ia dihormati semua orang, ia merasa tertusuk dukacita yang amat besar; dan untuk menjauhkan perkenan insani dari depan pintunya, maka disuruhnya seorang dari mana saja mencaci-makinya. – Dipanggilnya salah seorang saudara kepadanya, katanya: “Demi ketaatan kuperintahkan kepadamu, agar engkau mencacimaki aku dengan kasar dan berkata sebenarnya terhadap kebohongan orang-orang itu!”

Dan jika saudara itu, kendati enggan, menamakan dia orang udik, pemalas dan orang yang tak berguna, maka hamba Allah itu tersenyum dan menyambut dengan gembira, katanya: “Semoga Tuhan memberkati engkau, karena engkau berkata benar sekali. Hal-hal semacam ini baik didengar anak Pietro de Bernardone.”[49] Dengan perkataan itu ia mengenangkan kembali asal-usul rendah keluarganya.

54. Untuk menunjukkan, bahwa ia sungguh patut dihinakan sepenuhnya dan untuk memberikan teladan kepada yang lain-lain, untuk mengakui dengan terus terang, maka ia tidak malu-malu, jika berbuat salah dalam salah satu hal, mengakui kesalahannya di dalam khotbah di depan seluruh rakyat. Dan apabila kebetulan ia ketumbuhan pikiran yang tidak baik terhadap seseorang atau mengeluarkan kata-kata yang menusuk hati seseorang, maka ia segera datang dengan rendah hati kepada orang, terhadap siapa ia berpikir dan berkata tidak baik itu, dan minta maaf kepadanya. Walaupun suara hatinya mengatakan ketidak-salahannya, namun hatinya tidak dibiarkannya tenang, sampai ia berusaha dengan segala keprihatinan, untuk mengobati dan memulihkan luka-luka dalam hati. Ia ingin maju dalam segala macam pekerjaan baik, tetapi bukannya agar ia terpandang. Karena itu dengan segala cara ia menghindarkan kekaguman orang, agar jangan sampai ia jatuh ke dalam kesia-siaan.

Ah, celaka kami, yang kehilangan bapak yang pantas, suri teladan segala kebaikan dan kerendahan hati. Memang, karena keputusan yang adil kami kehilangan bapak, sebab selagi bapak hidup dengan kami, kami tidak berusaha mengenal bapak baik-baik.

Pasal XX. Bagaimana ia karena keinginannya akan kemartiran mula-mula pergi ke Spanyol, kemudian ke Suriah; dan bagaimana para pelaut dilepaskan Allah dari bahaya karena dia, dengan perlipat-gandaan makanan

55. Bernyalakan cintakasih Ilahi bapak St. Fransiskus selalu berusaha melakukan perbuatan-perbuatan kepahlawanan dan bersedia menempuh jalan perintah-perintah Allah serta ingin mencapai puncak kesempumaan. Nah, dalam tahun keenam pertobatannya, maka karena keinginannya yang bernyala-nyala akan kemartiran suci, ia mau berlayar ke jajahan Suriah,[50] untuk mewartakan iman Kristen dan pertobatan kepada orang- ang Sarasin dan orang-orang tak beriman lainnya. Ketika ia naik sebuah kapal untuk berlayar ke sana, maka karena tiupan angin haluan, ia serta penumpang-penumpang lainnya terdampar di jajahan Slavonia.[51] Melihat, bahwa ia dikecewakan dalam keinginan bangatnya, maka tidak lama kemudian ia minta kepada pelaut-pelaut yang hendak berlayar ke Ankona untuk ikut serta, sebab dalam tahun itu tidak ada kapal satu pun yang dapat berlayar ke jajahan Suriah. Ketika mereka menolak mentah-mentah permintaannya, karena ia tidak dapat membayar biaya, maka dengan penuh kepercayaan kepada kebaikan Allah, hamba Allah yang suci serta temannya masuk dengan sembunyi-sembunyi ke dalam kapal. Berkat penyelenggaraan Ilahi, datanglah pada waktu itu seseorang membawa keperluan hidup ke kapal, di luar pengetahuan semua orang. Dipanggilnya seorang pelaut yang takwa kepada Tuhan, dengan berkata kepadanya: “Bawalah kesemuanya ini sertamu dan disaat gawat berikanlah ini dengan jujur kepada penumpang-penumpang gelap yang miskin di kapal.” Ketika angin ribut besar timbul dan para pelaut mesti mendayung berhari-hari lamanya dan persediaan makanan habis, maka terjadilah, bahwa hanya tinggal bahan makanan teruntuk Fransiskus yang miskin itu saja. – Maka berkat rahmat dan kekuatan Allah bahan makanan itu berlipat-ganda sedemikian rupa, hingga makanan itu mencukupi kebutuhan sekalian orang sepenuhnya sampai pelabuhan Ankona, walaupun pelayaran ke sana masih berlangsung beberapa hari lamanya. Ketika pelaut-pelaut melihat, bahwa mereka, karena hamba Allah Fransiskus, terlepas dari bahaya-bahaya laut, mereka lalu bersyukur kepada Allah yang Mahakuasa, yang selalu menyatakan diri-Nya penuh ajaib dan kasih sayang dalam hamba-hambaNya.

56. Hamba Allah yang mahatinggi,. Fransiskus, lalu meninggalkan laut dan menjelajahi daratan. Dengan bajak sabda ia membelah tanah, menaburkan benih kehidupan dan menghasilkan buah yang terberkati. Segera amat banyak orang yang baik dan pantas, rohaniwan dan awam, berpaling dari dunia, membuang setan dengan perwira dan karena rahmat dan kehendak Allah yang maha tinggi lalu mengikuti Fransiskus dalam cara hidup dan cita-citanya. – Walaupun Fransiskus laksana pokok anggur Injil menghasilkan buah pilihan yang berlimpah-limpah, namun niatnya yang luhur dan keinginannya yang bernyala-nyala akan kemartiran tidak pernah membeku. Sebab tidak lama kemudian ia bertolak ke Maroko untuk mewartakan Injil Kristus kepada Miramolin[52] (= Emir el Mukmin) dan orang-orangnya. Ia didorong-dorong oleh keinginan yang begitu besar, sehingga ia kadang-kadang mendahului temannya,[53] dan dalam kegandrungan rohaninya ia pergi bergegas-gegas untuk melaksanakan niatnya. Tetapi Allah yang Mahabaik, yang dalam kerelaan-Nya sudi ingat akan daku serta akan banyak saudara, berterang-terangan menentangnya, ketika ia sudah sampai ke Spanyol; dan agar ia jangan melanjutkan perjalanannya, maka dengan membuat ia jatuh sakit, Ia memanggil dia kembali dari perjalanan yang telah dimulai itu.[54]

57. Setibanya kembali di gereja Santa Maria di Portiuncula, maka tidak lama kemudian[55] datanglah beberapa orang terpelajar dan bangsawan bergabung dengan sebulat hati dengannya. – Orang-orang itu diperlakukannya dengan penuh hormat dan pantas, justru karena ia amat luhur budinya dan beralap-santun. Dengan sopan ia memberi masing-masing hormat yang sewajarnya. Karena ia sungguh berperasaan amat. halus, maka dengan penuh pengertian ia mengindahkan pangkat dan tingkatan semua orang. – Namun, ia tak kunjung tenang hatinya, untuk melaksanakan niatnya dengan lebih bersemangat, terdorong oleb keinginan hatinya yang hangat itu. Sebab dalam tahun ketigabelas[56] pertobatannya ia bertolak ke jajahan Suriah, karena pertempuran antara lasykar Kristen dan lasykar kaum tak beriman semakin hebat dan sengit. Ia membawa sertanya seorang teman. Ia tidak takut menghadap wajah Sultan kaum Sarasin.[57] – Tetapi siapa gerangan mampu menceriterakan, bagaimana ia dengan tabah hati tampil di hadapan Sri Sultan, dan bagaimana ia dengan kekuatan batin bicara kepada beliau, dan bagaimana ia dengan kemahiran bicara dan penuh keyakinan menangkis caci maki dan cemooh terhadap ajaran Kristen? Sebab sebelum ia menghadap Sri Sultan, ia ditangkap oleh lasykamya, ditimbuni dengan cercaan dan dianiaya denan cambukan. Namun ia tidak gentar. Ia diancam dengan siksaan, namun ia tidak takut. Bahkan terhadap ancaman maut pun ia tidak gemetar. Meskipun ia dicati-maki banyak orang, yang menaruh sikap permusuhan dan rasa benci, namun akhirnya ia diterima Sri Sultan dengan penuh hormat. Beliau menghormatinya sedapat-dapatnya dan berusaha dengan menawarkan banyak hadiah untuk mencondongkan hatinya kepada harta kekayaan dunia. Tetapi ketika beliau melihat, bahwa hamba Allah dengan amat tabahnya meremehkan kesemuanya itu bagaikan tinja saja, maka beliau dipenuhi dengan keheranan besar dan memandang dia sebagai orang yang tiada tara bandingannya di dunia. Perkataannya sangat mengesankan bagi beliau, dan dengan senang hati beliau mendengarkan dia. – Tetapi dalam kesemuanya itu Tuhan tidak memenuhi keinginan hangatnya. Tuhan menyediakan anugerah yang khas sekali baginya.[58]

Pasal XXI. Perihal khotbah Fransiskus kepada burung-burung dan perihal ketaatan sekalian makhluk

58. Setelah sementara itu – seperti telah dikatakan, banyak orang bergabung dengan saudara-saudara, maka bapak St. Fransiskus mengadakan perjalanan di lembah Spoleto. Ia tiba di tempat dekat Bevagna.[59] Di sana berkumpul banyak sekali burung dari pelbagai jenis, antara lain burung merpati, burung gagak kecil dan yang biasanya dinamakan burung engkak. Ketika hamba Allah, Fransiskus melihat burung-burung itu, maka karena ia amat bergairah dan spontan dan menaruh perasaan kasih sayang dan kelembutan hati terhadap makhluk-makhluk yang lebih rendah dan tidak berakal budi, ia meninggalkan teman-temannya di jalan dan berjalan cepat-cepat ke arah burung-burung itu. Ketika ia sudah berada di dekatnya, maka dilihatnya bahwa burung-burung itu menantikan dia, lalu ia memberi salam kepada burung-burung itu secara biasa. Tetapi ia keheran-heranan tidak sedikit, bahwasanya burung-burung tidak lari beterbangan sebagaimana lazimnya. Dipenuhi dengan suka-cita tak terhingga, hamba Allah minta dengan rendah hati, untuk mau mendengarkan sabda Allah.

Dan kepada banyak hal yang dikatakannya kepada burung-burung itu, ditambahkannya pula perkataan ini: “Saudara-saudaraku, burung-burung, kamu harus memuji banyak-banyak Penciptamu dan selalu mencintai Dia, yang memberi kamu bulu sebagai pakaian, sayap untuk terbang dan barang apa yang kamu perlukan. Allah telah membuat kamu mulia di antara makhluk-makhluk-Nya dan menyediakan kediaman bagimu di udara yang murni. Sebab walaupun kamu tidak menabur dan tidak menuai, namun kamu dilindungi-Nya dan diurus-Nya tanpa kesusahan sedikit pun dari pihakmu.” Atas perkataan ini burung-burung bersorak-sorai secara ajaib seturut kodrat mereka, sebagaimana dikatakan oleh hamba Allah sendiri dan oleh saudarasaudara yang menyertainya, dan mulai memanjangkan lehernya, membentangkan sayapnya, membuka paruhnya dan memandang hamba Allah. Adapun hamba Allah berjalan kian kemari di tengah-tengah mereka, sementara jubahnya menyentuh kepala dan badan burung-burung itu. Akhirnya mereka diberkatinya. Dan setelah tanda salib diberikannya atas mereka, mereka diijinkannya terbang ke tempat lain. Adapun bapak suci serta teman-temannya melanjutkan perjalanan dengan riang hati seraya bersyukur kepada Allah, yang dihormati dan diakui dengan rendah hati oleh sekalian makhluk (sebagai Pencipta mereka). – Karena ia telah menjadi sederhana karena rahmat, bukan karena pembawaan kodrat, maka ia mulai merasa bersalah atas kelalaian, bahwa ia dahulu tidak mewartakan sabda kepada burung-burung, padahal mereka ternyata mendengarkan sabda Allah dengan penuh hormat. Maka terjadilah, bahwasannya sejak hari itu ia menganjurkan dengan giatnya kepada sekalian burung, sekalian hewan dan sekalian binatang merayap dan bahkan kepada makhluk-makhluk yang tidak bernyawa untuk memuji dan mencintai Pencipta, karena hari demi hari ia dapat menyaksikan, karena pengalamannya sendiri, betapa patuhnya mereka itu, bilamana ia menyerukan nama Penyelamat.

59. Pada suatu hari Fransiskus pergi ke kota kecil, Alviano namanya, untuk mewartakan sabda Allah. Ia naik ke tempat yang lebih tinggi, agar ia dapat dilihat semua orang, dan ia mulai meminta keheningan. Ketika semua orang diam dan berdiri dengan penuh hormat, maka beberapa ekor burung layang-layang sibuk membuat sarang di tempat itu juga sambil mengoceh beramai-ramai. Fransiskus tidak dapat didengar orang karena ocehan burung-burung itu. Maka ia berkata kepada burung-burung itu: “Saudara-saudaraku, burung layang-layang! Kamu sudah cukup berbicara; kini sudah tiba saatnya aku berbicara juga. Dengarkanlah sabda Tuhan, dan hendaklah diam dan tenang sampai pewartaan sabda Tuhan selesai.” Maka para hadirin tertegun dan keheran-beranan ketika burung-burung itu serentak diam dan tidak bergerak dari tempat itu sampai khotbah berakhir. Ketika orang-orang melihat tanda itu, mereka diliputi dengan kekaguman dan berkata: “Sungguh kudus orang ini dan sahabat Allah yang Mahatinggi!” Dengan bergegas-gegas mereka menghampirinya untuk sekurang-kurangnya menjamah jubahnya sambil memuji dan memuliakan Allah. Dan sungguh ajaiblah, bahwasannya makhluk-makhluk yang tak berakal-budi pun mengetahui kagungannya yang ikhlas terhadap mereka dan tahu menghargai cintanya yang lemah lembut itu.

60. Pada suatu ketika Frarsiskus singgah di kampung Greccio.[60] Seorang saudara membawa kepadanya seekor kelinci kecil, yang ditangkap dengan jerat dan masih hidup. Ketika hamba Allah melihat kelinci, ia terharu dan berkata dengan penuh kasih sayang: “Saudara kelinci kecil, datanglah kemari. Mengapa engkau-membiarkan dirimu terpedaya?” Segera kelinci itu dilepaskan saudara yang membawanya, dan lari kepada hamba suci, dan tanpa dipaksa siapapun juga, kelinci melompat ke pangkuannya, seakan-akan tempat itu, tempat yang paling aman. Setelah beristirahat sejenak di situ, maka diusap-usap bapak suci dengan perasaan keibuan, lalu dilepaskannya supaya kembali dengan bebas ke hutan. Sering kelinci itu ditaruh di tanah, tetapi tiap kali melompat kembali ke pangkuannya. Akhirnya ia menyuruh saudara-saudaranya membawa kelinci kecil itu ke butan kembali. – Ketika ia berada di suatu pulau di danau Perugia, terjadilah yang serupa dengan seekor kelinci, binatang yang tidak jinak.

61. Perasaan kasih sayang ada padanya juga terhadap ikan. Bilamana ikan ditangkap dan ia sempat, maka ikan yang masih hidup dilemparkannya kembali. ke dalam air dan diberinya nasihat, untuk lebih berhati-hati, agar jangan sampai tertangkap untuk kedua kalinya. – Ketika ia pada suatu hari duduk diatas perahu di danau Rieti di dekat sebuah pelabuhan, maka seorang nelayan menangkap seekor ikan besar, yang biasanya dinamakan tambera, dan mempersembahkannya kepada bapak suci. Hamba Allah menerimanya dengan suka hati dan rela, dan mulai menyebutnya saudara. Ikan itu dilemparkannya kembali ke dalam air di luar perahu, lalu ia memuji nama Allah dengan khidmat. Adapun ikan itu bermain-main beberapa lama, yaitu selama Fransiskus bertekun dalam doa, di dapat perahu itu dan tidak mau pergi dari tempat ikan itu dilemparkan ke dalam air, sampai hamba Allah yang suci, setelah selesai berdoa, memberinya ijin untuk berenang dari situ.

Demikianlah bapak Fransiskus yang mulia melangkah di jalan ketaatan dan menanggung kepatuhan kepada kehendak Ilahi dengan sempurna, dan oleh karenanya memperoleh kurnia besar dari Allah, sampai makhluk-makhluk pun taat kepadanya. – Sebab air pun diubahnya menjadi anggur, ketika ia pada suatu hari menderita sakit berat di pertapaan San Urbano, ketika ia meminumnya maka ia sembuh kembali begitu cepat, sehingga semua orang percaya – dan itu pun tepat adanya – bahwa Tuhan membuat sebuah mukzizat. – Dengan sesungguhnya ia mestilah seorang kudus, jikalau makhluk-makhluk taat kepadanya dan atas isyaratnya unsur-unsur pun berubah untuk penggunaan-penggunaan lain.

Pasal XXII. Perihal khotbahnya di Askoli; dan bagaimana dengan benda-benda yang pernah dijamahnya orang-orang sakit disembuhkan, walaupun ia sendiri tidak hadir

62. Waktu bapak Fransiskus yang terhormat, sebagaimana telah dikatakan, berkhotbah kepada burung-burung, ja tengah menjelajahi kota-kota dan kampung-kampung, dan dimana pun juga ia menaburkan benih yang mendatangkan berkah dan ia tiba di kota Askoli. Ketika ia di sana seperti lazimnya menyampaikan sabda Allah dengan penuh semangat, maka oleh perubahan yang dikerjakan tangan kanan Allah yang Mahatinggi hampir seluruh rakyat dipenuhi dengan rahmat dan bakti yang begitu besar, sehingga orang-orang dalam keinginan mereka untuk mendengar dan melihat dia sampai saling injak-menginjak. Dan tigapuluh orang, rohaniwan dan awam, menerima jubah ordo suci dari tangannya sendiri.

Begitu besar kepercayaan para pria dan wanita, dan begitu dalam hormat mereka kepada hamba Allah yang suci itu, sehingga siapa saja merasa bahagia, kalau dapat menjamah jubahnya.

Apabila ia memasuki kota, maka para rohaniwan bersukacita, lonceng-lonceng berdentangan, para pria bersorak-sorai dan para wanita bergembira, anak-anak bertepuk tangan dan seringkali mencabut ranting-ranting pepohonan dan menyongsong dia seraya bernyanyi. Kebusukan ibadah dipermalukan dan iman Gereja berjaya, dan karena kaum beriman berpekik gembira, maka kaum heretik bersembunyi. Sebab pada hamba Allah nampak tanda-tanda kesucian yang begitu besar, sehingga tiada seorang pun berani melawannya dengan kata-kata, karena rakyat yang banyak itu hanya mengindahkan dia saja. Ia yakin, bahwa iman kepada Gereja Roma Kudus harus dipegang teguh, dihormati dan diikuti; sebab di dalamnya semata-mata terletak keselamatan untuk semua yang harus diselamatkan. Hamba Allah menghormati imam-imam, dan menaruh cinta yang besar kepada setiap tingkatan gerejani.

63. Orang-orang suka membawa roti kepadanya, untuk diberkatinya. Roti itu lalu disimpan mereka agak lama, dan bilamana mereka memakannya, maka mereka disembuhkan dari berbagai penyakit. – Sering kali juga orang-orang dalam kepercayaan mereka yang besar menyobek sedikit dari jubahnya, sehingga ia kadang-kadang kelihatan seakan-akan telanjang. Dan apa yang lebih mengharukan lagi ialah kalau bapak suci menjamah barang sesuatu dengan tangannya, maka karena barang itu pun dipulihkan pula kesehatan sementara orang. – Ketika seorang wanita hamil, yang tinggal di sebuah rumah kecil di daerah Arezzo, sampai kepada saatnya untuk melahirkan, maka ia menderita sakit bersalin beberapa hari lamanya. Karena tiada tertanggung lagi penderitaaannya, maka ia melayang-layang antara hidup dan mati. Nah, tetangga-tetangganya dan kaum kerabatnya mendengar, bahwa St. Fransiskus dalam perjalanannya menuju sebuah pertapaan akan lewat jalan itu. Sementara mereka menunggu-nunggu, maka terjadilah bahwa St. Fransiskus lewat jalan lain ke pertapaan tersebut. Sebab hamba Allah berkuda ke sana, karena ia amat lemah dan sakit. Tetapi setelah tiba di sana, maka kuda itu dikirimnya kembali dengan perantaraan seorang saudara, Petrus namanya, kepada orang yang telah meminjamkannya demi cintakasih kepadanya. Saudara Petrus yang hendak mengembalikan kuda itu menempuh jalan yang lewat rumah wanita yang menderita hebat itu. Segera setelah orang-orang dari tempat itu melihatnya, mereka bergegas-gegas menjemputnya, karena mereka mengira, bahwa dia itu St. Fransiskus. Tetapi ketika mereka mengetahui, bahwa dia itu bukan sang santo, maka mereka kecewa sekali. Akhirnya mereka mulai bertanya-tanya, kalau-kalau mereka dapat menemukan barang sesuatu yang pernah dijamah tangan St. Fransiskus. Setelah lama mencari-cari, akhimya mereka menemukan tali kekang yang dipegangnya selama berkuda. Mereka lalu melepaskan kekang dari mulut kuda, yang telah ditunggangi bapak suci, dan menaruh tali kekang, yang telah dipegang sang santo dengan tangannya sendiri, di atas wanita itu. Maka segera bahaya yang tak terkuasai itu lenyap, dan wanita itu melahirkan anaknya dengan sukacita dan selamat.

64. Walfridus, seorang penduduk Citta della Pieve[61], orang saleh yang dengan seisi rumahnya mengabdi dan takwa kepada Allah, memiliki seutas tali, yang pemah digunakan St. Fransiskus sebagai ikat pinggang. Maka terjadilah, bahwa di daerah itu ada banyak pria dan wanita yang tidak sedikit jumlahnya menderita pelbagai penyakit dan demam.

Nah, orang tersebut di atas pergi ke rumah orang-orang yang sakit dan memberi para penderita minum air yang dicelupi tali pinggang atau dicampuri dengan serabut tali itu. Maka dalam nama Kristus semua memperoleh kesehatan mereka. – Semuanya itu terjadi. tanpa kehadiran St. Fransiskus, bahkan sesungguhnya jauh lebih banyak dari itu. Ceritera yang panjang lebar pun kiranya tidak cukup untuk mengutarakan ebagian saja. Tetapi dari keajaiban-keajaiban, yang Tuhan Allah kita berkenan mengerjakannya dengan kehadiran hamba-Nya, hendak kami sisipkan beberapa buah saja secara singkat dalam karya ini.

Pasal XXIII. Bagaimana ia menyembuhkan orang lumpuh di Toskanelia dan orang yang kena pendarahan otak di Narni

65. Sekali peristiwa, ketika hamba Allah, St. Fransiskus, menjelajahi pelbagai daerah yang agak jauh untuk mewartakan kerajaan Allah, maka ia sampai ke sebuah kota, Toskanella namanya. Ketika ia sebagaimana lazimnya menaburkan benih kehidupan, maka seorang satria dari kota itu menjamunya. Satria itu mempunyai anak tunggal, yang lumpuh dan lemah seluruh tubuhnya. Anak itu, walaupun masih kecil namun telah beberapa tahun disapih dan masih tinggal di dalam buaian. Ayah anak itu melihat betapa besarnya kekudusan hamba Allah itu, maka ia bersujud dengan rendah hati di depan kakinya dan memohon kesembuhan anaknya kepadanya. Tetapi Fransiskus menganggap dirinya tidak patut dan tidak layak untuk kekuasaan dan rahmat sebesar itu, dan lama ia menolak untuk melakukan itu. Akhirnya atas desakan permohonan yang bertubi-tubi dari orang itu, hamba Allah setelah memanjatkan doa lalu menumpangkan tangan di atas anak kecil itu, memberinya berkah dan memperdirikannya. Dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus segera kanak-kanak itu bangun sembuh di depan mata hadirin, yang bersukacita karenanya, dan mulai berjalan kian kemari di sepanjang rumah.

66. Pada suatu ketika hamba Allah Fransiskus sampai ke Narni dan tinggal beberapa hari lamanya di sana. Seorang penduduk kota itu, Petrus namanya, lumpuh terbaring di tempat tidurnya. Sudah lima bulan lamanya ia tidak dapat menggunakan anggota-anggotanya, sehingga ia sama sekali tidak dapat bangun, tidak dapat bergerak sedikit pun, tangan dan kepalanya kehilangan daya; hanya lidah dapat digerakkannya dan mata dapat dibukanya. Ketika ia mendengar, bahwa St. Fransiskus telah tiba di Narni, ia mengirim utusan kepada uskup kota itu, agar beliau demi cinta kasih Ilahi[62] sudi mengirim hamba Allah yang Mahatinggi kepadanya. Sebab ia mempunyai keyakinan, bahwa ia dengan melihat dia berada di sampingnya, akan disembuhkan dari penyakit yang menimpa dirinya. Maka terjadilah demikian. St. Fransiskus datang kepadanya dan membuat tanda salib atas dia dari kepala sampai kaki; maka kesehatan semula pulih kembali.

Pasal XXIV. Bagaimana ia mengembalikan penglihatan seorang wanita yang buta dan menyembuhkan seorang wanita lain yang lumpuh tangannya di Gubbio

67. Seorang wanita dari kota tersebut di atas, yang tertimpa kebutaan, menerima tanda salib atas matanya dari St. Fransiskus dan segera ia patut mendapat kembali penglihatan yang diinginkannya. – Di Gubbio ada seorang wanita, yang kedua tangannya lumpuh dan tidak dapat mengerjakan apa-apa lagi dengan tangannya. Ketika diketahuinya, bahwa St. Fransiskus memasuki kota itu, ia segera pergi kepadanya. Dengan muka sedih dan dengan penuh kesukaan diperlihatkannya kedua tangannya kepadanya, dan ia mulai mohon kepadanya, agar hamba Allah sudi menjamah tangannya. Karena iba hatinya, St. Fransiskus menjamah tangan wanita itu dan menyembuhkannya. Segera wanita itu pulang ke rumah dengan penuh sukacita dan membuat kueh keju dengan tangannya sendiri dan mempersembahkan kepada orang kudus.

St. Fransiskus mengambil sedikit dari kueh keju itu demi cintakasih. Ia menyuruh wanita itu serta keluarganya memakan sisanya.

Pasal XXV. Bagaimana ia membebaskan seorang saudara dari sakit ayan atau dari setan; dan bagaimana ia di San Gemini membebaskan orang yang kerasukan setan

68. Seorang saudara berulang kali menderita penyakit berat yang kelihatannya sangat mengerikan. Aku tidak tahu, bagaimana harus kunamakan penyakit itu, karena beberapa orang mengira, bahwa itu adalah pekerjaan roh jahat. Sering kali ia dibanting ke tanah dan melihat berkeliling dengan pandangan yang ngeri dan mulut berbusa; kadang-kadang tangan dan kakinya kejang, kadang-kadang terjulur lagi; kadang-kadang terlipat, kadang-kadang membelit atau kaku dan keras. Kadang-kadang ia terlentang rata dan kaku seluruhnya, yaitu kepala sejajar dengan kaki; lalu ia terangkat ke atas laksana patung orang saja, dan tiba-tiba jatuh mendatar ke tanah. Bapak St. Fransiskus jatuh kasihan kepada penderita penyakit yang amat berat itu; maka ia pergi kepadanya, dan setelah ia memanjatkan doa, ia lalu menandainya dengan tanda salib serta memberkatinya. Seketika itu juga saudara itu menjadi sembuh, dan selanjutnya ia tidak menanggung beban sedikit pun dari penyakit itu.

69. Ketika Bapak St. Fransiskus pada suatu hari menjelajahi keuskupan Narni, maka ia sampai ke kota kecil, San Gemini namanya; dan di sana ia mewartakan kerajaan Allah. Ia serta tiga saudara dijamu oleh seorang pria yang saleh dan takwa kepada Allah dan mempunyai nama cukup harum di daerah itu. Tetapi isterinya diganggu setan, sebagaimana dimaklumkan semua penduduk daerah itu. Suaminya memohon kepada St. Fransiskus untuk isterinya, karena ia yakin bahwa isterinya dapat dibebaskan karena jasanya. Tetapi karena hamba Allah dalam kesederhanaannya lebih suka dihina orang daripada karena hanya kekudusannya disanjung-sanjung dengan tepuk sorak dunia, maka ia menolak mentah-mentah untuk melakukan itu. Akhirnya demi kepentingan Allah dan karena permohonan itu bertubi-tubi datangnya dari banyak orang, ia menyerah kepada permohonan itu. Ketiga saudara yang menyertainya, dipanggilnya juga; dan ia menempatkan seorang saudara di tiap-tiap pojok rumah seraya berkata kepada mereka: “Marilah kita, saudara-saudara, berdoa kepada Tuhan untuk wanita ini, agar akan keluhuran dan kemuliaan Allah kuk setan itu dilemparkan dari atas pundaknya. Baiklah kita berdiri sendiri-sendiri,” sambungnya, “di pojok-pojok rumah, agar roh jahat itu jangan sampai lolos dari kita atau dapat memperdayakan kita, dengan mencari perlindungan di salah satu pojok.” Setelah mengakhiri doa, lalu St. Fransiskus dalam kekuatan Roh mendekati wanita, yang disiksa dengan hebatnya dan berteriak-teriak secara mengerikan itu dan berkata: “Dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus, kuperintahkan kepadamu demi ketaatan, hai setan, untuk keluar dari wanita ini, dan jangan berani mengganggu dia lebih lama lagi.”

Baru saja ia mengakhiri perkataan itu, maka setan dengan begitu cepatnya keluar dengan gemuruh dan desing kemarahan, sehingga bapak suci karena kesembuhan mendadak dari wanita itu, dan karena kepatuhan secepat kilat dari setan, mengira bahwa ia dipermainkan. Segera ia mundur dengan merah muka dari tempat itu. Inilah-berkat penyelenggaraan ilahi yang mengatur, agar ia baaimanapun jua jangan sampai bermegah-megah dan sia-sia. – Ketika lain kali St. Fransiskus lewat tepat itu, saudara Elias[63] menyertainya. Segera wanita tadi mengetahui kedatangannya, ia segera bangkit dan lekas-lekas berlari dan berteriak-teriak di belakangnya, agar ia sudi berbicara dengannya. – Karena hamba Allah tahu bahwa dia itu wanita yang dengan kekuatan Ilahi pernah dibebaskannya dari setan, maka ia tidak mau berbicara dengannya. Tetapi wanita itu mencium jejak kakinya sambil bersyukur kepada Allah dan hamba-Nya, Fransiskus, yang telah membebaskannya dari tangan maut. Akhimya saudara Elias mendesaknya dengan permohonan; maka hamba Allah berbicara dengan wanita itu, setelah banyak orang memberikan kesaksian tentang sakitnya dan pembebasannya dari roh jahat.

Pasal XXVI. Bagaimana ia mengusir setan juga di Citta di Castello

70. Pun di Citta di Castello ada seorang wanita yang kerasukan setan. Ketika bapak St. Fransiskus berada di kota itu, maka wanita itu mulai kcrtak gigi, mendengus dan menguak dengan suara yang mengerikan, seperti lazimnya roh-roh najis itu. Banyak orang, pria dan wanita dari kota itu datang dan memohon kepada St. Fransiskus untuk wanita itu. Sebab sudah lama roh jahat itu mengganggu dan menyiksa wanita itu dan mereka sendiri pun terganggu karena kuaknya. Bapak suci lalu mengirim saudara yang menyertainya kepada wanita itu untuk menyelidiki apa sungguh itu perbuatan roh jahat atau tipu-daya wanita saja. Setelah melihat saudara tadi, maka wanita itu mulai menertawakannya, karena tahu babwa orang itu bukan St. Fransiskus. Adapun bapak suci berada di dalam. Setelah selesai berdoa, bapak suci keluar; maka wanita itu mulai gemetar dan menggelepar-gelepar di tanah, karena tidak berdaya terhadap kekuatan hamba Allah. Maka St. Fransiskus memanggil wanita itu kepadanya dan berkata: “Demi kekuatan dan ketaatan kuperintahkan kepadamu, hai roh najis, enyahlah daripadanya.” Seketika itu juga roh najis meninggalkan wanita itu tanpa melukainya sedikit pun, waktu dia mundur dengan geramnya. – Ini berkat Allah yang Mahakuasa, yang mengerjakan segala-galanya dalam semua.

Tetapi kami tidak bermaksud menceriterakan keajaiban-keajaiban yang tidak mengenai kekudusan itu sendiri, tetapi hanya menunjukkan saja; terutama yang menjadi maksud kami ialah mengutarakan keluhuran hidup dan ketulusan tingkah laku hamba Allah itu. Oleh karena itu kami kesampingkan saja keajaiban-keajaiban yang terlampau banyak itu, tetapi baiklah kami utarakan kembali karya-karyanya untuk keselamatan kekal.

Pasal XXVII. Perihal kecerlangan dan keteguhan hatinya dan perihal khotbahnya di hadapan Sri Paus Honorius; dan bagaimana ia mempercayakan dirinya sendiri serta saudara-saudaranya kepada paduka Hugo, uskup Ostia

71. Hamba Allah sudah menginsyafi, untuk tidak mencari diri sendiri, melainkan untuk melakukan apa yang dalam pandangannya terutama menguntungkan bagi keselamatan orang-orang lain. Namun keinginannya di atas segala-galanya ialah mati dan berada bersama-sama dengan Kristus. Karena itu usahanya yang paling pokok ialah berada bebas dari segala apa yang ada di dunia, agar ketenangan budinya jangan sampai diganggu sesaat pun oleh sentuhan dengan sesuatu yang debu adanya. Ia membuat dirinya tidak cerap terhadap keramaian yang datang dari luar, ia mengekang dengan segala kekuatan batin indera lahiriahnya dan menguasai gerakan hatinya, untuk bebas bagi Tuhan semata-mata. Sarangnya pun di celah-celah padas dan kediamannya di gua-gua lereng gunung. Dengan perhatian yang sungguh bermanfaat ia berkeliling-keliling di kediaman-kediaman surgawi. dan dengan pengosongan diri sebulat-bulatnya ia lama bersemayam di dalam luka-luka Penyelamat. Karena itu ia sering memilih tempat-tempat yang sepi, agar ia dapat mengarahkan seluruh perhatiannya kepada Allah; tetapi ia tidak segan-segan, bila saatnya dipandangnya cocok, untuk menerjunkan diri ke dalam kegiatan-kegiatan dan untuk dengan sukarela mengusahakan keselamatan sesama orang.

Adapun pelabuhan yang paling aman baginya ialah doa,. bukannya untuk sesaat saja, tanpa perhatian dan serba tergesa-gesa, melainkan dalam tempo yang lama, dengan penuh tawakkal dan ketenangan kerendahan hati. Jika ia memulai doanya di malam hari, maka hampir-hampir ia tidak dapat mengakhirinya di pagi hari. Entah ia berjalan entah dia duduk, entah ia makan dan minum, ia asyik berdoa. Sering semalam-malaman ia pergi berdoa seorang diri di gereja-gereja yang telah ditinggalkan dan sunyi sepille taknya- dan di situ dengan lindungan rahmat Ilahi ia tnengatasi banyak kecemasan dan kesulitan jiwa.

72. Ia harus bergulat dengan setan, justru karena di tempat-tempat serupa itu setan bukan hanya mengganggu dia dari dalam dengan godaan-godaan, tetapi mengejutkan dia juga secara lahiriah dengan menjatuhkan dan merobohkan sesuatu. Tetapi satria Allah yang perwira itu tahu, bahwa Tuhan di mana-mana mampu akan segala-galanya, maka ia tidak gentar terhadap kejutan-kejutan itu, dengan berkata dalam hatinya: “Hai si jahat, engkau kan tidak dapat menggunakan senjata kejahatan secara lebih kuat terhadap aku daripada jika kita berada di depan umum di muka semua orang. Ia pun sungguh teramat teguh hati dan ia hanya mengindahkan kepentingan Tuhan saja. Bilamana ia sering kali mewartakan sabda Allah di tengah-tengah ribuan orang, ia begitu pastinya seperti kalau ia berbicara dengan teman akrabnya saja. Jumlah orang yang amat besar dipandangnya seperti satu orang; dan kepada satu orang ia berkhotbah dengan penuh semangat seperti kepada orang banyak. Kemurnian jiwanyalah yang memberi kepastian dalam menyampaikan khotbahnya; dan tanpa berpikir-pikir sebelumnya ia mengatakan hal-hal yang menakjubkan dan yang belum pernah terdengar.

Dan jika ada kalanya ia menyiapkan khotbah dengan renungan sebelumnya, maka di depan rakyat yang berkumpul ia kadang-kadang tidak ingat lagi akan apa yang telah direnungkanya, dan ia tidak tahu mengatakan sesuatu lainnya juga. Dengan tidak malu-malu diakuinya di depan umum, bahwa ia betul telah merenungkan banyak-banyak sebelumnya, tetapi ia sekalil-kali tidak ingat lagi akan apa-apa. Lalu tiba-tiba ia dipenuhi dengan kemahiran bicara sedemikian, hingga ia membuat hati para pendengar menjadi takjub. Tetapi kalau ia sesekali tidak tahu mengatakan apa-apa lagi, ia lalu memberikan berkahnya kepada mereka dan melepas mereka untuk pergi, dan itu pun sudah merupakan khotbah bagi mereka.

73. Ketika ia pada suatu hari pergi ke Roma untuk urusan ordo, maka ia ketumbuhan keinginan besar untuk berkhotbah di hadapan Sri Paus Honorius[64] dan para kardinal yang termulia. Hal itu diketahui paduka tuan Hugo, uskup Ostia yang mulia, yang teramat sayang kepada hamba Allah yang suci itu. Maka beliau dipenuhi dengan sukacita dan sekaligus juga dengan kecemasan, justru karena beliau mengagumi semangatnya yang bernyala-nyala tetapi juga melihat kesederhanaan dan kemumian hati orang kudus itu. Dengan penuh kepercayaan kepada kerahiman Allah yang Mahakuasa, yang disaat-saat yang sulit sekali tidak pemah meninggalkan orang yang menghormati-Nya dengan saleh, beliau lalu menghantamya ke hadapan Sri Paus dan para kardinal yang termulia. Ketika hamba Allah berdiri di hadapan dewan para pangeran gerejani dan memperoleh ijin dan berkah, ia lalu mulai berkhotbah dengan tiada takut-takut. Ia berbicara dengan semangat yang begitu bernyala-nyala, sehingga karena suka-citanya ia tidak dapat menenangkan diri lagi; sementara ia mengucapkan kata-kata dengan mulutnya, ia menggerak-gerakkan kakinya seakan-akan ia menari-nari, bukannya karena berani candang, melainkan karena ia mengobarkan api cintakasih ilahi, dan oleh karenanya pun ia tidak membuat para pendengarnya tertawa, melainkan menimbulkan keremuk-rendaman hati. Sementara banyak dari antara beliau-beliau itu mengagumi rahmat Ilahi dan keteguhan hati hamba Allah itu, maka beliau-beliau itu diliputi dengan sesal hati. Adapun yang mulia uskup Ostia berada dalam kecemasan dan berdoa dari dalam lubuk hatinya kepada Tuhan, agar kesederhanaan orang suci itu jangan sampai dicemoohkan, sebab pada beliau sendirilah tergantung kemuliaan ataupun aib orang suci itu, justru karena beliau telah diangkat menjadi bapak keluarga besarnya.[65]

74. Nah, St. Fransiskus melekat pada beliau, seperti seorang anak pada ayahnya dan seperti anak tunggal pada ibunya; tanpa kekuatiran apapun ia tidur dan beristirahat dalam pangkuan kasih sayangnya. Beliau sungguh bertugas sebagai gembala dan menunaikan tugas itu, tetapi nama gembala diserahkan kepada orang suci itu.[66] Bapak suci menentukan apa yang harus terjadi, sedangkan tuan uskup yang mulia berusaha supaya apa yang perlu itu sungguh terjadi. Berapa orang saja, khususnya pada permulaan, ketika ordo sedang tumbuh, mengincar untuk membinasakan tanaman muda ordo itu! Berapa orang saja berusaha untuk mencekik kebun anggur baru pilihan, yang ditanami Tuhan dalam kerelaan-Nya. Berapa orang saja berusaha untuk mencuri dan menelan buah bungaran yang paling utuh itu! Tetapi mereka semua dijatuhkan dan dimusnahkan dengan pedang oleh bapak dan tuan yang mulia itu. Sebab beliau ada sungai kemahiran bicara, tembok kokoh Gereja, pembela kebenaran dan pencinta orang-orang yang rendah hati. Terberkati dan patut dikenangkanlah hari itu, waktu hamba Allah yang suci mempercayakan diri kepada tuan yang mulia itu! Sebab waktu uskup itu bertugas sebagai wakil Tahta Apostolik, sebagaimana sering terjadi, dan berkedudukan di Toskana,[67] maka St. Fransiskus yang waktu itu belum mempunyai banyak saudara dan hendak pergi ke Perancis,[68] singgah di Florence, di mana uskup itu tinggal pada waktu itu. Mercka belum terikat satu sama lain dalam persahabatan yang akrab; hanya kesohoran hidup suci mereka sajalah yang menjalin hubungan cintakasih antara mereka berdua.

75. Selanjutnya, karena sudah menjadi kebiasaan St. Fransiskus, jika ia memasuki kota atau daerah, untuk menghadap uskup atau imam-imam, maka ketika ia mendengar, bahwa pembesar gereja yang agung itu ada di sana, ia lalu mohon kerelaan beliau dengan amat takzimnya. Dan ketika tuan uskup melihat dia, maka beliau menenuianya dengan keramahan yang merendah. Demikianlah beliau selalu berbuat terhadap semua yang termasuk ordo religius, khususnya terhadap semua yang bernaung di bawah panji mulia kemiskinan dan kesederhanaan suci. Karena beliau menaruh perhatian penuh untuk melengkapi kekurangan orang-orang miskin dan menangani perkara mereka secara tuntas, maka beliau menanyakan dengan seksama alasan kedatangan hamba Allah dan mendengarkan dengan rela dan penuh perhatian perihal rcncana-rencananya. Ketika beliau melihat, bahwa Fransiskus lebih dari siapapun jua meremehkan segala keduniawian dan bernyalakan api, yang dibawa Yesus ke dalam dunia ini, maka sejak saat itu beliau menjadi semakin sejiwa dan sehati dengannya. Dengan rendah hati beliau meminta doanya dan dengan rela hati menawarkan perlindungan dalam segala urusan. Beliau menasihati dia juga, untuk tidak melanjutkan perjalanan yang telah dimulainya, tetapi untuk memperhatikan pemeliharaan dan penjagaan orang-orang yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Ketika St. Fransiskus melihat kesalehan hidup, kemesraan cinta dan perkataan yang mengena dari uskup ang mulia itu, maka ia amat bergembira dan bersukacita lalu ia bersujud di depan kaki beliau dan menyerahkan serta mempercayakan dirinya serta saudara-saudaranya dengan penuh bakti dan pasrah kepada beliau.

Pasal XXVIII. Perihal jiwa cintakasihnya dan perihal perasaan belaksasihannya kepada orang-orang miskin; dan apa yang diperbuatnya terhadap domba dan anak domba

76. Fransiskus yang miskin, bapak kaum miskin, yang membuat dirinya serupa dengan semua orang miskin, tidak tahan melihat orang yang lebih miskin dari dia sendiri; bukan karena keinginan akan kemuliaan yang sia-sia, melainkan karena perasaan belaskasihan semata-mata. Walaupun ia sudah puas dengan jubah yang lusuh dan kasar, namun ia sering ingin memberikan separohnya kepada orang miskin. – Tetapi agar ia yang selaku orang miskin yang toh amat kaya juga, terdorong oleh cintanya yang besar dan ikhlas, bagaimanapun juga dapat menolong orang-orang miskin, maka bila cuaca amat dingin ia meminta kepada orang-orang kaya dari dunia ini, untuk memberikan mantel atau baju kulit berbulu kepadanya. Apabila dengan rela hati mereka memberikan apa yang diminta bapak suci, maka ia berkata kepada mereka: “Saya mau menerima ini dari kalian dengan syarat, bahwa kalian tak boleh mengharapkan untuk mendapat ini kembali.” Dan pakaian yang didapatnya itu dengan sukacita dan gembira dikenakannya pada orang miskin, yang pertama-tama dijumpanya. – Pedih sekali rasanya bagi hamba Allah, bila ia melihat orang miskin dicerca atau mendengar seseorang melontarkan kutuk terhadap salah satu ciptaan Tuhan. Pernah terjadi, bahwa seorang saudara melontarkan kata yang menusuk hati kepada orang miskin yang minta sedekah. Katanya: “Ah, jangan-jangan kau ini kaya, tetapi berpura-pura miskin.” Ketika bapak kaum miskin, St. Fransiskus mendengar hal itu, amat pedihlah hatinya, maka ia menegur keras-keras saudara tersebut, menyuruh dia menanggalkan bajunya di depan orang miskin itu, mencium kakinya dan minta maaf kepadanya, sebab ia biasa berkata: “Barang siapa mencaci-maki orang miskin, menghina Kristus; orang miskin kan membawa tanda-Nya yang mulia, sebab Ia telah membuat diri-Nya menjadi miskin di dunia untuk kita!” Karena itu bila ia berjumpa dengan orang miskin yang memikul kayu atau menanggung beban berat lainnya, sering kali ia menaruh itu di atas pundaknya sendiri, meskipun ia sendiri lemah, untuk membantu orang-orang itu.

77. Fransiskus meluap-luap roh cintakasihnya. Ia menaruh kasih sayang ikhlas bukan hanya kepada orang-orang yang menderita kesusahan saja, tetapi juga kepada hewan yang tidak dapat berbicara dan tidak berakal budi, binatang merayap, burung-burung, makhluk yang berpancaindera dan yang tidak berpancaindera. Tetapi di antara segala jenis hewan ia lebih-lebih mencintai anak domba dengan kasih sayang yang khusus dan kecondongan hati yang besar, justru karena kerendahan hati Tuhan kita Yesus Kristus sering sekali dalam kitab suci dibandingkan dengan anak domba dan dengan tepatnya dipertalikan juga dengannya.

Demikian pula dengan semua lainnya, terutama kalau ia di dalamnya dapat menemukan kesamaan lambang dengan Putera Allah, dipeluknya dengan lebih mesra, dan dilihatnya dengan lebih suka hati. – Sekali peristiwa, ketika ia mengadakan perjalanan di sepanjang Mark Ankona, di mana ia telah mewartakan sabda Tuhan, dan melanjutkan perjalanan itu sampai ke Osimo bersama dengan saudara Paulus, yang telah diangkatnya menjadi minister (provinsial) semua saudara di provinci itu jua, maka ia berjumpa di padang “dengan seorang gembala yang menggembalakan kawanan kambing betina dan kambing jantan. Di antara jumiah besar kambing betina dan jantan itu ada seekor domba kecil, yang berjalan dengan bersahaja dan merumput dengan tenang sekali. Melihat domba kecil itu St. Fransiskus berhenti sejenak; dan dihinggapi dengan rasa sedih di dalam hatinya, ia lalu mengesah dalam-dalam dan berkata kepada saudara yang menyertainya: “Tidakkah kaulihat domba yang berjalan begitu lemah lembut di tengah-tengah kambing-kambing betina dan jantan itu? Demikian pun kataku kepadamu, Tuhan kita Yesus Kristus berjalan di tengah-tengah orang farisi dan para imam kepala, lemah lembut dan rendah hati. Karena itu kuminta kepadamu, nak, untuk demi cintakasih ikut serta aku menaruh kasihan kepada domba kecil itu, dan setelah uang tebusan dibayarkan, baiklah itu kita ambil dari tengah-tengah kambing-kambing betina dan jantan.”

78. Adapun saudara Paulus mula-mula heran atas kesedihan bapak suci, lalu ia juga mulai menaruh kasihan. Tetapi karena mereka tidak mempunyai apa-apa selain jubah murah yang mereka pakai, maka mereka prihatin atas uang tebusan yang harus dibayarkan itu. Tiba-tiba datanglah seorang pedagang di dalam perjalanannya, yang menawarkan uang tebusan yang diinginkan itu. Mereka lalu bersyukur kepada Allah dan menerima domba kecil itu dan sampai ke Osimo. Mereka menghadap uskup kota itu dan diterima beliau dengan segala kehormatan. Adapun tuan uskup heran atas domba kecil, yang dibawa hamba Allah itu maupun atas kesayangan si pembawa domba kecil. Nah, ketika hamba Kristus menyampaikan khotbah parabel tentang domba yang panjang lebar, maka terharulah hati uskup atas kemurnian jiwa hamba Allah dan bersyukur kepada Allah.

Keesokan harinya hamba Allah keluar dari kota dan berpikir apa yang harus diperbuatnya dengan domba itu; maka atas nasihat teman dan saudaranya, domba itu diserahkannya untuk dipelihara di biara para abdi Kristus di San Severino.[69] Adapun hamba-hamba Kristus yang terhormat itu menerima domba kecil dengan suka hati, Seakan-akan itu anugerah besar yang diberikan Tuhan kepada mereka. Setelah lama dipelihara dengan penuh perhatian, maka dari bulu domba itu mereka tenun sehelai jubah, yang dikirimkan kepada bapak St. Fransiskus di gereja St. Maria di Portiuncula, waktu ada kapitel[70] di sana. Jubah itu diterima hamba Allah dengan amat hormat serta sukacita dan dipeluk serta diciumnya; dan ia mengajak semua hadirin untuk ikut bergembira dengannya.

79. Pada kesempatan lain, ketika ia melintasi lagi wilayah Markhia, dengan disertai saudara itu juga yang periang, ia berjumpa dengan seorang pria, yang memanggul dua ekor anak domba terikat yang bergantung di atas pundaknya ke pasar untuk dijual. Ketika St. Fransiskus mendengar anak domba itu mengembik, maka terharulah hatinya; dan ia mendekati serta menjamahnya dengan penuh rasa kasihan, seperti seorang ibu atas anaknya yang menangis. Maka ia berkata kepada orang itu: “Mengapa saudara-saudaraku anak domba ini kau siksa dengan kauikat dan kaugantungkan?” Sahut orang itu kepadanya: “Anak domba ini saya bawa ke pasar untuk saya jual, terpaksa karena saya membutuhkan uang.” Maka sambung sang Santo: “Apa akan terjadi nanti dengan anak domba ini?” Sahutnya: “Para pembeli akan menyembelihnya dan memakannya.” “Jangan! sambung sang Santo, ,”janganlah itu sampai terjadi! Tetapi ambillah mantel yang kupakai ini akan ganti uang dan serahkanlah anak domba itu kepadaku.” Dengan suka hati anak domba itu diserahkannya dan diterimanya mantel itu, karena mantel itu jauh lebih tinggi harganya. Adapun mantel itu baru pada hari itu didapat sang Santo dari seorang teman yang setiawan untuk melindungi tubuhnya terhadap kedinginan. Setelah mendapat anak domba itu, maka sang Santo berpikir-pikir, apa yang akan diperbuatnya dengan anak domba ini?

Setelah minta nasihat kepada saudara yang menyertainya, maka anak domba itu dikembalikannya kepada orang itu untuk diurus, dengan pesan, agar jangan dijual lagi dan jangan disiksa, tetapi agar dijaga, dipiara dan diurus baik-baik.

Pasal XXIX. Perihal cintanya kepada segala makhluk demi Pencipta; dan perihal penggambaran manusia batiniah dan lahiriahnya

80. Kiranya terlampau panjang lebar dan mustahillah menceritakan dan mengingat-ingat semuanya, yang telah diperbuat dan diajarkan bapak Fransiskus yang mulia selagi ia hidup di dunia. Siapa gerangan pemah dapat mengungkapkan perasaan cinta-kasihnya, yang ditaruhnya terhadap semuanya, yang ada sangkut-pautnya dengan Allah? Siapa gerangan akan memadai dalam menggambarkan kemanisan yang dinikmatinya, jika ia di dalam segala mahluk memandang kebijaksanaan, kekuasaan dan kebaikan sang Pencipta? Memang, ia sering sekali dipenuhi dengan sukacita, yang menakjubkan dan tiada terperikan, dalam permenungan itu, bilamana ia memandang matahari, melihat bulan dan mengamat-amati bintang-bintang dan cakrawala. Oh, kesalehan yang sederhana dan kesederhanaan yang saleh!

Terhadap cacing pun teramat hangat cintanya, karena ia telah membaca, bahwa tentang Penyelamat telah dikatakan: “Aku ini cacing dan bakan lagi manusia.”[71] Dan karena itu pun dipungutnya cacing-cacing di jalan dan diletakkannya di tempat yang aman, agar jangan diinjak kaki orang-orang yang lewat. – Apa gerangan akan kukatakan tentang makhluk-makhluk lainnya yang lebih rendah, bilamana di musim dingin ia menyuruh berikan madu atau anggur terbaik kepada lebah yang berdayaguna dan nalurinya yang ulung dipujinya begitu tinggi atas lebah-lebah, agar jangan sampai binasa karena hawa dingin dan es. Pekerjaan lebah-lebah yang berdayaguna dan nalurinya yang ulung dipujinya begitu tinggi akan kemuliaan Tuhan, sehingga ia sering sehari penuh mengangkat pujian atas lebah-lebah dan atas makhluk-makhluk lainnya. Sebab seperti dahulu ketiga pemuda di dalam tungku api yang bernyala-nyala mengajak semua unsur untuk memuji dan memuliakan Pencipta semesta alam, demikian pun pria suci itu, penuh dengan Roh Allah, tidak henti-hentinya memuliakan, meluhurkan dan memuji Pencipta segala sesuatu di dalam segala unsur dan makhluk.[72]

81. Alangkah besar kegembiraan yang ditimbulkan dalam hatinya oleh keelokan meriah bunga-bunga, jika ia melihat kemolekannya dan menghirup bau harumnya yang sedap itu! Segera ia mengalihkan-pandangan matanya kepada keindahan bunga, yang tumbuh berseri-seri di musim semi dari taruk Jesse itu dan yang menghidupkan kembali ribuan orang mati yang tak terbilang jumlahnya dengan keharumannya. Jika ia menjumpai bunga yang besar jumlahnya, ia lalu berkhotbah kepada mereka dan mengajak mereka untuk memuji Tuhan, seakan-akan bunga-bunga itu makhluk-makhluk yang berakal budi. Demikian pun ia mengingatkan ladang-ladang gandum dan kebun-kebun anggur, bukit-bukit batu dan hutan-hutan dan segala padang yang permai, sumber-sumber yang membual-bual dan kebun-kebun subur yang menghijau, tanah dan api, udara dan angin dalam kemurniannya yang cerah kepada cinta kasih Allah dan menganjurkan kepadanya untuk kepatuhan yang riang. – Akhirnya segala makhluk disebutnya saudara;[73] dan dengan cara unggul, yang tidak pernah dialami orang-orang lainnya, ia menembus dengan ketajaman hatinya sampai ke dalam rahasia sekalian makhluk, karena ia sudah meningkat masuk sampai ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. – Kini ia memuji Engkau, ya Yesus yang mengagumkan, bersama dengan para malaikat; ia yang di dunia sudah mewartakan Engkau kepada segala makhluk sebagai yang patut dicintai.

82. Sebab ia tercekam oleh cintakasih, yang mengatasi segala pengertian insani, apabila ia menyerukan nama-Mu ya Tuhan yang kudus, dan seluruh keberadaannya lalu penuh dengan kegembiraan dan sukacita yang amat murni, dan ia nampak bagaikan seorang manusia baru yang dari dunia lain asalnya. Apabila ia di manapun jua menemukan tulisan, yang memuat sabda Ilahi atau perkataan manusia, di jalan, di rumah atau di lantai, maka dikumpulkannya itu dan diletakkannya di tempat yang sopan, justru karena kekuatirannya, kalau-kalau tulisan itu memuat nama Tuhan atau sesuatu yang bersangkut-paut dengan nama itu. – Ketika seorang saudara pada suatu hari menanyakan kepadanya, mengapa ia dengan rajin mengumpulkan juga tulisan orang kafir dan tulisan-tulisan yang tidak memuat nama Tuhan, maka ia menjawab kepadanya: “Nak, karena di dalamnya terdapat huruf-huruf, yang daripadanya dapat disusun nama termulia Tuhan Allah. Dan lagi yang baik yang terdapat di dalainnya berasal bukan dari orang kafir atau dari orang manapun juga, melainkan dari Allah semata-mata, yang adalah pemilik segala yang baik.” – Dan apa yang tidak kurang menakjubkan ialah bahwasannya kalau ia menyuruh tulis surat untuk memberikan salam atau nasihat, dia takkan menginginkan untuk menghapus huruf atau suku kata satu pun, meski itu berkelebihan atau salah tempatnya sekalipun.

83. Alangkah indah, cemerlang dan mulialah ia nampak di dalam kejujuran hidupnya, di dalam kesederhanaan tutur-katanya, di dalam kemurnian hatinya, di dalam cinta kasihnya kepada Allah, di dalam cinta kasih persaudaraannya, di dalam ketaatannya yang bernyala-nyala, di dalam penyesuaian yang rukun, di dalam pandangan kemalaikatannya. Ia lemah lembut dalam tingkah lakunya, tenang tabiatnya, ramah tamah dalam tutur katanya, amat bijaksana dalam petuahnya, amat terpercaya dalam rahasia yang dipercayakan kepadanya, berhati-hati dalam memberikan nasihat, berhasil dalam perbuatannya, menambat hati dalam segala-galanya. Ia teguh hati dalam niatnya, mantap dalam keutamaan-keutamaan, tabah dalam rahmat dan selalu sama dalam segala keadaan. Ia cekatan dalam memaafkan, lambat dalam amarah, bebas perangainya, gemilang dalam ingatan, tajam dalam membahas sesuatu, hati-hati dalam memilih dan sederhana dalam segala-galanya. Ia keras terhadap dirinya sendiri, tetapi murah hati terhadap orang lain., pandai membeda-bedakan dalam segala-galanya. Ia amat mahir berbicara, bermuka riang, ramah roman mukanya, bebas dari ketakutan, tanpa kurang ajar. Perawakannya sedang, agak kecil daripada besar; kepalanya sedang dan bulat, wajahnya agak panjang dan lonjong; dahinya rata dan tidak lebar; matanya sedang, hitam dan terang; rambutnya gelap-gelap hitam; alisnya lurus; hidungnya seimbang, tipis dan lurus; telinganya tegak tapi kecil; pelipisnya rata. Tutur katanya menawan hati, hidup dan tajam; suaranya kuat, merdu, terang dan nyaring; giginya rapat, rata dan putih; bibirnya agak kecil dan tipis; jenggotnya hitam dan tidak tebal, lehernya ramping; pundaknya lurus; lengannya pendek; tangannya halus, jari-jarinya panjang dan kukunya menjulur; betisnya ramping, kakinya kecil; kulitnya halus dan lembut; ia amat kurus berbaju kasar; tidurnya amat pendek, dan amat murah tangannya. Dan karena ia amat rendah hati, maka ia memperlakukan semua orang dengan kelembutan hati. Ia menyesuaikan diri dengan sewajarnya dengan watak semua orang. Ia lebih suci di tengah-tengah orang suci dan ditengah-tengah orang-orang berdosa ia merasa dirinya salah seorang dari antara mereka. Tolonglah para pendosa, ya bapa yang kudus, penyayang para pendosa, dan kami mohon, sudilah dalam belaskasihanmu menegakkan kembali orang-orang, yang kaulihat berbaring secara menyedihkan dalam kekejian dosa, berkat doa perantaraanmu yang mulia.

Pasal XXX. Perihal palungan yang dibuatnya pada hari kelahiran Tuhan

84. Ujudnya yang tertinggi, keinginan yang terutama dan niatnya yang terbesar ialah menepati Injil suci dalam segala-galanya dan selama-lamanya. Dengan segala kewaspadaan, segala kerajinan dan segenap keinginan batin dan kehangatan hati ia menuruti ajaran dan mengikuti jejak Tuhan kita Yesus Kristus secara sempurna. Dalam renungan terus-menerus ia mengingat-ingat sabda-sabda-Nya dan dalam permenungan yang tajam ia memikirkan lagi karya-karya-Nya. Terutama kedinaan penjelmaan-Nya dan cinta kasih dalam sengsara-Nya memenuhi ingatannya begitu rupa, sehingga ia tidak mau memikirkan sesuatu lainnya. – Maka baiklah diperingati dan dikenangkan lagi dengan penuh khidmat, bahwa dalam tahun ketiga sebelum wafatnya yang bahagia,[74] St. Fransiskus mengadakan perayaan di kampung yang benama Greccio, pada hari kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Di daerah itu ada seorang pria bernama Yohanes, yang harum namanya tetapi lebih terpandang lagi hidupnya. Orang itu disayangi secara khusus oleh St. Fransiskus, sebab kendati ia keturunan bangsawan dan amat terhormat di daerahnya, ia toh meremehkan keluhuran asal-usulnya dan lebih mengutamakan keluhuran jiwa. Nah, orang itu diminta datang kepadanya oleh St. Fransiskus, sebagaimana ia biasanya berbuat, lebih kurang dua pekan sebelum hari kelahiran Tuhan. Maka katanya kepadanya: “Jika saudara ingin, kita merayakan pesta Tuhan yang sudah dekat itu di Greccio, maka pergilah segera dan siapkanlah dengan seksama apa yang kukatakan kepada saudara. Aku mau mengadakan peringatan Kanak-kanak yang dilahirkan di Betlehem, dan aku mau melihat dengan mataku sendiri keadaan-keadaan pahit dan papa yang diderita-Nya sebagai bayi, bagaimana Kanak-kanak itu dibaringkan di dalam palungan dan bagaimana Kanak-kanak itu diletakkan di atas jerami, dengan didampingi lembu dan keledai.[75] Setelah orang yang baik dan setiawan itu mendengar hal itu, maka bergegas-gegas ia pergi dan menyiapkan di tempat tersebut segala apa yang diperintahkan sang Santo kepadanya.

85. Hari penuh sukacita mendekat, saat untuk bersorak-sorai pun tiba. Dari banyak tempat datanglah saudara-saudara; pria dan wanita dari sekitarnya dengan gembira menyediakan seturut kemampuannya, obor dan lilin untuk menerangi malam, yang dengan bintang bercahaya menyinari sekalian hari dan tahun.- Akhirnya datanglah hamba Allah yang suci itu. Ia melihat dengan suka hati, bahwa semuanya telah disiapkan. Palungan telah dibuat, jerami diangkut ke situ, lembu dan keledai pun digiring ke tempat itu. Di situlah kesederhanaan dihormati, kemiskinan dimuliakan, kerendahan hati dipuji, dan Greccio dijadikan seperti Betlehem yang baru.

Malam itu terang benderang bagaikan siang dan menyenangkan bagi manusia dan hewan. Orang-orang datang dan diliputi dengan sukacita baru dalam menyaksikan misteri dengan cara baru itu. Hutan menggemakan suara orang-orang dan padas-padas memantulkan sorak-sorai orang-orang. Saudara-saudara bernyanyi dan menyampaikan pujian sepatutnya kepada Tuhan; dan seluruh malam mengumandangkan kegembiraan dan sorak-sorai. Hamba Allah yang suci itu berdiri di depan palungan, mengesah dengan penuh iba, terharu karena rasa hormat dan diliputi dengan sukacita yang menakjubkan. Di atas palungan itu dirayakan Misa meriah, dan imampun menikmati keharuan baru.

86. Hamba Allah yang suci, yang adalah seorang diakon, mengenakan pakaian diakon dan menyanyikan Injil suci dengan suara lantang. Adapun suaranya adalah suara yang kuat, merdu, terang dan nyaring, mengajak semua orang untuk menyampaikan pujian yang tertinggi. Kemudian ia berkhotbah kepada umat yang hadir tentang kelahiran Raja yang miskin dan mewartakan kata-kata manis madu tentang kota kecil Betlehem. Sering kali bilamana Kristus hendak disebutnya Yesus, maka karena cinta kasih-Nya yang berkobar-kobar dengan hebatnya disebutnya “Kanak-kanak Betlehem”, dan bilamana ia mengucapkan “Betlehem”, maka kedengarannya seperti domba yang, mengembik. Bahkan mulutnya lebih meluapkan perasaan cinta daripada mengeluarkan suara. Dan bilamana ia menyebut “Kanak-kanak Betlehem” atau “Yesus”, maka lidahnya seakan-akan menjilat-jilat bibimya, hendak mengenyam dengan langit-langit yang bahagia dan menyesap kemanisan nama itu. Di sana berlipat-gandalah karunia Allah yang Mahakuasa; dan seorang saleh mendapat penglihatan yang ajaib. Tampak olehnya mula-mula seorang kanak-kanak tak bernyawa berbaring di dalam palungan. Lalu dilihatnya hamba Allah yang suci itu menghampiri kanak-kanak itu dan seakan-akan membangunkan kanak-kanak itu dari tidur nyenyak.

Nah, penglihatan itu bukan tidak kena. Sebab Kanak-kanak Yesus. dalam hati banyak orang telah hilang dari ingatan. Tetapi berkat kekuatan-Nya, Ia dibangunkan kembali oleh hamba-Nya, St. Fransiskus, di dalam hati orang-orang dan ditanamkan lagi ingatan yang hangat kepadanya. Akhirnya perayaan malam itu ditutup dan masing-masing kembali ke rumahnya dengan suka-cita besar.

87. Adapun jerami yang terletak di dalam palungan disimpan, agar kuda dan hewan lainnya disembuhkan oleh Tuhan, yang sering menunjukkan berlipat ganda belaskasihan-Nya yang suci. Dan memang terjadilah, bahwa banyak hewan di sekitarnya yang dijangkiti pelbagai penyakit, dengan memakan sedikit dari jerami itu dilepaskan dari penyakitnya. Bahkan wanita-wanita yang menderita sakit bersalin yang berat, dan yang menyuruh sedikit jerami ditaruh di atas tubuhnya, lalu dapat melahirkan anak dengan selamat. Pun peziarah-peziarah, pria dan wanita, dengan pelbagai penyakit, yang datang berbondong-bondong ke sana, memperoleh kesembuhan yang sangat diinginkan mereka. – Akhirnya tempat palungan itu dikuduskan kepada Tuhan menjadi tempat suci, dan akan kehormatan bapak St. Fransiskus didirikan sebuah altar di atas palungan itu dan dibangun sebuah gereja, agar di tempat dahulu hewan memakan jerami, dikemudian hari orang-orang demi keselamatan jiwa dan badannya menyantap tubuh Tuhan kita Yesus Kristus yang tidak bernoda dan bercela. Dia yang dalam cinta-kasihnya yang tertinggi dan tak terperikan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita dan yang hidup dan bertakhta bersama dengan Bapa dan Roh Kudus sebagai Allah yang mahamulia sepanjang segala masa.

Amin. Alleluya, Alleluya.

Maka berakhirlah jilid pertama tentang hidup dan perbuatan-perbuatan Santo Fransiskus.

JILID KEDUA, No. 88 – 118

Maka dimulailah jilid kedua, tentang dua tahun terakhir hidupnya dan tentang wafat bahagia bapak kita St. Fransiskus

Pasal I. Perihal jilid ini.
Perihal waktu St. Fransiskus wafat dengan bahagia dan perihal kemajuan-kemajuannya dalam hal kesempurnaan

88. Dalam jilid yang terdahulu, yang berkat rahmat Penyelamat telah kami kunci dengan ceritera yang serasi, telah kami gambarkan sedapat-dapatnya, dengan mengisahkan perihal hidup dan perbuatan-perbuatan bapak kita St. Fransiskus hingga tahun kedelapanbelas pertobatannya Adapun hal ikhwalnya dari tahun kedua[76] sebelum akhir hidupnya, sejauh itu dapat kami ketahui dengan pasti, hendak kami tambahkan dalam jilid ini. Kami bermaksud melaporkan hal-hal yang nampak penting saja dalam jilid ini, agar mereka yang ingin mengatakan lebih banyak daripada ini, selalu dapat menemukan sesuatu yang dapat ditambahkan.

Pada hari Minggu tanggal 4 Oktober[77] tahun 1226 – dalam indikasi ke-14, – bapak kita St. Fransiskus telah meninggalkan penjara tubuhnya di kota kelahirannya Asisi, yaitu di St. Maria Portiuncula, tempat ia pertama-tama menanamkan Ordo Saudara Dina, duapuluh tahun sejak ia menganut Kristus dengan amat sempuma dan mengikuti cara hidup serta jejak para Rasul, dan ia lalu terbang dengan amat bahagia ke kediaman roh-roh surgawi seraya menyelesaikan secara sempurna apa yang telah dimulainya. Diiringi dengan nyanyian dan pujian jenazahnya yang tersuci diistirahatkan dan dimakamkan dengan segala kehormatan. Di sana ia berkilau-kilau akan kemuliaan Allah yang Mahakuasa karena banyak mukzizat. Amin

89. Sejak masa kecilnya ia sedikit atau samasekali tidak terdidik dalam jalan Tuhan dan pengetahuan tentang Allah; ia hidup dalam kepolosan alamiah dan kehangatan hawanafsu-hawanafsunya, sampai ia diubah tangan Allah yang Mahatinggi, dilepaskan dari dosa-dosanya dan oleh rahmat dan kekuatan Allah yang Mahatinggi dipenuhi dengan kebijaksanaan Ilahi lebih dari sekalian orang semasanya. Sebab ketika ajaran Injil, meskipun tidak secara khusus tetapi pada umumnya, di mana-mana mengalami banyak kemunduran karena perbuatan-perbuatan insani, maka pria ini diutus Allah untuk memberikan kesaksian tentang kebenaran di mana-mana di seluruh dunia seturut teladan para Rasul. Maka terjadilah, bahwa dengan ajarannya ia menunjukkan dengan amat jelasnya, bahwa segala kebijaksanaan dunia adalah kebodohan; dan dalam tempo yang singkat dengan kebodohan pewartaannya dibawah bimbingan Kristus ia telah mencondongkan dunia kepada kebijaksanaan Allah yang benar. Selaku penginjil baru pada zaman akhir ia bagaikan salah satu sungai firdausi mengalirkan air Injil dengan pengairan suci ke atas seluruh bumi dan dengan pcrbuatan ia mewartakan jalan Putera Allah dan ajaran kebenaran. Karena itu timbullah dalam dia dan karena dia sorak-sorai yang tidak dinantikan dan pembaharuan suci seluruh dunia. Tunas baru dari agama yang lama tiba-tiba membaharui orang-orang yang sudah bangka dan tua sekali. Roh baru diberikan ke dalam hati orang-orang pilihan; dan di tengah-tengah mereka dicurahkan urapan keselamatan, ketika hamba Kristus yang suci itu bagaikan salah satu cahaya menyinarinya dari atas dengan cara baku dan dengan tanda-tanda baru. Dengan perantaraannya dibaharui pula mukzizat-mukzizat lama, sementara di gurun dunia ini ditanamkan dengan aturan baru tapi dengan cara lama pokok anggur subur, yang meluaskan rantin-ranting ordo suci dan menumbuhkan bunga-bunga yang harum mewangi berupa keutamaan-keutamaan suci.

90. Walaupun ia terkena derita seperti kita, namun ia tidak puas dengan menepati perintah-perintah umum saja; tetapi dipenuhi dengan cintakasih yang berkobar-kobar ia bergegas-gegas menempuh jalan segenap kesempurnaan dan mengarah puncak kesucian yang sempurna dan menatap batas-batas segala penyelesaian kesempurnaan. Karena itu pun setiap tingkatan, setiap jenis kelamin, setiap umur mempunyai contoh yang kentara dari ajaran keselamatan itu dan teladan utama perbuatan-perbuatan suci dalam dia. Siapa yang berniat mengenakan tangan pada hal-hal yang lebih perkasa dan mengejar karunia-karunia yang lebih baik dari jalan hidup yang lebih luhur, hendaklah ia bercermin pada hidupnya dan mempelajari segala kesempurnaannya. Tetapi siapa yang hendak menempuh yang lebih rendah dan lebih rata, dan takut melangkah di jalan yang sukar serta mendaki puncak gunung, dalam tingkatan itu pun ia akan menemukan petunjuk-petunjuk yang sesuai. Akhirnya, siapa yang mencari tanda-tanda dan mukzizat-mukzizat, hendaklah ia menanyakan kekudusan­nya dan ia akan memperoleh apa yang diinginkannya. – Sungguh, hidupnya yang mulia itu menampilkan kesempurnaan orang-orang kudus yang terdahulu dengan cahaya yang lebih terang-benderang; sengsara Yesus Kristus membuktikan hal itu dan salib-Nya pun menyatakan hal itu sepenuhnya. Memang, bapak yang terhormat itu ditandai dengan tanda sengsara serta salib dalam lima bagian tubuhnya, seakan-akan ia bergantung di salib bersama dengan Putra Allah. Rahasia ini adalah besar dan menunjukkan keluhuran cintakasih yang istimewa. Tetapi suatu rencana keputusan rahasia tersembunyi di dalamnya dan suatu misteri yang patut dihormati terselubung di dalamnya, yang – kita percaya, – hanya diketahui Allah saja dan yang olch sang Santo hanya untuk sebagian saja disingkapkan kepada seseorang. Karena itu kita tidak usah mencoba banyak untuk memuliakannya, sebab kemuliaan berasal dari Dia, yang adalah kemuliaan sekalian orang, sumber dan kehormatan tertinggi dan yang memberikan ganjaran terang abadi. Maka baiklah kita memuji Allah yang kudus, benar dan mulia; dan kini biarlah kembali lagi kepada urutan kejadian-kejadian.

Pasal II. Perihal keinginan tertinggi St. Fransiskus; dan bagaimana dengan membuka kitab Injil, ia mengenali kehendak Tuhan atas dirinya

91. Pada suatu hari bapak St. Fransiskus yang terhormat meninggalkan rakyat banyak, yang setiap hari datang berbondong-bondong untuk mendengarkan dan melihat hamba Allah; ia lalu mencari tempat yang tenang, sunyi-sepi dan terasing [78], karena ia ingin meluangkan waktu untuk Allah semata-mata dan mengebaskan debu yang mungkin masih melekat padanya dari pergaulan dengan orang-orang. Adalah kebiasaannya membagi-bagi waktu yang diberikan kepadanya untuk memperolah rahmat Ilahi, yaitu sebagaimana dipandang perlu baginya, sebagian waktunya digunakannya untuk kepentingan sesama orang, dan sebagian waktu lainnya dihabiskannya dalam semadi suci. Ia hanya membawa sertanya sedikit teman saja, yang lebih mengenal hidup sucinya dari pada yang lain-lain agar mereka itu melindunginya terhadap desakan dan gangguan orang-orang dan untuk dalam segala-galanya menyukai dan memelihara ketenangannya. – Ketika ia tinggal agak lama di situ dan dalam doa terus-menerus serta kontemplasi yang berulang-ulang memperoleh hubungan mesra yang tiada terperikan dengan Allah, maka ia ingin mengetahui, apa yang menyenangkan atau dapat menyenangkan Raja abadi dalam dirinya serta pekerjaannya. Dengan penuh perhatian ia menyelidiki dan berusaha mengetahui, dengan jalan mana atau dengan keinginan mana ia dapat melekat secara lebih sempuma pada Tuhan Allah, seturut keputusan dan perkenan kehendak Nya. Inilah selalu faisafah hidupnya yang tertinggi; inilah keinginannya yang terbesar, yang selalu berkobar-kobar dalam hatinya, yaitu untuk belajar dari orang-orang bersahaja dan orang-orang arif, dari orang-orang sempurna dan orang-orang tak sempurna, bagaimana ia dapat menginjak jalan kebenaran dan mencapai tujuan lebih luhur yang diarahnya.

92. Meskipun ia adalah yang paling sempurna dari antara orang-orang yang sempurna, namun ia tidak memandang dirinya sempurna dan menganggap dirinya sama sekali tidak sempuma. Ia kan telah mengenyam dan melihat, betapa manisnya, sedapnya dan baiknya Allah Israel itu bagi mereka, yang lurus hatinya dan yang mencari Tuhan, dalam kesederhanaan yang murni dan dalam kemurnian yang sejati. Kemanisan dan kesedapan yang tercurah – ini hanya diberikan kepada orang sedikit saja. – dan yang dirasakannya datang dari atas, mendesak dia untuk memati-ragakan diri scutuhnya: dan ia dipenuhi dengan keriangan yang amat besar-. dan dengan segala cara ia beralih seutuhnya ke tempat ia dengan pesona masuk ke dalam keadaan ekstase dan untuk sebagian sudah maju ke depan. Nah, orang yang memiliki roh Allah ini sanggup menanggung segala kesusahan dan segala derita badaniah, asalkan akhirnya harapannya terpenuhi dengan murah hati dalam dirinya. Maka pada suatu hari ia pergi ke depan altar, yang telah didirikan di pertapaan tempat ia tinggal. Diambilnya kitab yang-memuat Injil suci, lalu ditaruhnya dengan hormat di atas altar itu. Maka ia bersujud seraya berdoa di hadapan Allah, tidak kurang dengan hatinya dari pada dengan tubuhnya; dan ia mohon dengan rendah hati, agar Allah yang murah hati, Bapa segala belas kasihan dan Allah segala hiburan berkenan menyatakan kehendak-Nya kepadanya: dan agar ia dapat menyelesaikan apa yang dahulu dimulainya dengan sederhana dan bakti, maka ia berdoa dengan rendah hati, supaya pada waktu pembukaan pertama kitab itu ditunjukkan apa yang sebaiknya mesti diperbuatnya.[79] Dalam hal ini ia dibimbing oleh roh yang menjiwai orang-orang kudus dan orang-orang yang amat sempurna, yang menurut apa yang dapat dibaca melakukan hal scmacam itu dengan kepercayaan keanakan dalam keinainan mereka akan kesucian.

93. Maka ia bangun dari doanya, lalu dengan rendah hati dan dengan keremuk-redaman hati ia menandai dirinya dengan tanda salib suci dan mengambil kitab dari altar dan membukanya dengan takut-hormat. Maka terjadilah bahwa ketika kitab dibukanya, didapatnya pertama-tama petilan sengsara Tuhan kita Yesus Kristus, dan itu pun hanya yang menyebutkan. bahwa penderitaan Nya akan amat pedih adanya[80]. Tetapi untuk menghindarkan keragu-raguan, kalau-kalau itu kebetulan saja, maka kitab dibukanya dua tiga kali, dan didapatnya petilan yang sama atau yang serupa. Lalu pria yang penuh roh Allah itu mengerti, bahwa ia mesti melalui banyak kegelisahan, kesusahan dan perjuangan untuk sampai ke dalam kerajaan Allah. Tetapi satria yang gagah perwira ini tidak gentar terhadap perjuangan yang dihadapinya; iapun tidak kehilangan keberanian untuk mengadakan pertempuran bagi Tuhan di medan perang dunia ini. Ia tidak takut tewas di muka musuh. Ia kan juga tidak mundur selangkahpun, sebab ia sudah lama menderita di atas kekuatan insaninya. Sungguh ia berkobar-kobar semangatya. Dan kalau pun dalam abad-abad yang lampau ada seorang rekan yang mengejar tujuan, namun tidak terdapat seorang pun yang lebih tinggi semangatnya dari pada dia. Sebab ia tahu benar-benar, bahwa adalah lebih mudah mengerjakan hal-hal yang sempurna dari pada mengatakan itu. Sebab selalu bukannya dengan kata-kata, yang tidak menghasilkan yang baik tetapi hanya menunjukkan itu saja, melainkan dengan perbuatan-perbuatan suci ia membuat usaha dan kegiatannya berhasil. Maka itu ia tidak goyah dan tetap riang dan rnenyanyikan lagu-lagu keriangan dalam hatinya bagi dirinya sendiri dan bagi Allah. Karena itu ia patut untuk wahyu yang lebih besar, justru karena ia telah bersuka-cita atas wahyu yang amat kecil pun, dan karena ia telah setia dalam perkara kecil, maka ia diberi kuasa atas banyak perkara.

Pasal III. Perihal penglihatannya tentang orang berupa Serafin yang tersalib

94. Dua tahun sebelum ia menyerahkan kembali jiwanya kepada surga[81]. St. Fransiskus berada di dalam pertapaan, yang karena letaknya dinamakan Alverna[82]. Disana tampak olehnya dalam suatu penglihatan Ilahi melayang sedikit di atasnya seorang pria mirip Serafin yang mempunyai enam sayap dan dengan tangan terentang dan kaki terikat bergantung di salib. Dua sayap terangkat di atas kepalanya, dua sayap terbentang siap untuk terbang dan akhirnya dua sayap menyelubungi seluruh tubuhnya. Ketika hamba Allah yang mahatinggi melihat itu, maka ia dipenuhi dengan ketakjuban yang amat besar, tetapi ia tidak tahu, apa gerangan makna penglihatan itu baginya. Namun ia amat bersukacita dan bergembira dengan hebatnya atas pandangan murah hati dan berahmat, yang dilihatnya diarahkan Serafin itu kepadanya dan yang tak terbayangkan pula keindahannya. Tetapi bergantungnya di salib dan kepedihan deritanya teramat memperanjatkan dia. Ketika ia berdiri lagi, maka boleh dikatakanlah, ia berdukacita dan bersukacita sekaligus; sukacita dan dukacita silih bergalnti dalam hatinya. Ia berpikir dengan gelisah, apa gerangan arti penglihatan itu; dan untuk menangkap arti sebenamya, rohnya amat cemas. – Sementara ia dengan akal-budinya tidak mengerti sesuatu pun dengan pasti dan kebaharuan dari penglihatan itu banyak menyibukkan hatinya, maka di tangan dan kakinya mulai nampak tanda-tanda paku, sebagaimana baru saja dilihatnya pada pria tersalib yang melayang sedikit di atasnya.

95. Tangan dan kakinya kelihatan tertembus paku di tengah-tengahnya. Adapun kepala paku itu di tangan nampak di bagian dalam dan di kaki di bagian atas, sedang ujungnya menganjur di sebelah lain. Tanda itu di bagian dalam tangannya adalah bundar, dan di bagian luar panjang. Dan secabik daging tampak seakan-akan ujung paku, yang terpukul bengkok dan terbalik. Demikian pun tanda-tanda paku tertera pula di kakinya dan menganjur di atas daging lainnya. Selanjutnya, lambung kanannya seakan-akan tertikam tombak dan menunjukkan perut, yang sering mengeluarkan darah, sehingga jubahnya dan cawatnya sering kena darah suci itu[83]. – Betapa sedikitnya orang yang boleh melihat luka lambung suci itu, selagi hamba yang tersalib dari Tuhan yang tersalib itu hidup. Mujurlah Elias, yang semasa hidupnya sang Santo bagaimana pun jua dapat melihatnya. Tidak kurang mujurnya pula Rufinus[84], yang telah boleh menjamahnya dengan tangannya sendiri. Ketika saudara Rufinus tersebut pada suatu ketika menaruh tangannya di atas dada sang Santo untuk menggaruk-garuknya, maka tangannya menjalar seperti sering terjadi, ke lambung kanannya dan kebetulan menyentuh parut yang mulia itu.

Karena sentuhan itu hamba Allah yang suci menderita tidak sedikit, dan segera ia menyentakkan tangan itu dari padanya seraya berseru, semoga Tuhan menyayangkan Rafinus. – Dengan amat seksama hamba Allah menyembunyikan luka-lukanya terhadap orang-orang luaran; bahkan terhadap teman-temannya yang terdekat ia menutup-nutupinya dengan amat cermat; sehingga saudara-saudara disampingnya dan pengikut-pengikutnya yang paling setia pun lama tidak mengetahuinya. – Dan walaupun hamba dan sahabat Allah yang mahatinggi itu melihat dirinya dihiasi dengan mutiara-mutiara amat elok seperti permata-permata mulia saja dan dianugerahi secara ajaib dengan kemuliaan dan kehormatan di atas semua orang, namun ia tidak bermegah-megah dengan pikiran sia-sia dan tidak berusaha karena nafsu akan kemuliaan yang sia-sia dan tidak berusaha karena nafsu akan kemuliaan yang sia-sia untuk berkenan pada siapapun juga, melainkan ia berikhtiar sedapat-dapatnya untuk menyembunyikan anugerah yang khas itu dengan cara manapun juga, agar perkenanan insani jangan sampai merampas rahmat, yang telah dianugerahkan kepadanya.

96. Adalah kebiasaan St. Fransiskus, untuk jarang atau sama sekali tidak menyingkapkan rahasia istimewa kepada siapapun jua, sebab ia takut, kalau-kalau ia bagaimanapun jua akan merugikan rahmat yang diberikan kepadanya, apabila ia dengan berkedok kecenderungan hati yang khusus, sebagaimana biasa dilakukan oleh teman-teman karib, membuka rahasiara-hasianya. Karena itu ia selalu menyimpan dalam hati dan sering juga mengatakan dengan mulutnya perkataan nabi yang berikut ini: “Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.” (Mzm. 118,1 1).

Tiap-tiap kali kalau ada sekelompok orang luaran hendak mengunjunginya dan ia tidak mau berbicara dengan mereka, maka ia telah memberikan isyarat berikut ini kepada saudara-saudara dan putera-putera yang tinggal bersama dengannya, yakni apabila ia mendaras ayat tersebut di atas, maka para pengunjung segera dipersilahkan mereka dengan sopan santun untuk pergi, sebab dari pengalaman ia tahu bahwa adalah suatu kesalahan besar untuk memberitahukan semuanya kepada semua orang; dan ia pun tahu, bahwa orang tidak dapat menjadi orang rohani sejati kalau orang itu dalam batin tidak mempunyai rahasia-rahasia yang lebih besar dan lebih banyak daripada yang dapat dilihat pada mukanya. Padahal ketampakan itu dapat diartikan oleh orang-orang seturut seginya masing-masing. Sebab dilihatnya. bahwa ada orang-orang yang secara lahiriah setuju dengan dia, tetapi di dalam batin tidak setuju dengan dia; ada pula yang bertepuk tangan di depannya. tetapi di belakarig punggungnya menertawakannya. Karena pertimbangan yang terlampau cepat membuat orang-orang yang jujur akan mencurigai dia. – Sebab seringkali kejahatan berusaha menghitam-hitamkan kemurnian dan karena kebohongan yang telah biasa dikalangan orang banyak, maka kejujuran yang ada pada sementara orang tidak dipercaya.

Pasal IV. Perihal semangat hangat St. Fransiskus dan perihal sakit matanya

97. Dalam peredaran waktu tubuhnya mulai terganggu pelbagai penderitaan yang lebih hebat daripada biasanya dahulu halnya. Berulang kali ia jatuh sakit. Betapa tidak, tubuhnya disiksa dengan keras dan telah bertahun-tahun lamanya diperbudaknya. Sebab selama genap delapanbelas tahun badannya hampir atau sama sekali tidak mendapat istirahat, kalau ia menjelajahi pelbagai daerah yang amat jauh.

Roh yang tinggal di dalam lubuk hatinya bersedia berserah dan berkobar-kobar untuk menaburkan benih sabda Allah. Ia memenuhi seluruh bumi dengan Injil Kristus, sehingga ia dalam tempo satu hari sering mengunjungi empat atau lima kampung atau malahan kota, seraya mewartakan kabar gembira kerajaan Allah di tiap-tiap tempat; dan dengan membuat seluruh tubuhnya menjadi lidah, ia membina para pendengarnya tidak kurang dengan teladan daripada dengan perkataan. – Begitu besar kesepakatan yang ada padanya antara tubuh dan roh, begitu besar kepatuhan tubuhnya, sehingga karena rohnya berusaha mencapai kesucian sepenuhnya, tubuhnya pun bukan hanya tidak menentangnya. tetapi malah juga berusaha mendahuluinya seturut apa yang tertulis ini: “Jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku jauh lebih rindu lagi kepada-Mu”. Penundukan yang tekun membuat tubuhnya menjadi sukarela, dan karena penaklukan diri sendiri hari demi hari maka ia mencapai tingkatan yang tinggi dalam hal keutamaan, sebab kebiasaan seringkali menjadi kodrat yang kedua.

98. Tetapi seturut hukum kodrat dan sekedar keadaan insani haruslah demikian jadinya, bahwasanya manusia lahiriah makin hari niakin merosot, walaupun ia dalam batin diperbaharui terus. Namun bejana amat mulia, yang di dalamnya tersembunyi harta surgawi itu, mulai tergocok di segala sudut dan menderita kelemahan dalam segala kekuatannya. Tetapi benarlah ayat ini: “Apabila seseorang berakhir, maka ia baru mulai; dan setelah berhenti, orang mulai bergiat.”

Sebab demikian pun hainya, dalam tubuh yang lemah, rohnya malahan lebih bersemangat. Begitu besar cinta hatinya akan keselamatan jiwa-jiwa dan begitu hausnya ia untuk merebut hati manusia bagi Kristus, sehingga ketika ia tidak dapat berjalan sendiri lagi, ia lalu menjelajahi negeri dengan naik keledai. – Berulang kali saudara-saudara menasihati dia dan meminta kepadanya dengan saran-saran dan desakan, agar ia sebaiknya minta pertolongan dokter untuk memulihkan tubuhnya yang sakit dan amat lemah itu. Tetapi karena rohnya yang luhur itu tertuju ke surga dan keinginannya hanyalah untuk dilebur dan berada bersama dengan Kristus, ia menolak mentah-mentah untuk melakukan itu.

Namun karena belum semuanya digenapkan yang masih kurang dalam sengsara Kristus di dalam tubuhnya sendiri, meskipun ia menanggung stigmata-Nya dalam tubuhnya, ia kejangkitan sakit mata yang amat berat, maka akhirnya saudara Elias, yang telah dipilihnya menjadi ibunya dan diangkatnya menjadi bapak saudara-saudara lainnya,[85] memaksa dia untuk tidak menolak obat, melainkan untuk menggunakan itu dalam nama Putera Allah, yang telah juga menciptakan itu, sebagaimana tertulis: “yang Mahatinggi menciptakan obat-obatan dari bumi, dan tidak diabaikan oleh orang yang arif”. Bapak suci lalu menyetujuinya dengan rela dan mengikuti dengan rendah hati perkataan penasihatnya.

Pasal V. Bagaimana ia diterima di Rieti oleh paduka tuan Hugo, uskup Ostia; dan bagaimana sang Santo meramalkan, bahwa beliau kelak akan menjadi uskup seluruh dunia

99. Banyak orang datang untuk menolongnya dengan obat-obatan, tetapi tidak terdapat obat yang mujarab baginya. Maka ia pergi ke Rieti, dimana seturut kata orang tinggal seorang ahli yang dapat mengobati penyakitnya. Setibanya di sana, ia diterima dengan murah hati dan hormat oleh segenap kuria Romawi, yang ketika itu berada di kota itu juga.[86] Khususnya ia diterima dengan penuh cinta oleh paduka tuan Hugo, uskup[87] Ostia, yang menonjol karena kesalehan tingkah lakunya dan kesucian cara hidupnya. Adapun beliau telah dipilih St. Fransiskus menjadi bapak dan pembesar persekutuan dan ordo saudara-saudaranya,[88] atas persetujuan dan kerelaan Sri Paus Honorius, justru karena kemiskinan luhur amat berkenan pada beliau dan karena kesederhanaan suci amat dihargai beliau.

Adapun yang termulia itu menyesuaikan diri dengan cara hidup saudara-saudara, dan dalam keinginan akan kesucian beliau sudi menjadi sederhana di tengah-tengah orang-orang sederhana, rendah hati di tengah-tengah orang-orang rendah hati dan miskin di tengah-tengah orang-orang miskin. Beliau adalah saudara di tengah saudara-saudara, amat dina di tengah-tengah para dina, dan seperti salah satu di antara yang lain-lain, dan beliau berusaha, sejauh diperbolehkan, melangkah dalam cara hidup dan tingkah laku seperti semua lainnya. Dengan penuh perhatian ia berusaha menanamkan ordo suci di mana-mana, dan keharuman namanya yang cemerlang dari hidupnya yang lebih cemerlang lagi beliau amat memperluas ordo suci di daerah-daerah yang jauh.

Tuhan memberi beliau lidah yang fasih; dengan itu beliau mempermalukan para lawan dan membantahi para musuh salib Kristus, mengembalikan orangorang yang sesat jalan dan mendamaikan orang-orang yang berselisih dan mempererat orang-orang yang rukun dengan ikatan cinta kasih yang lebih kuat. Di dalam Gereja Allah beliau adalah obor yang bernyala-nyala dan bercahaya, anak panah yang siap untuk dilepaskan pada saat yang tepat. – Betapa seringnya beliau menanggalkan pakaian kebesarannya, dan lalu mengenakan jubah yang lusuh, melangkah dengan kaki telanjang seperti salah satu dari antara saudara-saudara saja; dan beliau mengusahakan apa yang berguna akan damai. Damai itu sedapat-dapatnya diusahakannya antara orang dan sesamanya, lebih-lebih antara Allah dan manusia. Karena itulah tidak lama kemudian beliau dipilih Tuhan menjadi gembala seluruh Gereja-Nya yang kudus d.an kepalanya ditinggikan di tengah-tengah himpunan bangsa-bangsa.

100. Agar diketahui, bahwa hal itu terjadi atas ilham Ilahi dan seturut kehendak Kristus Yesus, maka bapak St. Fransiskus meramalkan hal itu lama sebelumnya dan menunjukkan hal itu dengan tanda yang nyata. – Sebab ketika ordo dan persekutuan saudara-saudara berkat pckerjaan rahmat Ilahi mulai cukup berkembang, dan bagaikan pohon aras di Firdaus Allah membubungkan pucuk jasanya ke surga para kudus dan laksana pokok anggur pilihan menjulurkan ranting-ranting sucinya ke bumi yang luas, maka St. Fransiskus pergi menghadap Sri Paus Honorius, yang ketika itu mengepalai Gereja Roma, dan dengan rendah hati mengajukan permohonan kepada Sri Paus, untuk mengangkat paduka tuan Hugo, uskup Ostia, menjadi bapak dan pembesar atas dirinya serta saudara-saudaranya. Adapun Sri Paus menyetujui dan meluluskan dengan rela permohonan sang Santo dan menyerahkan kekuasaannya atas ordo saudara-saudara kepada beliau. Tugas itu diterima beliau dengan hormat dan bakti. Sebagai hamba yang setiawan dan bijaksana dari keluarga Tuhan berusaha dengan segata upaya, untuk pada saat yang tepat[89] menerimakan santapan kehidupan kekal kepada semua yang dipercayakan kepada beliau. Karena itu pun bapak suci patut kepada beliau dengan segala cara dan menghormati beliau dengan perasaan cinta yang ajaib dan bakti.

Fransiskus dibimbing roh Allah yang memenuhinya. Oleh karena itu ia melihat jauh sebelumnya apa yang dikemudian hari akan dilihat semua orang dengan mata kepala sendiri. Sebab tiap-tiap kali untuk kepentingan keluarga religiusnya atau lebih tepat demi cinta kasih Kristus, yang berkobar-kobar dalam hatinya terhadap beliau, ia hendak menulis surat kepada beliau, maka baginya sekali-kali tidak cukuplah untuk dalam surat itu menyebut beliau uskup Ostia dan Velletri saja,[90] sebagaimana dilakukan yang lain-lain dalam rumus salam biasa, melainkan ia mengubah rumus itu sebagai berikut: “Kepada yang mulia bapak atau tuan Hugo, uskup seluruh dunia.” – Sering pula ia menyampaikan salam takzim yang belum pernah terdengar; dan walaupun ia adalah putera yang patuh, namun kadang-kadang atas ilham Roh Kudus ia membesarkan hati beliau dengan perkataan kebapaan, untuk meneguhkan berkah-berkah para leluhur atas beliau, sampai kerinduan bukit-bukit yang berabad-abad terpenuhi pada beliau.

101. Tuan uskup tersebut amat berkobar-kobar cintanya kepada pria suci itu sebab ia amat berkenan pada beliau. Seringkali, melihat orang kudus itu saja sudah cukup bagi beliau untuk kena pengaruhnya sepenuhnya. Beliau sendiri menyatakan, bahwa betapapun besarnya kerisauan dan kegelisahan hatinya, itu toh tidak pernah sampai begitu hebatnya, sehingga dengan melihat dan bercakap-cakap dengan St. Fransiskus saja tak pernah segala kabut hatinya tidak mundur dan hatinya tidak kembali menjadi tenang, kemurungan hatinya tidak dienyahkan dan sukacita dari atas tidak berhembus lagi. Beliau melayani St. Fransiskus seperti seorang hamba terhadap tuannya. Tiap-tiap kali beliau melihat hamba Allah, beliau memberikan hormat kepadanya sebagai rasul Kristus; dan seraya menundukkan jiwa dan badan, beliau sering mencium tangannya dengan mulut yang terberkati itu. Beliau mengusahakan dengan penuh perhatian dan bakti, agar bapak suci memperoleh kembali kesehatan matanya seperti dahulu, karena beliau yakin, bahwa orang yang suci dan jujur itu diperlukan sekali dan teramat berguna bagi Gereja Allah. Demi dia pun beliau ikut merasa prihatin atas seluruh persekutuan saudara-saudara dan demi bapaknya beliau mengasihani putera-putera. Oleh karena itu beliau menasihati bapak suci, supaya ia menjaga dirinya baik-baik dan supaya ia jangan menolak apa yang perlu bagi sakitnya, sehingga kelalaian dalam hal itu tidak sampai lebih dinilai sebagai dosa daripada pahala. – Adapun St. Fransiskus dengan rendah hati memenuhi apa yang dikatakan kepadanya oleh pembesar yang amat terhormat dan bapak yang amat tercinta itu. Selanjutnya ia melakukan dengan penuh perhatian dan dengan lebih seksama apa yang perlu untuk kesehatannya. Tetapi penyakitnya sudah begitu menghebat, sehingga ahli-ahli yang terpandai dan obat-obatan yang termanjur diperlukan untuk agak mengurangi penderitaannya. Walaupun kepalanya telah dibakar pada beberapa tempat dan telah diadakan penorehan pembuluh darah, dan walaupun perekat ditampalkan dan salap dioleskan padanya, namun tidak ada kemajuan sedikit pun, malahan keadaannya semakin buruk.

Pasal VI. Perihal keutamaan saudara-saudara yang melayani St. Fransiskus; dan bagaimana ia mengatur hidupnya sendiri

102. Penderitaan itu ditanggungnya hampir dua tahun lamanya dengan segala kesabaran dan kerendahan hati seraya bersyukur kepada Allah. Tetapi untuk dapat mengarahkan perhatiannya dengan lebih leluasa kepada Allah dan untuk dapat berada di dalam kediaman bahagia di surga, bila ia dalam keadaan ekstase, dan untuk dapat memasuki bangsal-bangsal dan untuk dalam kelimpahan rahmat dapat tampil di hadapan Tuhan semesta alam yang amat murah hati dan baik hati di alam surgawi, maka ia menyerahkan pemeliharaan pribadinya kepada beberapa saudara yang amat tersayang baginya karena jasa-jasa mereka. Adapun nama mereka sekarang tidak kusebutkan, untuk menenggang keseganan mereka, yang menjadi teman akrab mereka sebagai orang-orang rohani. Keseganan (suci) adalah perhiasan bagi segala umur, saksi ketulusan hati, ciri kemurnian budi, cambuk ketertiban, kemuliaan khas suara hati yang baik, pengawal nama harum dan lencana kesopanan.

Keutamaan ini menghiasi mereka dan membuat mereka patut disayang dan baik budi terhadap orang-orang. Anugerah ini dimiliki mereka bersama, tetapi masing-masing dihiasi keutamaannya sendiri-sendiri yang satu berperasaan halus sekali;[91] yang lain mempunyai kesabaran yang khas;[92] yang lain lagi memiliki kesederhanaan yang mulia;[93] dan yang terakhir mempunyai tubuh yang kekar tetapi hatinya lemah lembut.[94]

Nah, mereka itu dengan segala kewaspadaan, segala semangat dan segala kerelaan menjaga ketenangan batin bapak suci, merawat tubuhnya yang sakit. Mereka tidak menghindari kesukaran dan tidak mengenal lelah, melulu mengabdikan diri sepenuhnya untuk melayani sang Santo.

103. Walaupun bapak yang mulia itu telah mencapai kesempurnaan dalam rahmat di hadapan Allah dan memancarkan sinarnya karena pekerjaan-pekerjaan suci di tengah-tengah orang-orang dunia ini, namun ia selalu berpikir untuk memulai yang lebih sempurna dan untuk selaku satria yang terlatih amat baik dalam balatentara Allah menantang musuh dan mengobarkan perang baru lagi. Di bawah pimpinan Kristus ia masih bemiat melakukan hal-hal yang besar. Meskipun anggota-anggota tubuhnya sudah lumpuh dan tubuhnya sudah mati, namun ia mengharapkan kemenangan atas musuh dalam pertempuran yang baru. Memang, keutamaan yang sejati tidak mengenal akhir, karena ganjaran yang diharapkan adalah abadi. Karena itu berkobarlah dalam hatinya kerinduan yang amat besar untuk kembali lagi kepada kehina-dinaan yang semula.

Terbawa oleh cinta kasih yang tak terhingga ia berharap dengan penuh suka-cita dan berniat mengerahkan kembali tubuhnya kepada pengabdian semula, meskipun itu sudah diperasnya sampai sehabis-habisnya. Ia menghapus kekuatiran yang merintangi dan menindas sepenuhnya setiap kesugulan yang menggelisahkan hatinya. Dan ketika karena sakitnya ia terpaksa melunakkan kekerasannya yang dahulu, maka ia berkata: “Marilah saudara-saudara, kita mulai mengabdi kepada Tuhan Allah, sebab hingga kini kita hampir tidak atau sedikit saja atau sama sekali tidak mencapai kemajuan.” Ia beranggapan, bahwa hingga kini ia tidak mencapai sesuatu pun; dan dengan tak kunjung lelah ia bertekun dalam usahanya untuk kesucian, dan lagi ia hidup dalam pengharapan untuk memulai lagi. – Ia mau kembali lagi melayani orang-orang kusta dan mau dicemoohkan lagi, seperti yang dahulu dialaminya. Ia berniat menghindari pergaulan dengan orang-orang dan mau pergi ke tempat-tempat yang jauh, agar ia lepas dari segala urusan dan bebas dari segala kesugulan atas orang-orang, sehingga ia hanya terpisah dari Allah oleh dinding tubuhnya saja.

104. Ia melihat banyak saudara beramai-ramai menginginkan jabatan-jabatan dalam pimpinan ordo. Ia mengutuk kegegabahan orang-orang itu dan berusaha dengan teladannya menjauhkan mereka dari bencana itu. Ia pun menyatakan, bahwa adalah baik dan berkenan di hadapan Allah memelihara orang-orang lain. Dikatakannya, bahwa tugas memelihara jiwa-jiwa hanya patut dilakukan oleh saudara-saudara, yang tidak mencari kepentingan diri sendiri, melainkan selalu mengindahkan kehendak Allah dalam segalanya, yaitu mereka tidak mengutamakan sesuatu pun di atas keselamatannya sendiri dan yang tidak mencari tepuk tangan orang-orang, melainkan menakutinya; mereka yang tidak menyombongkan diri, bila diangkat, tetapi malahan menjadi rendah hati; mereka yang tidak murung hati, bila diberhentikan, melainkan malah bergembira. Terutama di mana kejahatan menonjol ke depan dan kelaliman persimaharajalela, berbahayalah, katanya, untuk memimpin, tetapi sebaliknya bermanfaatlah, katanya, membiarkan diri dipimpin. Ia menyesalkan, bahwa beberapa saudara telah meninggalkan karya semula dan melupakan kesederhanaan semula setelah mereka menemukan sesuatu yang baru. Karena itu ia mengeluh, bahwa mereka-yang dahulu dengan segenap hati mengusahakan hal-hal yang lebih tinggi, telah merosot kepada hal-hal yang tidak penting dan yang sia-sia di lapangan kebebasan yang tidak terkekang, setelah meninggalkan sukacita yang sejati. Maka itu ia berdoa kepada Allah yang maha rahim untuk membebaskan putera-pu teranya dan memohon dengan sangat kepada Tuhan untuk memelihara mereka dalam rahmat yang telah dianugerahkan.

Pasal VII. Bagaimana ia pergi dari Siena ke Asisi; dan perihal gereja St. Maria dari Porciuncula dan perihal berkahnya kepada saudara-saudara

105. Dalam bulan keenam sebelum wafatnya,[95] ia tinggal di Siena untuk perawatan sakit matanya. Di sana ia mulai sakit parah dalam seluruh tubuhnya: perutnya amat lemah karena lama sakit dan karena gangguan hati; ia muntah darah banyak, sehingga ia kelihatan sudah dekat ajalnya. Setelah diberitahu tentang hal itu, maka saudara Elias bergegas-gegas datang dari jauh kepadanya. Pada kedatangannya bapak suci menjadi lebih kuat, sehingga ia dapat meninggalkan tempat itu dan dapat sampai ke Le Celle dekat Kortona. Setelah tiba di situ dan beristirahat beberapa lama, maka perutnya membusung dan kakinya membengkak. Perutnya makin lama makin lemah, sehingga tidak dapat menahan makanan apapun. Lalu ia minta kepada saudara Elias, untuk diangkut ke Asisi.

Putera yang baik itu melakukan apa yang diminta bapak yang penuh kasih sayang. Setelah segala-galanya dipersiapkan ia lalu diangkutnya ke tempat yang diinginkannya.

Bersukacita atas kedatangan bapak suci dan mulut sekalian orang memuji, sebab rakyat banyak menantikan hamba Allah yang suci akan berpulang dalam waktu yang dekat; dan itulah alasan kegembiraan mereka.

106. Atas kehendak Allah terjadilah, bahwa jiwanya yang suci lepas dari tubuhnya dan beralih ke kerajaan surga di tempat ia selagi hidup di dunia untuk pertama kalinya diberi pengetahuan tentang hal-hal surgawi dan dicurahi urapan keselamatan. Ia tahu, bahwa kerajaan surga telah didirikan di setiap tempat di bumi, dan ia percaya bahwa rahmat Allah dibagi-bagikan kepada orang-orang pilihan Allah di segala tempat.

Namun demikian telah dialaminya, bahwa di tempat gereja St. Maria di Portiuncula dipenuh dengan rahmat yang berlimpah-limpah dan lebih sering dikunjungi roh-roh surgawi. Karena itu ia pun sering berkata kepada saudara-saudara: “Ingatlah, anak-anakku, janganlah sekali-kali tempat ini kamu tinggalkan. Jika kamu diusir keluar-di sebelah yang satu, masuklah kembali di sebelah yang lain. Sebab tempat ini adalah sungguh kudus dan kediaman Allah. Di sinilah yang Mahatinggi telah menambah jumlah kita, ketika masih sedikit jumlah kita. Di sini Ia telah menerangi hati orang-orang miskin dengan terang kebijaksanaan-Nya. Di sini Ia telah menyalakan kehendak kita dengan api cintakasih-Nya. Di sini pun siapa yang berdoa dengan hati yang bakti, akan memperoleh apa yang mohonnya, dan siapa yang bersalah akan dihukum lebih berat. Karena itu, anak-anakku, patutlah kamu hormati tempat kediaman Allah ini, dan pujilah Allah di sini dengan segenap hatimu dengan suara gembira dan lagu pujian.”

107. Sementara itu sakitnya bertambah buruk; segala tenaga tubuhnya berkurang dan ia sama sekali tidak berdaya lagi, sehingga ia tidak dapat bergerak sama sekali. Dan ketika ia ditanyai seorang saudara, apa yang lebih suka ditanggungnya, sakit yang lama dan berkepanjangan atau menderita kemartiran hebat oteh tangan algojo, maka sahutnya: “Nak, adapun yang kusukai, lebih manis dan lebih dapat kuterima dahulu dan sekarang ialah selalu apa yang seturut perkenan Tuhan Allahku terjadi atas dan dengan aku. Satu-satunya yang selalu kuinginkan ialah dalam segala-galanya selalu menyesuaikan diriku dengan kehendak-Nya dan terdapat taat kepada-Nya. Tetapi seandainya aku akan ganti kemartiran manapun mesti menanggung sakit selama tiga hari saja, maka penderitaan kiranya lebih berat rasanya. Ini kukatakan bukannya demi pahala dan ganjarannya melainkan karena pedihnya penderitaan yang ditimpakan. Oh, martir, ya sungguh martir, yang menanggung dengan rela hati seraya tersenyum dan tetap riang hati apa yang di mata orang-orang sangat pedih dan amat berat itu! Memang, padanya tidak tinggal anggota satu pun tanpa kenyerian derita yang teramat berat.[96] Suhu alamiah badannya semakin lama makin turun. Dokter-dokter tertegun, saudara-saudara keheran-heranan, mana boleh rohnya masih dapat hidup di dalam tubuhnya yang sebenarnya sudah mati itu; dagingnya telah digerogoti sampai habis, hanya kulitnya masih melekat pada tulang-tulangnya.

108. Ketika ia melihat, bahwa hari terakhirnya sudah diambang pintu, hal mana sudah diberitahukan kepadanya dua tahun sebelumnya lewat wahyu Ilahi, maka ia menyuruh panggil saudara-saudara, yang dikehendakinya berada di sampingnya. Ia memberkati masing-masing, sebagaimana diilhamkan dari atas kepadanya, seperti dahulu bapak bangsa Yakob memberkati anak-anaknya, bahkan seperti Musa kedua melimpahi bani Israel dengan berkah, ketika ia hendak mendaki gunung yang ditunjuk Allah.

Sementara saudara Elias berada di sebelah kirinya dan saudara-saudara lainnya duduk dalam lingkaran di kelilingnya, ia lalu menyilangkan tangannya dan menumpangkan tangannya di atas kepala Elias. Karena ia telah kehilangan terang dan penggunaan matanya, maka ia bertanya: “Atas siapakah kutumpangkan tangan kananku?” Sahut mereka: “Atas saudara Elias.” “Demikian pun yang kukehendaki,” sambungnya. “Nak,” katanya, “engkau kuberkati dalam semua dan karena segala-galanya; dan sebagaimana yang Mahatinggi menambah saudara-saudaraku dan anak-anakku dalam tanganmu, demikian pun kuberkati semua karena dan dalam dikau. Semoga Allah, Raja semesta alam, engkau di langit dan di bumi. Kuberkati engkau sekadar aku dapat dan lebih dari aku dapat; dan apa yang aku tidak dapat, semoga yang Mahakuasa melengkapinya dalam dikau. Semoga Allah ingat akan pekerjaan dan jerih payahmu dan mudah-mudahan bagianmu terpelihara pada hari pembalasan orang-orang benar. Mudah-mudahan engkau mendapat segala berkat, yang kauinginkan; dan mudah-mudahan apa yang kaumohon dengan tepat, terpenuhi pula.[97]

“Selamat tinggal, anakku sekalian, di dalam takwa Tuhan dan tinggallah tetap di dalamnya, sebab atas kamu akan datang percobaan besar dan kesesakan akan menghimpit. Berbahagialah yang bertahan dalam hal yang telah dimulainya. Tetapi beberapa orang karena batu sandungan yang akan datang akan memisahkan diri. Namun kini aku bergegas-gegas pergi kepada Tuhan dan aku percaya akan sampai kepada Allah, yang telah kuabdi dalam rohku dengan bakti.”

Ketika itu ia berada di Wisma uskup Asisi, dan oleh karena itu ia minta kepada saudara-saudara, untuk selekas-lekasnya diangkat ke tempat St. Maria dari Portiuncula. Sebab di sana ia mau menyerahkan kembali jiwanya kepada Allah, di mana seperti telah dikatakan ia untuk pertama kalinya mengenal jalan kebenaran secara sempurna.

Pasal VIII. Apa yang diperbuat dan dikatakan Fransiskus ketika ia wafat dengan bahagia

109. Jangka waktu duapuluh tahun pertobatannya sudah berlalu, sebagaimana telah diberitahukan kepadanya oleh kehendak Ilahi.[98] Sebab ketika bapak suci sendiri dan saudara Elias pada suatu waktu berada di Foligno dan pergi tidur pada suatu malam, maka berdirilah disamping saudara Elias seorang imam berpakaian serba putih, yang sudah aki-aki dan lanjut usianya dan kelihatan anggun, seraya berkata kepadanya: “Bangunlah, saudara, dan katakanlah kepada saudara Fransiskus, bahwa delapanbelas tahun telah berlalu sejak ia meninggalkan dunia dan menganut Kristus. dan terhitung mulai sekarang hanya tinggal dua tahun lagi ia hidup di dunia dan lalu ia akan dipanggil Tuhan dan akan menempuh jalan segala yang fana”. Maka pada waktu yang telah ditetapkan terpenuhilah sabda Tuhan yang telah dikatakan lama sebelumnya.

Ketika ia telah beristirahat beberapa hari lamanya di tempat yang sangat diinginkannya, dan mengetahui, bahwa saat ajal sudah dekat di ambang pintu, maka dipanggilnya dua saudara, yaitu dua puteranya yang paling tersayang,[99] lalu disuruhnya menyanyikan dengan suara nyaring Pujian kepada Tuhan[100] tentang maut yang sudah dekat, bahkan tentang hidup yang akan datang. Ia sendiri mengangkat sekadar ia dapat, mazmur Daud ini: “Dengan nyaring aku berseru-seru kepada Tuhan; dengan nyaring aku memohon kepada Tuhan.” (Mzm. 141)

Di antara saudara-saudara ada seorang saudara yang amat disayangi sang Santo dan yang amat prihatin atas semua saudara,[101] berkata kepada sang Santo, ketika dilihatnya kesemuanya itu dan diketahuinya ajalnya sudah dekat sekali: “Bapak yang baik hati, ah, kami anak-anak, tinggal tanpa bapak, kehilangan terang mata kami yang sejati! Ingatlah akan yatim piatu yang bapak tinggalkan, dan maafkanlah segala kesalahan kami, dan gembirakanlah hati kami yang hadir maupun yang tidak hadir dengan berkah suci bapak”. Sahut sang Santo kepadanya: “Ingatlah nak, aku dipanggil oleh Allah. Aku memaafkan segala pelanggaran dan segala kesalahan saudara-saudaraku yang hadir dan yang tidak hadir, dan sejauh aku dapat, mereka sekalian kulepaskan daripadanya; kabarkanlah kepada mereka semua dan berkatilah semua saudara atas namaku.”[102]

110. Akhirnya ia menyuruh ambil kitab Injil dan minta dibacakan Injil Yohanes, mulai dari ayat ini: “Enam hari sebelum hari raya Paskah, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia kepada Bapa.” (Yoh. 13:1). Minister pun[103] bermaksud membacakan Injil itu sebelum diperintahkan kepadanya. Ini pun yang didapati minister itu ketika ia membuka kitab itu untuk pertama kalinya, walapun itu adalah seluruh Kitab suci yang lengkap, yang daripadanya harus dibacakan Injil itu. Lalu bapak suci menyuruh baringkan tubuhnya di atas kain bulu kambing dan ditaburi tubuhnya dengan abu, karena ia segera akan menjadi debu dan abu.[104]

Sementara banyak saudara berdatangan, karena ia adalah bapak dan pemimpin mereka, dan semua berdiri di kelilingnya dengan hormat sambil menantikan kesudahan dan ajal yang bahagia, maka jiwanya yang amat suci melepaskan diri dari tubuhnya dan terserap dalam lautan cahaya abadi, sedang tubuhnya meninggal dalam Tuhan. Salah seorang saudara dan muridnya[105] – namanya cukup tersohor, tetapi kukira namanya tidak perlu disebutkan, karena selama ia hidup, ia tidak mau dipuji-puji karena anugerah sebesar itu, – melihat jiwa bapak tersuci lewat jalan lurus naik di atas banyak air langsung ke surga. Jiwanya laksana bintang, sebesar bulan, tetapi dengan sinar cahaya matahari, dibawa oleh mega-mega putih ke atas.

111. Oleh karena itu bolehlah aku berteriak: “Betapa mulianya orang kudus, yang jiwanya dilihat muridnya naik ke surga itu! Elok bagaikan rembulan, terpilih laksana matahari, dan bersinar teramat mulia, ketika ia naik di atas awan yang cerah! Sungguh, engkau adalah terang dunia; terang benderang cahayamu seperti matahari di dalam Gereja Kristus. Tetapi lihatlah, engkau telah menarik kembali sinar terangmu daripada kami, dan engkau mundur sampai ke dalam tanah air yang bercahaya; dan engkau menukar pertemanan kami yang malang ini dengan pertemanan para Malaikat dan para Kudus! Engkau bapak yang mulia, luhur dan patut dipuji, janganlah engkau melepaskan perhatianmu terhadap anak-anakmu, walaupun engkau telah melepaskan kesamaan tubuh dengan kami. Engkau tahu, memang engkau sungguh tahu, dalam tingkatan bahaya mana engkau telah meninggalkan kami. Susah payah kami yang tak terbilang jumlahnya dan kesesakan kami yang berlipat-ganda pada setiap saat diringankan dalam belas-kasihanmu oleh kehadiranmu yang membahagiakan itu, ya bapak yang tersuci, karena engkau selalu bersedia mengasihani dan menyayangi anak-anakmu yang berdosa! Maka itu engkau kami puji, bapak yang mulia, yang telah diberkati oleh yang Mahatinggi: Dia selalu adalah Allah yang terpuji selama-lamanya. Amin.

Pasal IX. Ratapan para saudara dan sukacita mereka ketika mereka melihat tanda-tanda salib padanya; dan perihal sayap Serafin

112. Maka banyak orang, datang berduyun-duyun sambil memuji Allah, katanya: “Terpujilah dan diluhurkan Engkau. Tuhan Allah kami. yang telah mempercayakan harta semulia itu kepada kami yang tak layak ini! Pujian dan kemuliaan kepada-Mu, Tritunggal yang tidak terperikan!”[106] – Seisi kota Asisi membanjir ke situ dan seluruh daerah itu bergegas-gegas datang hendak melihat karya-karya agung Allah yang telah dinyatakan Tuhan yang Mahaluhur secara mulia dalam hambanya yang suci. Masing-masing menyanyikan lagu riang sekadar diilhamkan hati yang gembira, dan mereka semua memuji kemahakuasaan Penyelamat, karena keinginan mereka terpenuhi. Namun putera-puteranya meratap karena kehilangan bapak sebesar itu dan mengungkapkan perasaan kasih sayang hati mereka dengan cucuran air mata dan keluh kesah.

Tetapi dukacita mereka ditahan oleh sukacita yang belum pernah terdengar; dan kebaharuan mukzizat-mukzizat membuat hati mereka tertegun. Kesedihan mereka berbalik menjadi lagu pujian. Keluh kesah berubah menjadi sorak sorai. Belum pernah mereka mendengar atau membaca dalam buku-buku apa yang kini disaksikan mereka dengan mata kepala sendiri. Mereka pun kiranya tidak akan diyakinkan, sekiranya tidak dibuktikan dengan kesaksian yang terang benderang. Terpantul sungguh-sungguh padanya sengsara Anak domba yang tak bernoda, yang membasuh kejahatan-kejahatan dunia. Ia kelihatan seakan-akan baru diturunkan dari atas salib, seakan-akan tertikam tombak. Mereka pun melihat, bahwa tubuhnya yg tadinya kehitam-hitaman itu, kini bersinar putih menyilaukan dan karena keelokannya menunjuk akan janji ganjaran kebangkitan yg bahagia Akhirnya mereka melihat wajahnya bagaikan wajah malaikat, seakan-akan ia hidup dan tidak mati; kulitnya tidak keras; anggota-anggotanya tidak kaku, tetapi dapat digerakkan kian-kemari seperti diletakkan orang.

113. Karena tubuhnya berkilauan dalam keelokannya yang amat ajaib bagi semua yang melihatnya, dan dagingnya semakin putih menyilaukan, maka adalah sungguh menakjubkan, kalau orang melihat di tengah-tengah tangan dan kakinya bukannya luka-luka semata-mata,[107] melainkan paku-paku itu sendiri yang terbentuk dari dagingnya dan mempunyai warna besi, dan lambung katiannya merah karena darah. Tanda-tanda kemartiran tidak mengerikan bagi mereka yang melihatnya, melainkan malah menambah keelokan dan kejelitaannya, sebagaimana halnya dengan permata hitam dengan dasar putih.

Saudara-saudara dan putera-putera bergegas-gegas mencium dengan cucuran air mata tangan dan kaki bapak mereka yang tersayang, yang telah meninggalkan mereka, maupun lambung kanannya, yang lukanya membangkitkan kenangan yang hidup kepadanya dan yang dari tempat itu juga menumpahkan darah dan air sekaligus dan mendamaikan dunia dengan Bapa di surga. Siapa saja dari antara rakyat percaya, bahwa anugerah besar itu teruntuk dirinya juga, jika ia tidak hanya diperkenankan untuk mencium, tetapi juga untuk melihat stigmata kudus Yesus Kristus, yang dimiliki St. Fransiskus dalam tubuhnya. Siapa gerangan kalau melihat itu, tidak akan lebih cenderung untuk bersukacita daripada untuk menangis, dan jika ia menangis, ia berbuat begitu tidak lebih karena sukacita daripada karena kesedihan? Hati siapa gerangan, meski dari baja sekalipun, tidak akan tergerak untuk berkeluh-kesah? Hati siapa gerangan, meski sekeras batu sekalipun, tidak akan terkerkah hingga remuk-redam dan tidak akan dinyalakan akan cintakasih Ilahi dan tidak akan dipersenjatai untuk kehendak yang baik? Siapa gerangan begitu tumpul, begitu tak berperasaan, sehingga ia tidak diterangi oleh kebenaran yang kentara sekali, bahwasanya orang kudus ini, sebagaimana dahulu ditandai dengan anugerah yang istimewa di dunia, kini dipermuliakan dengan kemuliaan yang tidak terperikan di surga?

114. Sungguh anugerah yang khas dan tanda cintakasih yang istimewa, bahwasanya satria diperiengkapi dengan senjata kemuliaan, yang sepantasnya bagi martabat tertinggi Raja semata-mata! Sungguh mukzizat yang patut dikenangkan selama-lamanya, dan rahasia yang dengan tak kunjung putus patut dikenangkan dengan kehormatan dan ketakjuban, bahwasanya misteri iman perihal Darah Anak domba tak bernoda, yang mengalir dengan berlimpah-limpah dari kelima luka dan yang membasuh kejahatan-kejahatan dunia itu disajikan sampai tembus mata! 0 hiasan mulia salib yang menghidupkan, yang memberikan kehidupan kepada orang-orang mati! Betapa sedapnya beban yang ditekankan dan betapa manisnya luka-luka yang ditembuskan, sehingga oleh karenanya tubuh yang mati hidup kembali dan roh yang lemah diperkuat! Ia mencintai Engkau banyak-banyak, sampai di Kau kurniai begitu mulia! Kemuliaan dan pujian kepada Allah yang Esa dan bijaksana, yang membaharui tanda-tanda dan membuat mukzizat-mukzizat baru, untuk menghibur hati orang-orang yang sakit dengan wahyu-wahyu yang baru dan untuk lewat mukzizat di dunia yang kelihatan mengangkat hati mereka kepada cintakasih akan barang-barang yang tak kelihatan! 0 pengaturan yang ajaib dan patut dicintai! Agar jangan sampai timbul keragu-raguan sedikit pun tentang corak baru mukzizat itu, Engkau pertama-tama menunjukkan dengan penuh belaskasihan-Mu dalam Dia, yang dari surga datangnya, apa yang tidak lama kemudian hendak Kaukerjakan dalam dia, yang masih hidup di dunia. Dan malah Bapa sejati segala belaskasihan menunjukkan, ganjaran mana patut diterima oleh dia, yang berusaha mencintai dengan segenap hati, yaitu ia ditempatkan di tingkat yang lebih tinggi dan lebih dekat pada Tuhan dalam deretan roh-roh surgawi yang tertinggi.[108]

Itu pun pasti sekali dapat kita peroleh, jika kita seperti Serafin[109] membentangkan dua sayap di atas kepala kita, yaitu jika kita seturut teladan St. Fransiskus dalam setiap pekerjaan baik mempunyai ujud yang murni dan cara kerja yang lurus dan mengarahkan itu kepada Allah dan berusaha dengan tak kunjung lelah untuk berkenan pada-Nya dalam segala-galanya. Kedua sayap itu dihubungkan satu sama lain untuk menudungi kepala; sebab Bapa segala cahaya sekali-kali tidak mau menerima perbuatan lurus tanpa ujud yang murni, dan juga sebaliknya, sebagaimana ia sendiri berfirman: “Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu “jahat, gelaplah seluruh tubuhmu.” (Mt. 6:22-23). Adapun mata itu tidak baik, jika mata karena kurang pengetahuan tentang kebenaran tidak melihat apa yang harus dilihat ataupun karena tidak mempunyai ujud murni lalu melihat apa yang tidak boleh dilihat. Dalam hal yang pertama akal sehat akan menamakan mata tidak baik dan dalam hal yang kedua mata jahat. Bulu-bulu sayap-sayap itu ialah cintakasih Bapa yang menyelamatkan dengan penuh belaksasihan dan ketakutan kepada Tuhan yang hendak menghakimi secara mengerikan. Bulu-bulu itu harus membebaskan orang-orang terpilih dari keduniawian, dengan menindas nafsu-nafsu yang jahat dan dengan mengatur keinginan-keinginan hati yang murni. Dua sayap lagi harus dikembangkan akan terbang untuk memenuhi cintakasih rangkap kepada sesama manusia, yaitu dengan menyegarkan jiwa sesama orang dengan sabda Allah dan menolong tubuh sesama orang dengan bantuan jasmaniah. Jarang sekali kedua sayap dapat dihubungkan satu sama lain, karena hampir tidak mungkinlah dua kewajiban itu dipenuhi sekaligus oleh seorang pun. Bulu-bulu sayap-sayap itu ialah pelbagai macam pekerjaan baik, yang dapat digunakan untuk membantu sesama orang dengan nasihat atau perbuatan.

Akhirnya dengan dua sayap lagi ditudungi tubuh, yang telanjang akan pahala-pahala. Ini pada umumnya terjadi, apabila orang karena jatuh dalam dosa ditelanjangi pahala-pahalanya, lalu dengan sesal hati dan pengakuan diberi baju kesucian lagi. Bulu-bulu sayap-sayap itu ialah pelbagai perasaan hati, yang timbul karena kebencian kepada dosa dan karena kerinduan kepada kebenaran.

115. Nah, kesemuanya itu telah dipenuhi secara sempurna sekali oleh bapak St. Fransiskus. Ia memegang teguh citra dan wujud Serafin, dan ia bertahan di salib dan oleh karenanya patut terbang sampai ke tingkat roh-roh yang tertinggi. Ia tetap bergantung di salib, karena ia tidak pemah menghindari susah payah dan derita, melulu untuk dapat memenuhi kehendak Allah dalam dirinya dan pada dirinya.

Selanjutnya, saudara-saudara yang hidup bersama dengannya, tahu bagaimana setiap hari pembicaraan terus menerus tentang Yesus ada di dalam mulutnya, betapa manis dan sedapnya percakapannya dan betapa baik dan penuh kasih sayang pengajarannya. Dari dalam kepenuhan hatinya, mulutnya berbicara; dan sumber cinta kasih yang bersinar dan memenuhi segenap hati sanubarinya itu memancar keluar. Ia selalu asyik dengan Yesus: Yesus di dalam hatinya, Yesus di dalam mulutnya, Yesus di dalam telinganya, Yesus di dalam matanya, Yesus di dalam tangannya, Yesus di dalam anggota-anggotanya yang lain. – Berapa kali saja, kalau ia duduk pada meja makan, dan mendengar atau menyebut atau memikirkan Yesus, ia lalu lupa makanan jasmaniah, seperti yang terbaca tentang orang kudus: “Ia melihat namun tidak melihat; ia mendengar namun tidak mendengar.” Bahkan lebih dari itu! Sering kali kalau ia di tengah perjalanan berpikir atau bernyanyi tentang Yesus, ia lupa bahwa ia sedang dalam perjalanan. Lalu ia berhenti dan mengajak segala umur untuk memuji Yesus.[110] Dan karena dalam cinta kasihnya yang menakjubkan ia selalu mendukung dan menyimpan Yesus yang tersalib di dalam hatinya, maka di atas semua orang, ia ditandai secara amat mulia dengan tanda-Nya. Di dalam keadaan ekstase ia pun boleh memandang Yesus, yang duduk di dalam kemuliaan yang tak terperikan dan tak terselami – Disebelah kanan Bapa; Dia yang hidup dan bertakhta sebagai Putera yang mahatinggi dan sederajat, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, yang berjaya dan memerintah sebagai Allah yang mulia abdi sepanjang segala masa. Amin.

Pasal X. Ratapan para wanita di San Damiano; dan bagaimana ia dimakamkan dengan penuh kehormatan dan kemuliaan

116. Adapun saudara-saudara dan putera-puteranya, yang berkumpul dengan rakyat banyak sekali, yang datang dari kota-kota tetangga dan bersukacita boleh mengikuti upacara meriah itu, menghabiskan seluruh malam wafatnya bapak suci dengan pujian kepada Allah, sehingga karena sorak-sorai riang gembira dan karena terang benderangnya obor-obor orang mengira para malaikat berjaga. Pagi-pagi benar, seisi kota Asisi-bersama dengan segenap rohaniwan datang pula. Mereka mengambil jenazah suci dari tempat kematiannya dan mengusungnya ke kota, diiringi dengan madah dan pujian serta tiupan nafiri. Masing-masing mengambil ranting pohon zaitun atau pohon lain dan mengikuti iring-iringan jenazah dengan meriah. Obor-obor semakin banyak; dengan suara nyaring mereka menyanyikan lagu pujian. – Nah, para putera mengusung bapak mereka, kawanan mengiring gembala mereka, yang bergegas-gegas pergi kepada Gembala sekalian orang. Ketika mereka sampai ke tempat hamba Allah dahulu mendirikan persekutuan dan ordo para perawan suci dan wanita miskin, maka jenazah disemayamkan di gereja San Damiano, tempat tinggal puteri-puteri tersebut yang telah diperolehnya bagi Tuhan. Maka dibukalah jendela kecil, lewat mana biasanya para abdi Kristus menyambut sakramen Tubuh Tuhan pada waktu-waktu tertentu. Dibuka pula peti tempat harta keutamaan itu diletakkan. Dahulu ia biasa menanggung beban banyak orang; kini ia diusung oleh beberapa orang saja.

Maka tampak pula tuan puteri Klara, yang sungguh cemerlang karena kesucian dan pahala-pahalanya, ibu yang pertama-tama dari perawan-perawan lainnya, sebab ia adalah tanaman pertama ordo suci itu; ia datang bersama dengan puteri-puteri lainnya untuk melihat bapak, yang tidak lagi akan berbicara kepada mereka dan tidak akan kembali lagi kepada mereka, karena ia bergegas-gegas pergi ke tempat lain.

117. Mereka mengeluh dan mengesah dengan kesedihan hati yang besar dan memandangnya dengan banyak cucuran air mata dan mulai berseru dengan suara tertahan: “Bapak, ah bapak, bagaimana selanjutnya dengan kami? Mengapa bapak meninggalkan kami yang papa ini? Atau kepada siapa kami bapak serahkan dalam kesunyian kami ini? Mengapa kami tidak bapak kirim lebih daulu ke tempat bapak pergi, niscaya kami akan pergi dengan sukacita, tetapi sekarang kami bapak lepaskan penuh kesedihan? Bapak menyuruh apa kepada kami untuk kami melakukan, kami yang terkurung di dalam penjara ini dan yang selanjutnya tidak akan bapakkunjungi lagi, sebagaimana biasanya bapak lakukan? Bersama dengan bapak lenyaplah segala pelipur kami, dan pelipur yang setara tidak tersedia lagi bagi kami yang terkubur bagi dunia ini! Siapa gerangan akan melipur kami di dalam kemiskinan kami akan pahala yang tidak kurang hebatnya daripada kemiskinan akan harta benda? Ah, bapak kaum miskin, pecinta kemiskinan! Siapa gerangan akan menolong kami dalam di dalam godaan! Bapak kan bertahan di dalam godaan yang tak terbilang itu; bapak kan tahu menguji godaan-godaan dengan seksama! Siapa gerangan akan menopang kami di dalam kesesakan, ah penolong di dalam kesesakan, yang teramat menimpa diri kami? O perpisahan yang amat pahit, kepergian yang tergesa-gesa! O maut yang teramat mengerikan, yang merenggut bapak sebaik itu daripada ribuan putera dan puterinya dan oleh karenanya membinasakan mereka! Sebab dengan cara yang tidak dapat ditarik kembali engkau, maut, dengan tergesa-gesa menjauhkan dia, yang olehnya usaha kami, sejauh itu ada, berkembang dengan amat suburnya!” – Namun rasa malu keperawanan mereka tahu mengekang diri untuk meratap terus. Kiranya tidak pantas juga untuk terlampau meratapi dia, yang pada kepergiannya lasykar para malaikat bergegas-gegas menyaksikannya dan para warga kudus serta kaum serumah Allah malah bersukacita. Demikianlah mereka terombang-ambing antara dukacita dan sukacita. Mereka mencium tangannya yang putih menyilaukan dan yang dihiasi dengan permata-permata mulia dan dengan mutiara-mutiara yang berkilau-kilauan. Lalu jenazahnya diusung lagi, dan pintu-pintu pun ditutup kembali bagi mereka dan pintu takkan dibuka-lagi untuk kesedihan sebesar itu. Alangkah besar kesedihan sekalian puterinya dalam seruan mereka yang mengharukan dan penuh iba itu! Alangkah besar lebih-lebih ratapan putera-puteranya yang berdukacita itu. Kesedihan masing-masing adalah kesedihan bersama-sama juga, sehingga hampir tiada seorang pun dapat menahan air matanya, ketika para pewarta damai menangis dengan pahitnya.

118. Ketika akhimya iring-iringan tiba di kota, maka diiringi dengan keriangan besar dan sorak-sorak, jenazah tersuci itu dimakamkan di tempat terberkati,[111] yang oleh karenanya akan lebih terberkati lagi. Di sana ia menerangi dunia akan kemuliaan Allah yang mahatinggi dan mahakuasa, dengan mukzizat baru yang tak terbilang jumlahnya, sebagaimana ia hingga itu meneranginya secara ajaib dengan pewartaannya yang suci. Syukur kepada Allah. Amin.

Nah sekarang, bapak yang amat kudus dan terberkati, bapak kuhormati dengan pujian yang sesuai dan patut, walaupun tidak memadai, dengan sedapat-dapatnya menceriterakan dan menggambarkan perbuatan-perbuatan bapak. Karena itu berilah aku yang malang ini, supaya aku di masa sekarang mengikuti bapak, sehingga aku kelak patut mendapat anugerah menjadi pengikut bapak mulia pula. Ingatlah, bapak yang baik hati, akan putera-putera yang papa, yang sesudah kepergian bapak, pelipur mereka satu-satunya dan iunggal, hampir tidak dapat menemukan pelipur lara lain. Sebab kini bapak – bagian yang terutama dan terbaik dari antara kami, – berada di tengah-tengah kalangan para malaikat dan berdiri dalam barisan para rasul di dekat Takhta kemuliaan. Sedangkan putera-putera masih berbaring dalam lumpur kotoran yang terkurung dalam penjara gelap dan berseru kepada bapak: Tunjuklah Yesus Kristus, Putera Bapa yang Mahatinggi, akan stigmata-Nya yang kudus, dan perlihatkan tanda-tanda salib pada lambung, kaki dan tangan bapak sendiri, supaya Tuhan dalam belaskasihan-Nya sudi memperlihatkan luka-luka-Nya sendiri kepada Bapa, yang oleh karenanya sungguh-sungguh akan berkenan akan kami yang papa ini. Amin.

Demikianlah hendaknya. Demikianlah hendaknya.

Maka berakhiriah jilid kedua ini

JILID KETIGA

Maka dimulailah jilid ketiga tentang kanonisasi bapak kita Santo Fransiskus dan tentang mukzizat-mukzizatnya

A. Kanonisasi St. Fransiskus

119. Adapun bapak termulia St. Fransiskus, yang mengunci awal yang bahagia dengan akhir yang bahagia, telah menyerahkan jiwanya dalam tahun keduapuluh pertobatannya kepada surga dengan amat bahagia. Di sana ia dimahkotai dengan kemuliaan, dan kehormatan, dan memperoleh tempat di tengah-tengah permata-permata yang berkilau-kilauan dan berdiri didekat Takhta Ilahi dan menjadi pembicara yang berhasil bagi mereka yang ditinggalkannya di bumi. Memang, permohonan apa gerangan dapat ditolak kepada dia, yang dengan teraan tanda luka-luka suci padanya memantulkan rupa dari Dia, yang sehakikat dengan Bapa, duduk di sebelah kanan yang Mahaluhur di tempat yang tinggi, cahaya kemuliaan dan gambaran wujud Allah itu, dan yang mengadakan penyucian dosa-dosa?

Bukankah ia akan didengarkan, justru karena ia menjadi serupa dengan Kristus Yesus dalam kemuliaan-Nya karena persekutuan dalam penderitaannya dan memperagakan luka-luka suci pada tangan, kaki dan lambung itu?[112]

Dan memang sungguh, ia sudah menggembirakan seluruh dunia yang diselamatkan dengan sukacita baru dan menyanyikan kemanfaatan keselamatan sejati kepada semua orang. Ia menyinari seluruh dunia dengan cahaya bintang yang benar. Dahulu dunia berdukacita, karena kehadirannya direnggut daripadanya, dan melihat dirinya tenggelam lagi dalam tabir kegelapan karena kepergiannya. Tetapi pada terbitnya cahaya baru, dunia merasa dirinya sudah seperti di tengah hari, diterangi dengan sinar yang lebih terang benderang, yang menghalaukan segala kekelaman. Syukur kepada Allah!

Kini keluh kesah telah lenyap, karena setiap hari diliputi secara bertumpah-ruah dengan sorak-sorai baru di mana-mana oleh karena penyiaran keutamaan-keutamaannya yang suci. Dari timur dan barat, dari selatan dan utara datanglah orang-orang yang mengalami perlindungannya, membuktikan dengan kesaksian yang benar, bahwa memang demikianlah halnya.

Karena itu pun pencinta ulung harta surgawi itu, selagi hidup di dunia, tidak menganggap barang sesuatu pun di dunia sebagai miliknya, agar ia kelak memiliki segala sesuatu dengan lebih lengkap dan dengan lebih riang. Makanya ia diangkat atas segala-galanya, karena ia tidak menjadi pemilik atas sebagian saja; dan ia pun menukar yang bersifat sementara dengan yang bercorak abadi. Di mana-mana ia menolong semua orang dan ia yang pecinta kesatuan itu tidak mengenal pengurangan karena pesertaan dengan orang lain.

120. Selama ia hidup di tengah-tengah para pendosa, ia menjclajahi seluruh bumi dan mewartakan sabda Allah. Kini, karena ia memerintah bersama para malaikat di tempat yang tinggi, ia-terbang sebagai duta Raja yang tertinggi lebih cepat dari pikiran ke seluruh dunia untuk memberikan anugerah-anugerah yang mulia kepada segala bangsa. Karena itu segala bangsa serentak menghormati, meluhurkan, memuliakan dan memuji dia. Memang, semua mendapat bagian dalam kebaikan yang teruntuk semua. Siapa gerangan membilang jumlanya dan siapa gerangan mampu mengatakan macamnya mukzizat-mukzizat yang Tuhan sudi mengerjakannya dengan perantaraannya? – Berapa mukzizat dibuat St. Fransiskus di Perancis saja? Mana boleh raja dan ratu Perancis[113] dan sekalian pembesar bergegas-gegas datang untuk mencium bantal yang telah dipakai St. Fransiskus selama sakitnya? Mana boleh orang-orang arif dan ahli-ahli ternama dari seluruh dunia, yang jumlahnya yang terbesar biasanya dihasilkan oleh Paris, menghormati dengan rendah hati dan bakti , mengagumi dan menjunjung tinggi Fransiskus, orang yang tak terpelajar[114] dan pecinta kesederhanaan sejati dan ketulusan utuh itu? – Dan sungguh tepatlah ia bernama Fransiskus, karena ia lebih dari yang lain-lain mempunyai hati Perancis[115] yang luhur. Sungguh tahulah mereka, yang pernah mengalami kebesaran jiwanya, betapa terus terang dan murah hatinya ia dalam segala-galanya, betapa yakin dan perwiranya ia dalam segala-galanya. Dengan teguh hati dan bersemangat hangat ia menginjak-injak segala keduniawian. – Tetapi mengapa aku mesti menceriterakan tentang negeri-negeri lain di dunia, kalau dengan cawatnya saja penyakit-pehyakit lenyap, kesakitan dan kesukaran mundur, dan kalau orang-orang – pria dan wanita – dengan menyerukan namanya saja, seringkali dibebaskan dari malapetaka?

121. Pun pada makamnya sering terjadi mukzizat-mukzizat baru, dan dengan perantaraannya yang bertubi-tubi diperoleh pula di tempat itu anugerah-anugerah mulia bagi jiwa dan badan. Orang-orang buta dipulihkan penglihatannya, orang-orang tuli diperbaiki pendengarannya, kepada orang-orang lumpuh dikembalikan kemampuan berjalan; orang bisu berbicara lagi, orang sakit pirai melonjak lagi, orang kusta ditahirkan, orang busung air sembuh kembali; dan orang-orang dengan pelbagai penyakit dan cacad memperoleh kesehatan yang diinginkan mereka.[116] Seperti dahulu selagi ia hidup, ia membangkitkan jiwa yang mati menjadi hidup kembali, demikian pun sekarang setelah ia mati, ia menyembuhkan orang yang hidup.

Berita ini didengar dan ditangkap oleh Uskup Roma, uskup yang tertinggi di antara sekalian uskup, pemimpin umat Kristen, pembesar dunia, gembala Gereja, yang terurapi Tuhan, wakil Kristus.[117] Beliau bersukacita dan bergembira,, riang-ria, ketika beliau melihat, bahwa Gereja Allah diperbaharui di zamannya dengan campur-tangan Ilahi yang baru, tetapi menyelamatkan dalam bentuk lama, yaitu dengan mukzizat-mukzizat seperti di masa purba; dan itu pun berkat pekerjaan puteranya, yang boleh dikatakan dikandungnya, dibelainya dalam pangkuan, dipeliharanya dengan susu sabda Allah dan dibesarkannya dengan santapan keselamatan. Itu pun didengar pula oleh pengawas-pengawas Gereja yang lain, oleh para gembala kawanan, para pembela iman, para kawan sang mempelai, yang mendampingi beliau, sendi-sendi dunia, yaitu yang mulia para kardinal. Beliau-beliau itu mengucapkan selamat kepada Gereja, bergembira bersama dengan Sri Paus dan memuliakan Penyelamat, yang dalam kebijaksanaan-Nya yang tertinggi dan tak terkatakan, dalam rahmat-Nya yang tertinggi dan tak terselami, dan dalam kebaikan-Nya yang tertinggi dan tak terbayangkan itu telah memilih orang yang bodoh dan tak terpelajar untuk menarik yang kuat dan besar kepada-Nya. Seluruh dunia mendengar itu dan bertepuk tangan, dan seluruh kerajaan yang setia kepada iman Katolik meluap-luap karena sukacita dan dicurahi hiburan.

122. Tetapi dengan sekonyong-konyong terjadilah perputaran kejadian-kejadian dan sementara itu timbul situasi baru di dunia. Serta merta terganggulah ketenangan damai dan berkobarlah obor kebencian, dan Gereja terkoyak-koyak oleh perang saudara di dalam jantungnya sendiri.

Orang-orang Romawi, banyak yang suka berontak dan keras kepala, seturut kebiasaannya geram kepada tetangga-tetangganya dan menjatuhkan tangan kepada milik Gereja.[118] Sri Paus Gregorius yang ulung itu berusaha membendung kejahatan yang timbul, mengekang kemarahan, meredakan nafsu untuk menyerbu, dan melindungi Gereja Kristus laksana benteng yang diperkuat. Banyak bahaya melanda, banyak bencana menjadi-jadi, dan juga di bagian lain dunia tengkuk dosa-dosa menjulang lawan Allah. Bagaimana sekarang? Dengan menduga masa dengan amat arifnya dan dengan mempertimbangkan situasi masa sekarang, beliau menyerahkan kota Roma kepada para pemberontak,[119] guna melindungi dan membebaskan dunia dari pemberontakan-pemberontakan. Karena itu beliau mula-mula pergi ke kota Rieti, di mana beliau disambut dengan penuh kehormatan sebagaimana patutnya. Kemudian beliau bertolak ke Spoleto[120] dan beliau disambut dengan penuh kehormatan besar pula. Di sana beliau tinggal beberapa hari lamanya, dan setelah mendapat gambaran tentang keadaan Gereja, beliau diiringi para kardinal yang mulia dalam kebaikannrya mengunjungi para abdi Kristus,[121] yang mati dan terkubur bagi dunia. Hidup suci mereka, kemiskinan tertinggi mereka dan tatacara hidup utama mereka mengharukan beliau dan para pengiring sampai mencucurkan air mata, dan mengajak akan peremehan dunia dan menyala-nyalakan hati akan hidup wadat. O kerendahan-hati, pemeliharaan segala rahmat, yang patut dicintai! Pembesar seluruh dunia, pengganti pangeran para rasul sudi mengunjungi wanita-wanita miskin, sudi datang kepada yang hina-dina dan bersahaja dan yang terkurung itu. Walaupun kerendahan itu selaras dengan pandangan sehat beliau, namun kerendahan hati akan teladan itu tidak biasa dan belum pernah disaksikan dalam abad-abad yang lampau.

123. Lalu bergegas-gegas, yah bergegas-gegas beliau pergi ke Asisi,[122] di mana tersimpan bagi beliau harta mulia, yang akan mengenyahkan segala derita dan kegelisahan yang menimpa diri beliau. Pada kedatangan beliau seluruh daerah itu bersorak-sorai, seluruh kota diliputi dengan kegembiraan, rakyat banyak berpesta ria; dan hari yang cerah lebih bercahaya lagi karena obor-obor baru. Semua orang keluar menyongsong beliau dan oleh mereka semua bersama-sama dibentuk pengawal kehormatan. Perserikatan saudara-saudara miskin keluar menyambut beliau dan semua orang melambungkan lagu-lagu merdu untuk yang terurapi Kristus. Wakil Kristus tiba di tempat itu, dan ketika beliau untuk pertama kalinya turun ke makam St. Fransiskus. beliau memberi salam dengan hormat dan sukacita.

Beliau mengesah dalam-dalam, menepuk-nepuk dada, mencucurkan air mata dan diliputi dengan bakti yang beriebih-lebihan beliau menundukkan kepala yang terhormat itu. Sementara itu dilangsungkan pembicaraan resmi tentang kanonisasi sang Santo. Dan dalam kesempatan itu dewan para kardinal yang mulia sering diundang untuk bersidang. Dari segala penjuru datanglah banyak orang, yang telah disembuhkan dari penderitaan dan cacad mereka, dan amat banyak mukzizat menonjol ke muka. Mukzizat-mukzizat itu diuji, dibenarkan, didengarkan dan diterima baik. Tetapi sementara itu urusan-urusan yang penting dan perkara-perkara yang gawat mendesak Sri Paus untuk pergi ke Perugia.[123] Namun karena ada anugerah-anugerah istimewa baru yang berlimpah-limpah, maka untuk urusan yang amat penting itu beliau pergi lagi ke Asisi. Akhirnya beliau-beliau itu berkumpul lagi di Perugia, dan sidang para kardinal yang mulia dilangsungkan di istana Sri Paus. Beliau-beliau telah bersepakat dalam segala-galanya dan semua sampai kepada kesimpulan yang sama. Mukzizat-mukzizat dibacakan dan semua diliputi dengan rasa hormat dan menghargai hidup dan perilaku bapak tersuci dengan pujian yang tertinggi.

124. “Hidup amat tersuci dari pria yang tersuci ini,” demikian keputusan serontak itu, “tidak memeriukan peneguran dengan mukzizat-mukzizat, sebab kami kan telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan boleh dikatakan juga kami telah menjamah itu dengan tangan kami sendiri dan kami pun telah menguji itu dalam cahaya kebenaran.”

Semua riang-ria, bersorak-sorai dan mencucurkan air mata kegembiraan; dan dalam air mata itu terkandung banyak pujian. Bahkan sudah ditetapkan pula hari perayaan, hari seluruh dunia akan diliputi dengan sukacita penuh rahmat. Hari raya ini pun tiba,[124] hari yang patut dikenangkan selama-lamanya. Bukan hanya negeri-negeri di bumi saja, tetapi juga kediaman-kediaman surgawi diliputi dengan kegembiraan yang lebih tinggi. Para uskup diundang, para abas tampak dan para pejabat Gereja dari negeri-negeri yang amat jauh hadir juga. Bahkan seorang raja memberi kehormatan dengan kehadirannya,[125] dan sekelompok besar kaum bangsawan dan kaum terkemuka datang pula. Mereka sekalian mengiringi pembesar selurub dunia dan bersama dengan beliau memasuki kota Asisi dalam perarakan yang meriah. Maka perarakan sampai ke tempat yang telah disiapkanl[126] untuk pertemuan meriah itu. Seluruh kumpulan mulia para kardinal, para uskup dan para abas berhimpun di sekeliling Sri Paus. Di sana ada sekelompok pilihan para imam dan para rohaniwan; segenap himpunan suci dan bahagia para biarawan pun hadir. Ada sekelompok perawan bersahaja yang berkerudung. Di sana ada sejumlah besar orang-orang dari pelbagai bangsa, suatu rombongan besar yang tak terbilang jumlahnya, pria dan wanita. Mereka datang dari mana-mana. Dan orang-orang dari segala umur datang berduyun-duyun dengan keinginan besar untuk mengbadiri peristiwa luar biasa itu. Besar dan kecil ada di sana, hamba dan orang yang dibebaskan oleh tuannya.

125. Di sana berdiri Sri Paus, mempelai Gereja, dikelilingi oleh beraneka ragam putera-putera yang mulia, dengan mahkota kemuliaan yang diberi bertanda salib di atas kepalanya. Di sana beliau berdiri dengan berhiaskan mitra kepausan dan berpakaian pakaian suci, yang disulam dengan benang emas dan bertatahkan ratna mutu manikam. Di sana berdirilah yang terurapi Kristus dalam keindahan kebesaran biji emas, yang ditaburi dengan permata-permata dengan pigura-pigura yang berkilau-kilau dan menarik mata orang-orang. Beliau dikelilingi pata kardinal dan para uskup, yang berhiaskan kalung berkilau-kilauan dan berpakaian pakaian putih mentah yang mengkilap; kesemuanya menggambarkan keelokan surgawi dan mencerminkan suka-cita para kudus telah dipermuliakan. Segenap umat menanti-nantikan suara sukacita, suara gembira, suara penuh segala kemerduan, suara pujian, suara berkah abadi. Pertama-tama Sri Paus Gregorius berkhotbah kepada segenap umat dan beliau mewartakan pujian dan kemuliaan Allah dengan penuh perasaan hati dan kemesraan dan dengan suara nyaring. Juga bapak St. Fransiskus dipuji beliau dengan perkataan yang luhur.

Ketika beliau mengenangkan cara hidupnya dan menyinggung kemurniannya, maka beliau amat terharu dan oleh karenanya basah seluruhnya dengan air mata. Khotbah beliau dimulai sebagai berikut: “Laksana bintang kejora di tengah-tengah awan-gemawan dan bagaikan bulan purnama, seperti matahari yang bersinar di dalam bait Allah.” (bdk. Sir. 50:6-7)

Setelah beliau mengakhiri khotbahnya, yang menyatakan kebenaran dan patut diterima baik oleh semua, lalu salah seorang diakon yang melayani Sri Paus, bernama Oktavianus,[127] membacakan dengan suara nyaring di depan umum mukzizat-mukzizat sang Santo. Dan yang mulia kardinal-diakon Rainerius,[128] yang tajam pikirannya dan yang tersohor karena hidupnya yang saleh dan bajik, membahas dengan panjang lebar dan secara mendalam dalam khotbahnya mukzizat-mukzizat sang Santo, disertai dengan cucuran air mata. Maka gembala Gereja bersukacita dan karena sukacitanya menarik napas panjang dari dalam hati sanubarinya dan mengesah tersedu-sedu bahagia, sementara air matanya memancar turun. Pembesar-pembesar Gereja yang lain pun tidak dapat menahan air mata, yang bercucuran terus hingga pakaian upacara mereka basah karenanya. Akhirnya menangis juga segenap umat, yang amat kelelahan karena dengan penuh ketegangan lama menanti-nantikan apa yang sangat diinginkannya.

126. Lalu Bapa Suci menadahkan tangannya ke surga dan berseru dengan suara lantang: “Akan pujian dan kemuliaan Allah yang Mahakuasa, Bapa dan Putera dan Roh Kudus, serta Perawan Maria yang termulia dan rasul-rasul St. Petrus dan Paulus, dan akan kehormatan Gereja Roma yang termulia, maka kami memaklumkan setelah mendengar pendapat saudara-saudara kami dan para pejabat lain, bahwa bapak tcrsuci Fransiskus, yang telah dimuliakan Allah di surga dan yang kami hormati di bumi, harus dimasukkan dalam daftar para Kudus dan bahwa hari pestanya hendaknya dirayakan pada hari kematiannya.[129] Setelah permakluman itu para kardinal yang termulia bersama dengan Sri Paus mulai menyanyikan “Te Deum laudamus” dengan suara nyaring. Kemudian gegap gempita massa rakyat van amat besar itu menyambut permakluman itu, dan mereka memuji Allah. Bumi menggemakan suara sorak-sorai, udara penuh dengan pekik gembira dan tanah dibasahi dengan air mata sukacita. Madah-madah baru dilambungkan, dan hamba-hamba Allah bersuka-ria dalam kidung-kidung rohani. Bunyi organ terdengar merdu dan kidung-kidung rohani dinyanyikan dengan suara yang selaras. Dupa semerbak harum mewangi dan lagu-lagu riang yang mengharukan hati sekalian orang menggema di tempat itu.

Hari itu cerah dan lebih diwarnai lagi dengan sinar yang berkilau-kilauan. Di situ kelihatan ranting-ranting hijau pohon zaitun dan ranting-ranting segar pohon-pohon lain; Di situ pun nampak orang-orang yang berpakaian pesta, yang membuat semua lebih berseri-seri dan lebih bersemarak.

Berkah dan damai meriangkan hati orang-orang yang berhimpun. Akhirnya Sri Paus yang berbahagia turun dari takhta yang tinggi dan melalui anak tangga bcliau memasuki tempat sucil[130] untuk mempersembahkan doa dan kurban. Beliau rnencium dengan bibir yang gemetar bahagia makam, yang memuat jenazah suci yang dikuduskan kepada Allah. Beliau membaca banyak doa, lalu merayakan misteri kudus. Di keliling beliau berdiri lingkaran saudara-saudara yang meluhurkan, menyembah dan memuji Allah yang Mahakuasa, yang telah membuat hal-hal yang besar di seluruh bumi. Segenap umat bersatu-padu dalam pujian Allah dan akan kemuliaan Tritunggal kudus mereka menyampaikan persembahan syukur kepada St. Fransiskus.

Inilah yang terjadi di kota Asisi dalam tahun kedua[131] pontifikat Paus Gregorius IX pada hari Minggu tanggal 16 Juli.

B. Mukzizat-mukzizat St. Fransiskus.

Dalam Nama Kristus Dimulaiah Mukzizat-Mukzizat Bapak Kita St. Fransiskus

127. Seraya memohon dengan rendah hati rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, kami hendak menceriterakan secara singkat tetapi benar mukzizat-mukzizat, yang seperti telah dikatakan, dibacakan di hadapan Sri Paus Gregorius dan diwartakan kepada umat, dengan maksud untuk membangkitkan perhatian kepada devosi yang patut dianjurkan di masa sekarang dan untuk memperkokoh iman di masa yang akan datang.

I. Perihal penyembuhan orang-orang bercacat

Pada hari jenazah yang terberkati dan tersuci bapak St. Fransiskus dimakamkan sebagai harta yang amat mulia, yang dilumasi lebih dengan wangi-wangian surgawi daripada dengan rempah-rempah duniawi, dihantarlah seorang gadis kecil. Sudah satu tahun lamanya terkilir secara mengerikan dan kepala melekat pada pundaknya. Ia hanya dapat melihat ke atas, kalau kepala miring ke sebelah saja. Ketika ia menaruh sejenak kepalanya pada makam itu bagian bawah, tempat jenazah mulia sang Santo diistirahatkan, maka, berkat pahala orang tersuci itu, segera tegak lurus lehernya dan kepalanya pulih lagi dalam keadaan yang semestinya, sehingga gadis kecil amat terperanjat karena perubahan yang mendadak itu, lalu lari-lari sambil menangis. Namun sebuah lekuk masih nampak di pundaknya, di mana kepala yang terkilir tadinya berada, karena bekas yang diakibatkan oleh cacad yang cukup lama itu.

128. Di dalam wilayah Narni ada seorang anak muda yang tulang keringnya bengkok dan lumpuh, sehingga ia hanya dapat berjalan dengan dua buah tongkat penyangga saja. Ia terpaksa meminta-minta, dan ia sudah bertahun-tahun lamanya bercacad demikian. Ia pun tidak mengenal ayah dan ibu. Berkat pahala bapak kita St. Fransiskus, ia dibebaskan dari cacad tersebut, sehingga ia tanpa tongkat penyangga dapat berjalan ke mana saja dengan leluasa. Maka ia memuji dan memuliakan Allah dan orang kudusNya.

129. Nikolaus, seorang penduduk Foligno, mengerut kaki kirinya dan oleh karena itu ia menderita hebat. Ia telah mengeluarkan banyak biaya untuk dokter guna mendapat kembali kesehatannya semula, sehingga ia banyak hutangnya di luar kemauan dan kemampuannya. Akhimya ketika pertolongan dokter samasekali tidak membawa hasil baginya, dan ia merasa sakit dan nyeri begitu hebatnya, sehingga ia karena mengerang dan mengaduhnya menyebabkan tctangga-tetangga tidak dapat tidur, maka ia bernadar kepada Allah dan St. Fransiskus dan minta diangkut ke makam hamba Allah. Ketika ia semalam-malam berjaga dan berdoa di depan makam sang Santo, maka kakinya menjulur lagi dan dengan keriangan yang amat besar ia pulang ke rumahnya tanpa tongkat.

130. Lagi ada seorang anak remaja, yang kakinya salah tumbuh, sehingga lututnya melekat pada dadanya dan tumitnya pada pantatnya. Ia dihantar ke makam St. Fransiskus. Ayahnya bertapa dengan mengenakan kain bulu kambing dan ibunya memukul dirinya dengan hebat demi untuk anaknya. Anak ini dipulihkan kesehatannya dengan tiba-tiba dan sepenuhnya, sehingga ia sehat kembali dan dapat berjalan dengan riang seraya penuh syukur kepada Allah dan St. Fransiskus.

131. Di kota Fano ada seorang bercacad, yang tulang keringnya penuh puru dan melekat pada pantatnya. Puru-puru itu menebarkan bau mana pun juga busuk, sehingga para perawat bagai tidak mau menerima atau merawat dia di rumah sakit.

Berkat pahala bapak St. Fransiskus, yang diserukan belaskasihannya, ia pun tak lama kemudian bersukacita atas kesembuhannya.

132. Seorang gadis kecil dari Gubbio dengan tangan yang mengerut sudah setahun lamanya tidak dapat menggunakan lagi anggota-anggotanya yang lain. Untuk memperoleh anugerah kesembuhan, ibunya mengangkatnya sambil membawa patung lilin, ke makam bapak St. Fransiskus. Ketika anak itu berada selama delapan hari di sana, maka pada suatu hari segala anggotanya telah dipulihkan penggunaannya, sehingga ia sampai melakukan tugasnya yang dahulu seperti biasa.

133. Seorang anak remaja dari Montenero berbaring selama beberapa hari di depan gerbang gereja, tempat jenazah St. Fransiskus diistirahatkan, karena ia tidak dapat berdiri atau duduk. Mulai dari punggung ke bawah ia kehilangan segala kekuatan dan oleh karena itu tidak dapat menggunakan anggota-anggotanya. Pada suatu hari ia digendong masuk gereja. Ia menjamah makam Bapk St. Fransiskus. Maka ia sembuh dan utuh kembali dan keluar dari situ. Anak itu sendiri menceriterakan: ketika ia berbaring didepan makam Santo yang mulia itu, ada seorang pemuda yang memakai jubah para saudara, berdiri di hadapannya, di atas makam, membawa buab pir di tangannya. Pemuda itu memanggilnya dan memberikan sebuah pir kepadanya dan menganjurkan kepadanya untuk berdiri. Anak itu menerima buah pir dan menjawab: “Lihat, saya kan lumpuh dan sama sekali tidak dapat berdiri.” Lalu buah pir yang diterimanya itu dimakannya, dan tangannya mulai diulurkannya kepada buah pir lain, yang ditawarkan pemuda tersebut. Ketika pemuda itu sekali lagi menganjurkan kepadanya untuk berdiri, maka ia tidak dapat berdiri, karena ia merasa, bahwa ia masih terganggu sakitnya. Tetapi ia lalu mengulurkan tangannya ke buah pir itu, maka pemuda itu memberikan buah pir kepadanya dan memegang tangannya dan membawanya keluar. Anak itu merasa, bahwa ia sudah sembuh dan sehat kembali. Maka ia mulai berteriak dengan suara lantang dan menceriterakan kepada semua orang apa yang terjadi padanya.

134. Seorang wanita dari kampung Cocorano diangkat dengan usungan ke makam bapak yang termulia, sebab tiada anggotanya satu pun, kecuali lidahnya saja, dapat digunakannya. Ketika ia sejenak berada di depan makam pria kudus itu, ia lalu berdiri sembuh sama sekali. – Seorang penduduk Gubbio yang lain mengangkut anak laki-lakinya yang bercacad di dalam keranjang ke makam bapak suci dan menerimanya kembali sembuh dan sehat. Padahal anak itu tadinya begitu salah tumbuh, sehingga kakinya melekat pada pantatnya dan mengering samasekali.

135. Bartolomeus dari kota Narni, orang yang amat miskin dan papa, pada suatu ketika tidur di bawah bayang-bayang pohon not. Ketika ia bangun, ia mendapatkan dirinya begitu lumpuh, sehingga ia tidak dapat pergi ke mana-mana. Sakitnya makin hari makin hebat Tulang keringnya dan kakinya susut, menjadi bengkok dan kering. Tusukan pisau tidak terasa olehnya. Tetapi pencinta sejati kaum miskin dan bapak para papa, St. Fransiskus, pada suatu malam memperlihatkan diri kepadanya dengan penglihatan dalam mimpi dan menyuruh dia pergi ke sebuah pemandian; sebab tergerak hatinya oleh kasihan atas kemalangan sehebat itu, sang Santo hendak membebaskan dia di sana dari sakitnya. Ia bangun dan tidak tahu apa yang mesti diperbuatnya. Lalu diceriterakannya kepada uskup kota itu seluruh jalannya penglihatan. Adapun uskup menasihatkan kepadanya, untuk segera pergi ke pemandian yang ditunjukkan kepadanya, lalu menandai dan memberkati dia. Dengan bersandarkan tongkat ia mulai menyeret dirinya, sejauh ia dapat, menuju ke tempat itu. Sementara ia dengan murung hati terhuyung-buyung menuju ke sana dan keletihan karena kehabisan tenaga, maka didengarnya suara yang berkata kepadanya: “Pergilah dengan damai Tuhan; akulah yang telah berjanji kepadamu.” Ketika ia kemudian mendekati pemandian itu, ia sesat jalan karena hari telah malam. Maka didengatnya suara itu lagi berkata kepadanya, bahwa ia tidak berjalan di jalan yang tepat ke pemandian. Ketika ia sampai ke pemandian dan memasuki pemandian, maka ia merasa ada satu tangan di atas kakinya dan ada tangan lain di atas tulang keringnya, dan menjulurkannya dengan halusnya. Segera ia disembuhkan dan melonjak keluar dari pemandian seraya memuliakan dan memuji kemahakuasaan Pencipta dan St. Fransiskus, hamba-Nya, yang telah memberikan anugerah dan kekuatan sebesar itu kepadanya.

Enam tahun lamanya orang itu lumpuh dan menjadi pengemis, dan lagi ia telah lanjut umurnya.

II. Perihal orang buta yang mendapat penglihatan kembali.

136. Seorang wanita, Sibilia namanya, yang menderita kebutaan pada matanya sudah beberapa tahun lamanya, dibawa dengan sedih hati ke makam hamba Allah. Setelah memperoleh terang matanya kembali seperti semula, ia pulang ke rumahnya dengan sukacita dan gembira.

Seorang buta dari Spello, yang telah lama kehilangan penglihatannya, mendapat itu kembali di depan makam jenazah suci.

Seorang wanita lain dari Camerino tidak dapat melihat sama sekali dengan mata kanannya. Orang tuanya menaruh secarik kertas yang pernah dijamah St. Fransiskus, di atas matanya yang buta itu seraya bernadar. Maka ia memperoleh kembali terang matanya dan mereka sekalian lalu menyampaikan syukur kepada Allah dan St. Fransiskus atas anugerah itu.

Demikianpun terjadi dengan seorang wanita dari Gubbio. Ia pun bernadar dan bersukacita karena mendapat kembali terang matanya seperti semula.

Seorang penduduk kota Asisi kehilangan terang matanya sejak lima tahun. Karena ia selagi St. Fransiskus hidup, menjadi teman baiknya, maka tiap-tiap kali ia berdoa ia mengingatkan hamba Allah akan persahabatannya yang dahulu. Ketika ia menjamah makamnya, ia disembuhkan.

Seorang dari Narni bernama Albertinus kira-kira setahun lamanya kehilangan terang matanya sepenuhnya; kelopak matanya bergantungan sampai ke pipinya. Ia bernadar kepada St. Fransiskus dan memperoleh kembali terang matanya, lalu segera ia bersiap-siap untuk berziarah ke makamnya; dan memang ia sungguh-sungguh ke sana.

III. Perihal orang-orang yang kerasukan setan.

137. Di kota Foligno hidup seorang pria bernama Petruo. Pada suatu ketika ia mengadakan ziarah ke gereja malaikat agung St. Mikhael, entah sebagai suatu nadar entah sebagai laku tapa yang dibebankan atas dosa-dosanya. Di tengah perjalanan ia beristirahat di dekat sebuah mata air. Ia kelelahan karena perjalanan itu dan haus. Maka ia mencicipi air dari mata air tersebut. Rasanya seakan-akan bersama dengan air itu ia menyedot setan juga. Demikianlah ia tiga tahun lamanya kerasukan setan dan melakukan hal-hal yang mengerikan untuk dilihat dan yang mengejikan untuk diceriterakan. Ketika ia juga sampai ke makam bapak tersuci, maka setan-setan mengamuk dan mengentak-entakkan dia dengan amat kejamnya. Tetapi dengan menjamah makam hamba Allah ia dibebaskan secara ajaib dengan mukzizat yang jelas kelihatan dan kentara.

138. Seorang wanita di kota Narni dihinggapi kemarahan amat besar dan karena ia kehilangan akal, ia melakukan yang seram-seram dan mengatakan yang tidak pantas. Akhirnya St. Fransiskus menampakkan diri kepadanya dalam suatu penglihatan: “Buatlah tanda salib.” Sahutnya: “Saya tidak dapat.” Maka sang Santo menekankan tanda salib di atas dahinya dan mengenyahkan sakit gila dan bayangan setan daripadanya.

Banyak juga pria dan wanita yang diganggu dengan pelbagai macam siksaan setan dan diperdayakan dengan tipu muslihatnya, berkat pahala mulia bapak yang termulia direnggut dari kekuasaan setan.

Tetapi karena orang-orang semacam itu biasanya sering terjerat tipu-daya dan kebohongan, maka tentang hal-hal itu hanya kami uraikan secara singkat saja. Baiklah kami beralih kepada mukziz-at-mukzizat yang lebih besar.

IV. Perihal penyembuhan orang-orang yang sakit parah, orang yang sakit busung air, orang yang sakit lumpuh, orang yang sakit encok dan orang-orang sakit lainnya.

139. Seorang kanak-kanak bernama Mateus dari kota Todi berbaring, seakan-akan mati di tempat tidurnya selama delapan hari. Mulutnya tertutup kaku, terang matanya hilang. Kulit muka, tangan dan kakinya hitam legam seperti periuk. Semua tidak berharap lagi akan keselamatan hidupnya. Tetapi atas nadar ibunya ia sembuh kembali secara ajaib dengan amat cepatnya. Kanak-kanak itu memuntahkan gumpalan darah kehitam-hitaman dari mulutnya begitu hebatnya, sehingga orang mengira ia kan memuntahkan isi perutnya juga. Tetapi segera ibunya berlutut dan dengan rendah hati menyerukan nama St. Fransiskus. Sementara ibunya berdiri lagi dari doanya, kanak-kanak itu mulai membuka matanya dan dapat melihat lagi dan menetek pada ibunya. Dan tidak lama kemudian kulitnya yang hitam mengelopak, dagingnya pulih kembali seperti semula, dan kanak-kanak itu sembuh dan mempunyai kekuatan lagi. Ketika kanak-kanak itu mulai sembuh, ibunya bertanya kepadanya: “Siapakah yang menyembuhkan engkau, nak” Sahutnya menggagap-gagap: “Ciku, Ciku.” Dan ibunya bertanya lagi: “Hamba siapa engkau?” Sahutnya lagi: “Ciku, Ciku.” Ia belum dapat berbicara terang, karena ia masih kecil sekali. Nama St. Fransiskus hanya disebutnya sepotongsepotong saja.

140. Seorang pemuda jatuh dari tempat yang amat tinggi dan tidak dapat berbicara lagi dan tidak dapat menggerakkan anggota-anggotanya juga.

Dalam tempo tiga hari ia tidak makan dan tidak minum dan tidak merasa apa-apa lagi. Orang mengira ia sudah mati. Tetapi ibunya tidak mencari pertolongan dokter satupun, melainkan memohon kesembuhannya kepada St. Fransiskus. Maka setelah bernadar, ibunya menerima dia hidup dan pulih kembali dan mulai memuji kemahakua:saan Penyelamat.

Seorang pemuda lain, Mancinus namanya, sakit parah sekali hingga nyaris mati. Semua orang tidak berharap lagi akan kesembuhannya. Namun sejauh ia dapat, ia menyerukan nama St. Fransiskus, dan ia mendapat kesembuhannya kcmbali dengan tiba-tiba.

Seorang dari Arezzo, Walter namanya, sakit demam terus-menerus, dan lagi mempunyai dua abses. Semua sudah tidak memberikan harapan lagi. Namun atas nadar yang dinyatakan orangtuanya kepada St. Fransiskus, anak itu dipulihkan kesehatannya, yang sangat diinginkan.

Dari seorang anak yang telah mendekati ajalnya, dibuat patung lilin; sebelum patung itu selesai, ia tiba-tiba dibebaskan dari segala penderitaan.

141. Seorang wanita, yang bertahun-tahun-lamanya sakit dan berbaring di tempat tidurnya, tidak dapat berbalik atau bergerak sedikitpun. Ia bernadar kepada Allah dan St. Fransiskus, maka ia dibebaskan dari segala sakitnya dan dapat memenuhi kewajibannya sesehari lagi.

Di Narni hidup seorang wanita, yang delapan tahun lamanya tangannya mengering, sehingga ia tidak dapat mengerjakan apa-apa dengan tangan itu. Akhirnya bapak St. Fransiskus menampakkan diri kepadanya dalam suatu penglihatan. Hamba Allah menjulurkan tangan itu dan membuat tangan itu mampu bekerja lagi tangan yang lain.

Seorang pemuda dari kota yang sama berbaring sepuluh tahun lamanya karena sakit yang berat sekali. Seluruh tubuhnya membengkak, sehingga ia tidak dapat menahan obat satupun. Berkat pahala St. Fransiskus maka atas nadar ibunya ia segera dapat menikmati kesehatannya lagi.

Di kota Fano ada seorang yang menderita busung air. Anggota-anggotanya membengkak secara mengerikan. Berkat St. Fransiskus ia patut disembuhkan sepenuhnya dari penyakit itu.

Seorang penduduk kota Todi menderita sakit encok pada sendi-sendinya begitu hebatnya, sehingga ia tidak dapat duduk dan tidak dapat beristirahat. Penderitaan yang hebat itu menyebabkan ia merasa kedinginan terus-menerus, sehingga rasa-rasanya tenggelam sepenuhnya dalam ketiadaan. Maka dipanggilnya dokter, diperlipatgandakannya mandinya dan digunakannya banyak obat, namun tiada obat satupun dari antara obat-obat itu dapat meringankan penderitaannya. Pada suatu hari ia bemadar di depan umum, agar St. Fransiskus sudi mengembalikan kesehatannya semula kepadanya. Maka ketika ia menyampaikan doanya kepada St. Fransiskus, segera dilihatnya, bahwa kesehatannya semula diperolehnya kembali.

142. Seorang wanita, yang berbaring karena sakit lumpuh di Gubbio, setelah tiga kali menyerukan nama St. Fransiskus, dilepaskan dan disembuhkan dari penyakitnya.

Seorang pria bemama Bontadosus menderita kenyerian berat pada tangan dan kakinya, sehingga ia tidak dapat bergerak; dan tidur miringpun ia tidak dapat. Ia telah kehilangan selera makan dan tidak dapat tidur. Pada suatu hari datanglah seorang wanita, yang menasihatkan dan menyarankan kepadanya, untuk bernadar dengan bakti kepada St. Fransiskus, jika ia mau cepat-cepat dibebaskan dari penderitaannya. Tetapi pria itu menjawab teramat pedih penderitaannya: “Aku tidak percaya, bahwa ia orang kudus.” Ketika wanita itu mendesak terus dengan sarannya untuk membuat nadarnya akhirnya pria itu bernadar sebagai berikut: “Aku bernadar kepada .St. Fransiskus,” katanya, “dan aku percaya bahwa ia orang kudus jika aku dalam tempo tiga hari dibebaskan dari penderitaan ini.” Segera ia disembuhkan berkat pahala hamba Allah yang suci. Ia dapat berjalan, makan dan tidur; maka ia memuliakan Allah yang mahakuasa.

143. Seorang pria terluka berat pada kepalanya kena anak panah besi. Karena anak panah menembusi lekuk mata dan tertancap di kepalanya, maka tiada dokter satupun dapat menolongnya. Lalu ia bemadar dan memohon dengan rendah hati kepada St. Fransiskus, hamba Allah itu seraya berharap akan dapat disembuhkan dengan perantaraannya. Ketika ia beristirahat dan tidur sejenak, maka St. Fransiskus berkata kepadanya dalam mimpi, bahwa anak panah itu harus dikeluarkan lewat bagian belakang kepalanya. Maka keesokan harinya ia melakukan itu sebagaimana dilihatnya dalam mimpi. Dan tanpa banyak kesukaran ia dibebaskan dari padanya.

144. Seorang pria di kampung Spello bemama Imperator dua tahun lamanya rnenderita burut yang berat, hingga segala isi perutnya keluar lewat perut bagian bawah. Ia tidak dapat mengembalikannya tetap ke tempat semula, sehingga ia terpaksa memakai emban burut, yang menahan isi perutnya ke dalam. Ia pergi minta pertolongan dokter. Tetapi dokter menuntut biaya yang terlampau tinggi baginya. Pada hal biaya dan penghidupan satu hari tidak ada padanya. Maka ia tidak mempunyai harapan lagi untuk mendapat pertolongan dokter. Akhimya ia berpaling kepada pertolongan Ilahi dan mulai menyerukan nama St. Fransiskus dengan rendah hati di jalan, di rumah dan di manapun ia berada. Maka terjadilah, bahwa dalam tempo yang singkat berkat rahmat Allah dan pahala St. Fransiskus ia dipulihkan kesehatannya seutuhnya.

145. Seorang saudara di Mark Ankona, yang berada di bawah ketaatan ordo kita, mempunyai bisul buluh di bagian iga atau pinggangnya, sehingga ia melepaskan harapan akan pengobatan dari pihak dokter, karena penyakitnya telah menyebar. Ia lalu minta izin kepada ministernya, yang membawahinya demi ketaatan, untuk pergi berziarah ke tempat jenazah bapak tersuci diistirahatkan, sebab ia menaruh kepercayaan, ia akan memperoleh anugerah kesembuhan berkat pahala sang Santo. Tetapi ministernya melarang ia pergi, karena dia ragu-ragu, kalau-kalau karena salju dan hujan lebat yang jatuh di musim itu dan karena perjalanan yang meletihkan saudara itu malah akan menderita lebih berat lagi. Saudara itu agak gelisah tidak mendapat izin. Maka pada suatu malam bapak St. Fransiskus berdiri di sampingnya dan berkata: “Nak, janganlah cemas hati lagi untuk selanjutnya, tetapi tanggalkanlah baju kulit yang kau pakai itu dari padamu, dan buanglah perekat serta pembalut di atasnya, tepatilah anggaran dasar dan engkau akan disembuhkan. Ketika ia pagi-pagi benar bangun, ia melakukan semuanya seturut perintah sang Santo, dan segera ia disembuhkan. Ia lalu bersyukur kepada Allah.

V. Perihal penyembuhan orang-orang kusta

146. Di San Severino di Mark Ankona ada seorang pemuda bernama Akto, yang seluruh tubuhnya dijangkiti kusta. Seturut pendapat dokter, ia harus dipandang sekalian orang sebagai orang kusta. Semua anggotanya membengkak dan membesar, pembuluh-pembuluhnya melebar dan mengembung dan dia pun sadar, bahwa semuanya kelihatan tidak bisa dan mengejikan. Si papa tidak dapat berjalan dan harus berbaring terus di tempat tidur. Ia mendatangkan kesusahan dan kesedihan kepada orangtuanya. Lebih-lebih ayahnya setiap hari dilanda kesedihan karenanya dan tidak tahu apa yang mesti diperbuatnya. Akhirnya timbul pikiran dalam hatinya untuk membaktikan anaknya sepenuhnya kepada St. Fransiskus dan ia berkata kepada anak-nya: “Nak, maukah engkau membaktikan dirimu kepada St. Fransiskus yang menonjol di mana-mana karena banyak mukzizat, agar engkau jika berkenan padanya, disembuhkan dari sakitmu?” Sahutnya: “Mau, pak.” Segera ayahnya menyuruh ambil kertas, dan setelah mengukur perawakan anaknya seturut panjang dan lebarnya, lalu katanya: “Duduklah, nak, dan baktikanlah dirimu kepada St. Fransiskus. Dan bilamana kau disembuhkan, maka hantarkanlah setiap tahun, selama engkau hidup, lilin yang sepanjang engkau kepadanya.” Atas perintah ayahnya si pemuda lalu sejauh ia dapat duduk, dan mengatupkan tangannya dan mulai memohon belaskasihan St. Fransiskus dengan rendah hati. Ketika ia kemudian menerima kertas dengan ukuran badannya dan menyudahi doanya maka pada saat itu juga ia disembuhkan dari kustanya. Ia lalu berdiri, memuliakan Allah dan St. Fransiskus dan mulai berjalan.

Di kota Fano ada seorang pemuda, bernama Bonushomo, yang oleh semua dokter dipandang lumpuh dan kusta. Oleh orangtuanya ia dipersembahkan dengan bakti kepada St. Fransiskus. Ia ditahirkan dari kustanya; lumpuhnyapun lenyap. Dan ia memperoleh sepenuhnya kesehatannya kembali.

VI. Orang bisu berbicara, orang tuli mendengar

147. Di Citta delta Pieva ada seorang anak pengemis miskin, yang sejak lahirnya bisu dan tuli sepenuhnya. Ia mempunyai lidah yang begitu kecil dan pendek, sehingga oleh orang-orang yang berkali menyelidikinya tampak lidah terpotong seluruhnya. Pada suatu malam ia datang ke rumah seorang pria dari tempat yang sama, bernama Markus, dan memohon kepadanya, dengan isyarat seperti biasanya diperbuat orang bisu, untuk bermalam di situ. Ia menelengkan kepalanya, menaruh tangan di bawah pipinya, untuk memberitahukan kepadanya, bahwa malam itu ia ingin bermalam di rumahnya. Orang itu menerimanya dengan suka hati, dan menahannya dengan senang hati di rumahnya. Sebab anak itu pandai melayani dengan baik dan lagi baik wataknya. Meskipun ia bisu-tuli sejak buaian, namun dengan isyarat ia mengerti setiap perintah. Ketika orang itu pada suatu malam makan bersama dengan isterinya, sementara anak itu berdiri di depan mereka, maka orang itu berkata kepada isterinya: “Pastilah akan kupandang sebagai mukzizat yang besar sekali, sekiranya St. Fransiskus sudi memberikan pendengaran dan kemampuan berbicara kepada anak ini.

148. Maka sambungnya: “Aku berjanji kepada Tuhan Allah, jika St. Fransiskus sudi membuat mukzizat, maka demi cintakasihnya anak ini akan amat tersayang bagiku, dan aku akan memeliharanya sepanjang hidupnya.

Sungguh ajaib! Janji baru saja diucapkan, segera anak itu berbicara, katanya: “St. Fransiskus masih hidup!” Lalu anak itu melihat ke atas dan berkata lagi: “Saya melihat St. Fransiskus berdiri di atas sana, dan ia telah datang untuk memberi saya kemampuan berbicara.” Sambung anak itu: “Apa gerangan harus saya katakan kepada orang-orang?” Jawab orang itu kepadanya: “Engkau harus memuji Allah, maka engkau akan menjadi keselamatan bagi banyak orang.”

Akhirnya orang itu berdiri dengan sukacita dan gembira sekali dan menyiarkan kepada semua orang apa yang terjadi. Maka berduyun-duyun datanglah semua orang, yang pernah melihat anak itu bisu; dan mereka sekalian diliputi dengan keheranan dan ketakjuban. Dengan rendah hati mereka memuji Allah dan St. Fransiskus. Lidah anak itu tumbuh sehingga mampu berbicara. Dan sejak itu anak itu mulai mengucapkan kata-kata serba teratur, seakan-akan ia sudah selamanya berbicara dengan baik.

149. Seorang anak yang lain, bernama Villa, tidak dapat berbicara dan tidak dapat berjalan. Untuk dia ibunya membuat patung lilin guna memenuhi suatu nadar; lalu dibawanya dengan penuh hormat ke tempat bapak St. Fransiskus diistirahatkan. Ketika ibunya tiba kembali di rumah, maka didapatinya anaknya berjalan dan berbicara.

Seorang pria dari diosis Perugia telah kehilangan kemampuannya berbicara. Mulutnya selalu terbuka, menguap-nguap secara mengerikan dan amat gelisah karena kerongkongannya membengkak dan menggembung seluruhnya. Ketika ia tiba di tempat jenazah suci diistirahatkan dan menginjak anak tangga hendak menjamaah makamnya, maka ia memuntahkan banyak darah. Lalu ia disembuhkan sama sekali. Ia dapat berbicara lagi dan dapat menutup dan membuka mulutnya sebagaimana mestinya.

150. Seorang wanita menderita sakit kerongkongan begitu hebatnya, sehingga lidahnya, karena demam yang tinggi, melekat pada langit-langit dan sungguh-sungguh mengering. Ia tidak dapat berbicara, tidak dapat makan dan tidak dapat minum. Orang telah menaruh perekat menggunakan obat-obatan, namun kendati semuanya itu, ia tidak merasa adanya keringanan sedikitpun dalam penderitaannya. Akhimya dalam hatinya – karena ia tidak dapat berbicara, – ia membaktikan diri kepada St. Fransiskus. Dan seketika itu juga gumpalan daging pecah dan dari kerongkongan keluarlah batu kecil bundar, yang lalu dipegang dalam tangannya dan diperlihatkannya kepada semua orang. Dan segera ia sembuh.

Di kampung Greccio ada seorang pemuda yang kehilangan pendengaran, ingatan dan kemampuan berbicara. Dan lagi iapun kehilangan akal dan segala rasa. Adapun orangtuanya, yang menaruh kepercayaan besar kepada St. Fransiskus membaktikan pemuda tersebut dengan rendah hati dan bakti kepada sang Santo. Setelah nadar dipenuhi, maka berkat bapak St. Fransiskus yang mulia, ia memperoleh kembali penggunaan segala indera yang hilang, dengan berlimpah-hmpah.

Akan pujian, kemuliaan dan kehormatan Yesus Kristus, Tuhan kita, yang kerajaan dan pemerintahan-Nya teguh dan tak tergoyah tetap ada selama-lamanya. Amin.

Tamat

Kata penutup

151. Kami telah menyajikan beberapa buah saja dari antara mukzizat-mukzizat bapak kita St. Fransiskus dan melewati lebih banyak lagi.

Terserah kepada mereka yang hendak mengikuti jejaknya, untuk berjerih-payah menyelidiki anugerah berkah-berkah baru, agar ia yang dengan perkataan dan teladan, dengan hidup dan ajarannya memperbaharui seluruh dunia dengan amat mulia, sudi mencurahi jiwa-jiwa yang mencintai nama Tuhan, dengan hujan anugera-anugerah surgawi yang baru.

Demi cintakasih yang Tersalib yang miskin dan demi stigmata-Nya yang kudus, aku mohon dengan sangat kepada semua, yang membaca, melihat dan mendengar buku ini, agar di hadapan Allah ingat pula akan aku, orang yang berdosa dan papa ini. Amin.

Pujian dan hormat dan segala keluhuran hendaknya kepada satu-satunya Allah yang bijaksana, yang akan kemuliaan-Nya selalu dalam kemahabijaksanaan-Nya mengerjakan segala-galanya dalam semua. Amin. Amin. Amin.[132]


[1] Gregorius IX sebelumnya adalah Kardinal Hugolinus, Graf de Segni. Ia diangkat oleh pamannya, Paus Innocentius III menjadi kardinal-diakon tahun 1198; kemudian menjadi kardinal-uskup Ostia dan Velletri tahun 1206; sejak tahun 1220 menjadi Kardinal Pelindung yang pertama Ordo Saudara Dina; dipilih menjadi Paus 19 Maret 1227 dan wafat 22 Agustus 1241 di Roma.

[2] Kemurnian (puritas), murni: lepas dari segala keduniawian dan bebas dari si aku, dan oleh karenanya seluruhnya terarah tanpa syarat kepada Allah. Lihat: Wejangan St. Fransiskus, hal. 95 – 97.

[3] Lembah Spoleto membentang dari Spoleto lewat Foligno, sampai ke lereng-lereng Perugia; Asisi terletak di lembah itu.

[4] Orang mendapat kesan bahwa Celano, dengan gambaran hitam putih, mau menimbulkan kontras sebesar-besarnya antara masa sebelum dan masa sesudah pertobatan Fransiskus. Karena itu gambarannya mengenai masamuda Fransiskus agak suram. Gambaran 2 Celano pasal I – III dan Kisah Ketiga Sahabat no. 2.3. tidak seburuk itu.

[5] Pertempuran antara Asisi dan Perugia dilewati, juga penjara (bdk. 2 Cel. 4). Dalam th. 1203 Fransiskus kembali dari tawanan dan jatuh sakit agak lama; baru dalam th. 1204 ia sembuh.

[6] Nama bangsawan itu tidak diketahui. Bersama dengan dia, St. Fransiskus hendak bergabung dengan graf Gentile, dengan maksud untuk mendapat pelantikan sebagai satria di Apulia, di Italia Selatan.

[7] Sejak th. 1202 Walter dari Brienne bertempur melawan pasukan kaisar di bawah pimpinan Markwart von Anveiler. Perjalanan yang hendak diadakan ke Apulia, tetapi tidak jadi, beriangsung dalam th. 1205.

[8] Foligno terletak sekitar 14 Km di sebelah Asisi.

[9] San Damiano, sekitar 1 Km di sebelah selatan kota, di lereng bukit.

[10] Ayah duniawi, boleh berarti ayah kandung, mungkin pula berarti ayah yang bersemangat duniawi, yang hanya mengarah kepada keduniawian saja dan oleh karenanya menentang kebaikan. Lihat:.Wejangan St. Fransiskus, hal. 97 – 106 dan 106 – 110.

[11] Uskup Guido II (1204 – 30 Juli 1228)

[12] Kalimat ini kutipan dari homili St. Gregorius Agung. Artinya: Fransiskus menanggalkan segala pakaiannya, pun cawatnya – pengosongan diri sepenuhnya, – sehingga ia, telanjang dari segala keduniawian, lebih sanggup berperang-tanding melawan setan, – musuh tak-duniawi (yang telanjang), – yang tidak dapat menemukan apa-apa yang bersifat duniawi pada Fransiskus. St. Bonaventura menggunakan ungkapan yano sama tetapi memberikan tafsir lain dalam Legenda Maior: “Demikianlah hamba Raja yang Mahatinggi itu dibiarkan telanjang untuk mengikuti Tuhan di salib yang telanjang” (II:4).

[13] Tiap-tiap kali Fransiskus merasakan sukacita batin dan rohani yang luar biasa, ia berbicara atau bemyanyi dalam bahasa Perancis.

[14] Wasiat, no. 1.

[15] Akhir April atau awal Mei 1212 S. Klara serta adiknya, St. Agnes, pindah ke San Damiano. Pada hari Minggu Palem tahun itu juga Klara mengikuti langkah Fransiskus.

[16] Ini kesaksian pertama Celano, bahwa persekutuan saudara-saudara sejak semula telah dinamakan ordo.

[17] Paus Gregorius IX, dahulu kardinal Hugolinus, bersahabat baik dengan St. Fransiskus maupun St. Klara. (Lihat catatan no. 1 pada Pengantar).

[18] Gereja kecil St. Petrus, kira-kira 3 km. di sebelah Tenggara kota Asisi. (Lihat: Bonaventura, Kisah Panjang 11:7).

[19] Gereja kecil ini letaknya sekitat 2 km di sebelah barat daya kota Asisi, di lembah. Kini, gereja kecil yang asli dilingkupi dengan kubah besar dan gereja basilik. Di zaman Fransiskus, gereja kecil ini dikelilingi hutan. Adapun kapel itu milik para rahib Benediktin di Monte Subasio, tetapi tidak dipakai lagi.

[20] Pesta Rasul Matias, 24 Pebr. 1209 (atau 1208).

[21] Teks pengutusan para rasul ialah Mt. 10,7-12; Mk. 6,7-12; Lk. 9,1-6 dan pengutusan para murid Lk. 10,1-16, dalam pasal ini dicampur-adukkan.

[22] “Pertobatan” adalah gagasan pusat spritualitas Fransiskus dan sama artinya dengan “metanoia” Perjanjian Baru. Lihat wejangan St. Fransiskus, hal. 98 – 100.

[23] Yaitu huruf Yunani “Tau”, jika lengan jubah dibentangkan; dan bentuk salib penuh, jika di samping itu kap dipakai di atas kepala.

[24] Gereja San Giorgio, kini merupakan sebagian dari basilik dan biara St. Chiara, yang dibangun antara th 1255-1260. St. Klara dimakamkan di gereja ini; St. Fransiskus diistirahatkan di sini antara tahun 1226-1230

[25] Tidak diketahui namanya; boleh jadi salah tafsir oleh Celano.

[26] Bemardus dari Quintavalle, seorang bangsawan kaya dan terpandang di Asisi, adalah pengikut yang pertama; meninggal antara th. 1241-1246.

[27] Petrus Gathania seorang ahli hukum yang terpandang di kota Asisi. Ia mengikuti St. Fransiskus ke Timur-Tengah. Sekembalinya dari sana ia diangkat Fransiskus menjadi vikarius atau wakilnya. Belum sampai setahun menjadi vikarius, ia meninggal 10 Maret 1221.

[28] Egidius diterima dalam ordo 21 April 1209 dan meninggal 22 April 1262.

[29] Nama saudara ini tidak diketahui lagi.

[30] Dengan sebutan “si Panjang” (lungo). Dalam jumlah tersebut Fransiskus sudah termasuk.

[31] Mengenai “Jalan Kesederhanaan”. Lihat Wejangan Santo Fransiskus, hl. 104 – 106.

[32] Menurut tradisi, St. Fransiskus menyepi di.Poggio Bustone di lembah Rieti, lk 12 km di sebelah utara kota Rieti.

[33] St. Yakobus di Compostella adalah tempat ziarah yang termasyhur dalam Abad Pertengahan. Letaknya di barat laut Spanyol.

[34] Fransiskus pergi ke lembah Rieti, di musim rontok atau musim dingin 1209.

[35] Duabelas saudara atau sahabat pertama ialah: S. Fransiskus, Bernardus dari Quintavelle, Petrus Cathanii, Egidius, Sabbatinus, Moricus, Yohanes (de Capella), Filipus, Yohanes de San Constantio, Barbarus, .Bernardus de Iuda dan Angelus Tancredi, seorang satria dari Rieti.

[36] Hal itu dinyatakan oleh St. Fransiskus dalam Wasiatnya (no. 4).

[37] Yohanes Letharius, graf de Segni, dipilih di Roma menjadi Paus 8 Jan. 1198 dan wafat di Perugia 16 Juli 1216. Paus Agung dalam abad pertengahan. Dalam pontifikat Paus Innocentius III, dua ordo didirikan, yaitu Ordo para Pengkhotbah.atau Dominikan dan Ordo Saudara Dina.

[38] Kardinal Yohanes Colonna dengan sebutan “dari St. Paulus,” Karena beliau adalah rahib Benediktin di keabasan St. Paulus. Diangkat menjadi kardinal uskup Sabina. Wafat, tahun 1215.

[39] Celano menyinggung ketiga ordo yang didirikan Fransiskus, yakni, Ordo Saudara Dina, Ordo wanita miskin atau Klaris, dan Ordo pentobat untuk kaum awam.

[40] “Saudara-saudara Dina” (Latin: Fratres Minores); Lihat: Anggaran Dasar 1221, Pasal 6 ayat 3 dan Pasal 7 ayat 2.

[41] Rivo Torto terletak sekitar 1% km di sebelah selatan Portiuncula.

[42] Tidak jelas, apakah kaisar Otto IV lewat di situ dalam perjalanan ke Roma atau dari Roma.

[43] Menurut Legenda Antiqua, alasan pindah dari Rivo Torto ialah karena tidak ada kapel di situ.

[44] Yohanes Bonelli dari Florence mengadakan kapitel di Aries. Lihat Bonaventura, Kisah Panjang IV:10.

[45] Monaldus meninggal, dalam tahun 1224, di Arles.

[46] St. Antonius dari Padua, meninggal 13 Juni 1231.

[47] Rizzerius berasal. dari Muccia, daerah Piceno; meninggal dalam tahun 1236; dihormati sebagai Beato.

[48] Tempat tinggal saudara-saudara dina untuk sejenak atau waktu lama; pada waktu itu belum ada kediaman tetap atau biara. Ini baru mulai berkembang sejak 1120.

[49] Bernardone adalah nenek Fransiskus, mungkin sekali tidak begitu kaya seperti Pietro, ayah Fransiskus, dan dari keturunan rendah.

[50] Suriah meliputi daerah pantai antara Asia kecil dan Mesir; pelayaran ini terjadi sesudah pertengahan th. 1212.

[51] tepatnya di pantai Dalmatia.

[52] Miramolin = Emir el Mukmin, yang berarti pembesar kaum beriman; nama sebenarnya Sultan Mohamad bin Nasser, yang dipukul mundur dari Spanyol dalam th. 1212. Fransiskus pergi ke Spanyol dalam th. 1213. Ia pemah menjadi Sultan Maroko.

[53] Bernardus dari Quintavelle.

[54] Kembali dari Spanyol dalam th. 1214.

[55] Fransiskus tiba kembali di Portiuncula akhir th. 1214 atau awal 1215. Di antara orang-orang yang diterima Fransiskus dalam ordo dalam th. 1215, termasuk pula Tomas dari Celano, orang yang terpelajar dan mungkin sekali dari keturunan bangsawan.

[56] Fransiskus bertolak sesudah kapitel Pentekosta 1219 (bersama Illuminato) dan sebelum tgl. 29 Agustus sudah sampai ke Damieta.

[57] Sultan Mesir, Melek el Khamel (1218-1239). Para pejuang Perang Salib mengepung kota Damieta sejak 9 Mei 1218. Kekalahan dan kemenangan silih berganti. Pada tanggal 29 Agustus 1219 pejuang-pejuang salib mengalami kekalahan. Tgl 26 September terjadi lagi pertempuran. Dalam waktu penghentian pertempuran Fransiskus menghadap Sri Sultan dalam bulan September 1219.

[58] Kalimat ini menunjuk akan anugerah stigmatisasi.

[59] Tempat tersebut bernama Pian d’Arca, 71/2 km di sebelah selatan Asisi, antara Bevagna dan Cannara.

[60] Greccio, sekitar 12 km di sebelah barat laut kota Rieti, di lereng pegunungan Sabina; atau sekitar 65 km sebelah selatan Asisi.

[61] Sekitar 27 km sebelah barat laut Orvieto.

[62] Yaitu demi cintakasih, dengan mana Tuhan mencintai kita. Artian ini sering terdapat dalam wejangan St. Fransiskus, maupun dalam karangan Celano.

[63] Apa yang dikatakan di sini tentang sdr. Elias sesuai dengan wataknya Yang bermuka dua itu.

[64] Honorius III dipilih menjadi paus tgl. 18 Juli 1216 dan wafat tgl. 18 Maret 1227. Dalam masa pontifikatnya disyahkan Ordo Dominikan dan diteguhkan pula Anggaran dasar definitif Ordo Saudara Dina.

[65] Kardinal Hugolinus menjadi kardinal pelindung yang pertama Ordo Saudara Dina sejak th. 1220.

[66] Celano agak melebih-lebihkan ini.

[67] Kardinal Hugolinus menjadi legat kepausan di Lombardia dan Toscana mulai 23 Januari 1217 sampai 14 September 1219. Tanggal 14 Maret 1221 beliau menjadi legat di sana untuk kedua kalinya. Pertemuannya dengan St. Fransiskus terjadi dalam musim panas th. 1217.

[68] Dalam kapitel Pentekosta di Portiuncula 14 Mei 1217 diputuskan untuk mengirim saudara-saudara ke misi di luar Italia.

[69] Biara klaris St. Salvatore di dekat San Severino lk. 50 km di sebelah barat kota Ankona; sekarang sudah tidak ada lagi.

[70] Kapitel ini berlangsung dalam th. 1224, 1225 atau 1226.

[71] Mazmur 21:7 dengan penuh kasih-sayang Fransiskus memandang cacing yang hidup di tanah dan terliuk-liuk jika disentuh atau diinjak orang; ini menggambarkan Kristus yang terliuk-liuk di salib karena penderitaan-Nya. Aneh bin ajaib, bahwa Fransiskus mengalihkan iba hatinya akan Kristus yang menderita kepada cacing yang hanya merupakan lambang saja. Simbolik Kristus ini berlaku juga terhadap anak domba dan lain-lain.

[72] Di sini Celano menunjuk kepada Gita Sang Surya.

[73] bdk. Gita Sang Surya dan Pujian kepada keutamaan-keutamaan.

[74] 25 Desember 1223.

[75] Di dalam Injil tidak terdapat dua hewan ini. Dua hewan ini baru muncul dalam pertengahan abad ke-4 pada karya-karya para bapak gereja dan dalam seni lukis dan pahat. Sejak abad itu kedua hewan itu terdapat dalam karangan mengenai Natal. Kedua hewan terdapat dalam Perjanjian Lama, Yesaya 1:3 dan Hab. 3:2.17.

[76] Yakni tahun 1224; asal tidak kita hitung menurut tahun penanggalan, tetapi menurut jangka waktu. Tahun pertama sebelum wafatnya berlangsung antara Sept. 1225-Sept. 1226 tahun kedua antara Sept. 1224Sept. 1225.

[77] Fransiskus, menurut cara perhitungan sekarang, wafat tgl 3 Oktober 1226 sesudah matahari’ terbenam; menurut perhitungan dahulu sudah tgl. 4 Oktober, karena hari dimulai jam 6 sore, bukannya tengah malam seperti sekarang.

[78] Yang dimaksud ialah gunung Alverna (= La Verna).

[79] Kebiasaan mencari “pemecahan dengan membuka Kitab suci” terdapat sejak Agustinus dalam kepustakaan rohani sampai ke dalam abad pertengahan. Fransiskus menggunakan kebiasaan ini; tetapi dua hal baik diperhatikan: a) kebiasaan ini agak umum di masa itu; b) hormat besar St. Fransiskkus terhadap Sabda Allah Yang tertulis.

[80] Nubuat Kristus tentang sengsara-Nya: Mt. 20:18-19; Mk. 10:33-34.45; Lk. 18:31-33; Yoh. 3:14-16; 8:28 dan 12:24-36. Kisah sengsara: Mt. pasal 26-27; Mk. ps 14-15; Lukas ps. 22-23 dan Yoh. ps 18-19. Tidak jelas, teks mana yang dimaksudkan Celano.

[81] St. Bonaventura memberikan waktu yang lebih tepat: pada suatu pagi sekitar pesta permuliaan salib, yaitu tgl. 14 September (Bonaventura, Kisah Panjang XIII:3).

[82] Alverna atau La Verna adalah sebuah gunung di perbatasan Toscana di pegunungan Apenina tengah, setinggi 1283 m, termasuk keuskupan Arezzo. Letaknya lk. 27 km dari kota Arezzo. Gunung ini dihadiahkan oleh graf Orlando tgl. 8 Mei 1213.

[83] bdk. I Cel. 112 dan 113.

[84] Rufinus adalah saudara sepupu St. Klara, meninggal dalam tahun 1270.

[85] Sesudah Petrus Cathania meninggal, Elias diangkat St. Fransiskus menjadi vikarius atau wakilnya (bukannya menjadi minister jenderal).

[86] Kuria Romawi berkedudukan di Rieti dari tgl 23 Juni sampai 31 Jan. 1226.

[87] 1 Cel. 73 – 75.

[88] Dilukiskan dalam 1 Cel. 100.

[89] Fransiskus menghadap Sri Paus Honorius di Viterbo, kira-kira dalam bulan Februari atau Maret 1220, yaitu setelah kembali dari Timur Tengah Jan. 1220 dan sebelum kapitel Pentekosta di Asisi 17 Mei 1220.

[90] Dari surat-surat ini tiada satupun yang sampai kepada kita.

[91] Mungkin sdr. Angelus Tancredi, bdk. 1 Cel. 109.

[92] Sdr. Leo, bapak engakuan, sekretaris dan sahabat terpercaya St. Fransiskus.

[93] Saudara Juniperus

[94] Ada yang mengatakan sdr. Yohanes de Laudibus; mungkin pula saudara Maseo, salah satu sahabat karib St. Fransiskus. Maseo meninggal th. 1280.

[95] April 1226, Wasiat Siena disampaikan dalam waktu ini.

[96] Kutipan dari surat edaran sdr. Elias tentang wafat St. Fransiskus.

[97] Berkah meriah untuk sdr. Elias ini hanya disebutkan secara singkat dalam 2 Cel. 216, tanpa nama; malah di sana dikatakan bahwa berkah ini tidak bersifat pribadi, tetapi umum. Sikap Celano terhadap sdr. Elias dalam peredaran waktu telah berubah, karena di kemudian hari sdr. Elias meninggalkan ordo dan kena pengucilan dari pihak Gereja; ia berdamai dengan Gereja sebelum meninggal.

[98] Bdk. 1 Cel. 88.

[99] sdr. Leo dan sdr. Angelus Tancredi (lihat I Cel. 102).

[100] Gita Sang Surya.

[101] Sdr. Elias; beberapa ahli mengatakan: sdr. Bernardus, pengikut Fransiskus, meninggal dalam tahun 1270.

[102] Kutipan surat edaran sdr. Elias.

[103] Tidak jelas siapa yang dimaksudkan: sdr. Elias atau minister provinsi itu.

[104] Upacara waktu ajal dalam abad pertengahan,

[105] Mungkin sekali sdr. Yakob dari Asisi, yang meninggal thn. 1230.

[106] Wafat dan stigmata St. Fransiskus dilukiskan bersandarkan surat edaran sdr. Elias.

[107] Bdk. Yoh. 20,25. Celano menafsirkan surat edaran sdr. Elias.

[108] Para Serafin.

[109] Bersandarkan homili St. Gregorius Agung, Celano menguraikan Yesaya, 6:1-3 dan Ezek. 1:5-14.22-25 secara alegoris.

[110] Menunjuk akan Gita sang Surya. (bandingkan 1 Cel. 80).

[111] St. Fransiskus dimakamkan di Gereja St. Giorgio, sampai jenazahnya dipindahkan ke basilik San Francesco. Tempatnya yang tepat di mana gereja St. Giorgio tidak diketahui lagi.

[112] bdk. 1 Cel. 118

[113] Raja Louis IX, 1226-1270, yang dinyatakan menjadi Santo dalam tahun 1297. Dilahirkan dalam th. 1214. Karena belum cukup usia waktu ayahnya, raja Louis VIII mangkat th. 1226, maka ibunya, St. Blanka, mewakilinya dari tahun 1226 – 1234, maka di sini St. Blanka disebut Ratu.

[114] Menurut keterangan St. Fransiskus dalam wasiatnya 4.

[115] Dalam bahasa latin “Francus” – frank, artinya: bebas, terbuka, jujur, utama, lahir bebas.

[116] Mukzizat-mukzizat ini diceriterakan dalam I Cel. 127-150.

[117] Paus Gregorius IX.

[118] Partai yang didukung kaisar Frederik II lawan Sri Paus 27 Maret 1228.

[119] Paus Gregorius meninggalkan Roma 20 atau 21 April 1228.

[120] Kuria Romawi berkedudukan di Spoleto 25 April – 10 Mei 1228.

[121] Biara suster Klaris di st. Paolo di dekat Spoleto.

[122] Sri Paus tinggal di Asisi 26 Mei – 10 Juni 1228.

[123] Sri Paus tinggal di Perugia 13 Juni – 13 Juli 1228.

[124] Kanonisasi jatuh pada tgl 16 Juli 1228.

[125] Yohanes dari Brienne, raja di Yerusalem seiak tgl. 3 Oktober 1210. Dalam th. 1227 dilantik menjadi kaisar Konstantinopel; mangkat 23 Maret 1237, setelah sebelumnya masuk ordo; dimakamkan di basilik St. Francesco.

[126] Lapangan di depan atau di dekat San Giorgio.

[127] Octavianus Ubaldini, yang dalam th. 11244 menjadi kardinal di masa pontifikat Innocentius IV.

[128] Rainerius Capoc yang diangkat Paus Innocentius II menjadi kardinal, seorang rahib cistercienser.

[129] Bula “Mira Circa Nos.”

[130] Gereja San Giorgio.

[131] Tahun kedua pontifikat berlangsung dari 21 Maret 1228 – 20 Maret 1229. Rupanya Tomas dari Celano menyaksikan kanonisasi itu.

[132] Kodex Paris dari abad ke-13 menambahkan: “Sri Paus Gregorius IX yang berbahagia menerima Legenda ini di Perugia dalam tahun kedua pontifikatnya yang mulia pada tgl. 25 Februari, meneguhkannya dan menentukan untuk tetap diperlihara. Syukur kepada AHah yang Mahakuasa dan Penebus kita atas segala anugerah sekarang dan sepanjang segala masa. Amin.”

Tanggal peneguhan ini ialah 25 Februari 1229. Mungkin sekali tambahan ini diperintahkan Sri Paus sebagai tanda pengesyahan.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: